Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Financial Pilihan

Demam "10yearschallenge", Demam di Bursa Saham

17 Januari 2019   10:09 Diperbarui: 17 Januari 2019   12:48 1968
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber: https://asset.kompas.com

"Iya, dulu gue pernah ganteng."

Demikian sebuah caption yang dibuat oleh seorang teman untuk foto 10yearschallenge-nya. Alih-alih menampilkan foto dirinya sepuluh tahun lalu sebagai pembanding, ia malah menunjukkan foto aktor Korea: Lee Min Ho! Ya, ia mambandingkan foto dirinya dengan pemeran Kim Dam-Ryeong dalam drama Korea The Legend of The Blue Sea tersebut, dan sewaktu saya melihat posting-annya, saya tergelitik.

Harus diakui, beberapa hari belakangan, para netizen, seperti teman saya, memang sedang "demam 10yearschallenge". Ada begitu banyak foto perbandingan yang diunggah ke lini masa media sosial, seperti instagram dan facebook. Makanya, jangan heran, setiap kita menggeser lini masa media sosial, kita akan melihat setidaknya satu posting-an yang bertemakan demikian.

"Demam 10yearschallenge" sepertinya telah "menjangkiti" hampir semua kalangan. Tak hanya warga biasa, sejumlah aktris dan pejabat pun ikut-ikutan menampilkan foto 10yearschallenge-nya. Foto-foto itu pun terkadang disertai caption yang bisa menerbitkan senyum atau bahkan gelak tawa. Sebut saja posting-an yang diunggah di akun instagram Raditya Dika, Andre Taulany, dan Ridwan Kamil berikut.




"Demam 10yearschallenge" sebetulnya bisa dikaji dalam ranah psikologi. Di situ, demam tersebut dikategorikan sebagai social proof alias pengakuan sosial. Seperti namanya, social proof muncul lantaran individu berupaya meniru aktivitas yang dilakukan oleh kelompoknya tanpa disertai dengan alasan yang jelas.

Misal, saat sebuah tren "berembus", seseorang tertarik mengikutinya hanya karena orang lain pun melakukannya. Pengaruh sosial tersebut menjadi sedemikian kuat, sehingga "memaksa" seseorang melakukan hal yang sama.

Perilaku demikian bukanlah hal yang aneh. Kita sering menjumpainya dalam banyak kesempatan. Tak hanya di media sosial, kita dapat melihat situasi serupa di wilayah lain, termasuk di bursa saham.

Maklum, di lantai bursa, kita akan menemui banyak sekali investor yang membeli saham atas pengaruh orang lain. Untuk tipe yang satu ini, bolehlah kita menyebutnya sebagai "investor teman", sebab mayoritas keputusan investasinya dipengaruhi orang lain.

Sebelum membeli saham, "investor teman" umumnya akan mendengar rekomendasi dari teman-temannya atau para analis. Ia merasa nyaman membeli saham yang telah diboyong teman-temannya atau direkomendasikan oleh analis yang dirasa kredibel hanya karena ia mau cari aman. Sebab ia mungkin saja berpikiran, "Kalau teman saya untung, saya juga akan ikut untung, dan demikian juga sebaliknya."

Makanya, "investor teman" enggan mengerjakan "pr"-nya. Baginya, hal itu terlalu rumit dan menyita banyak waktu. Makanya, ia malas memeriksa laporan keuangan perusahaan dan ogah mempertimbangkan aspek fundamental lain, seperti tata kelola yang baik, valuasi harga saham, dan pertumbuhan laba. Kalau ada cara yang mudah, mengapa ia harus menempuh cara yang sulit? Jadi, lebih baik ia ikut teman dalam membeli saham karena itu lebih mudah dilakukan.

Apakah hal itu salah? Tidak juga. Kalau teman yang diikuti memang punya kompetensi memilih saham unggulan, serta memiliki "sejarah" kesuksesan berinvestasi yang hebat, tidak ada salahnya kalau kita mendengar saran darinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun