Adica Wirawan
Adica Wirawan karyawan swasta

Founder of Gerairasa Mempunyai passion yang kuat sebagai seorang pelajar, pengajar, penulis, penyunting, dan praktisi yang terus mengembangkan wawasannya dalam bidang pendidikan, bahasa, kreativitas, grafologi, numerologi, hipnosis, kecerdasan emosi, yoga, bisnis ritel, keorganisasian nonprofit, dan spiritual. Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

"Brand Kuat" Menjamin Harga Saham Melesat?

5 November 2018   10:09 Diperbarui: 5 November 2018   12:16 708 6 2
"Brand Kuat" Menjamin Harga Saham Melesat?
Ilustrasi (Pixabay)

Dalam melakukan investasi, Warren Buffett dikenal sering "membidik" perusahaan-perusahaan yang punya produk dengan merek yang kuat. Baginya, perusahaan itu memiliki "ketahanan kompetitif" yang baik. 

Oleh karena menghasilkan produk-produk yang sulit ditemukan tandingannya, perusahaan tersebut seolah memberi "jaminan" bahwa siapapun yang menanamkan modal kepadanya akan memperoleh keuntungan yang berlipat-lipat pada masa depan.

Makanya, jangan heran kalau kemudian Buffett tidak segan berinvestasi besar-besaran pada beberapa perusahaan yang memiliki produk yang tangguh tersebut. Sebut saja perusahaan kelas dunia, seperti Nike, Coca-Cola, dan Apple, yang sahamnya diborong oleh Buffett

sumber foto: https://www.cygnismedia.com/
sumber foto: https://www.cygnismedia.com/
Buffett menyukai perusahaan-perusahaan semacam itu lantaran selama bertahun-tahun, produk yang mereka ciptakan terus "merajai" pasar. Ibarat pertandingan maraton, produk mereka ialah pelari yang memimpin sendirian di depan, jauh meninggalkan para pesaingnya di belakang.

Jadi, kalau tak ada perubahan yang berarti, bisa diprediksi kalau perusahaan itu akan terus melaju kencang pada masa depan, tanpa takut terkejar oleh yang lain.

Berinvestasi di perusahaan tersebut ialah sebuah keputusan yang baik. Sebab, ia akan terus bertumbuh dari waktu ke waktu. Semakin lama waktunya, semakin besar kapitalisasi pasarnya, semakin tinggi nilai sahamnya.

Makanya, kalau kita ingin punya saham yang terus berkembang nilainya, ikutilah strategi yang diterapkan Buffett. Belilah saham-saham dengan kekuatan merek yang kuat. Niscaya nilainya akan "terbang" tinggi---sangat tinggi bahkan.

Strategi itulah yang kemudian ditiru oleh investor saham lain, termasuk saya pribadi. Makanya, sebelum saya masuk ke pasar, terlebih dulu, saya mencoba mendeteksi perusahaan-perusahaan "tangguh" di Bursa Efek Indonesia. 

Dengan membeli dan memiliki saham di perusahaan yang hebat seperti itu, setidaknya saya bisa merasa aman, lantaran saya sudah "menitipkan" dana saya di perusahaan yang tepat.

Sebetulnya tidaklah sulit menemukan perusahaan demikian. Kita cukup melihat kapitalisasi pasarnya. Perusahaan dengan kapitalisasi pasar di atas 10 triliun bisa disebut punya produk yang sulit tergantikan di pasaran.

Satu di antaranya ialah PT Indofood Sukses Makmur Tbk, yang (saat tulisan ini dibuat) nilai pasarnya menembus 52 triliun rupiah. Indofood yang kode sahamnya INDF dapat "duduk nyaman" sekian lama sebagai "juragan" pasar mie instan terbesar di Indonesia lewat produknya yang "laris" dan "legendaris", yakni Indomie.

Oleh karena produknya disukai masyarakat, perusahaan itu dapat terus bertumbuh baik dari segi pendapatan dan laba. Makanya, jangan heran kalau perusahaan yang dikomandani oleh Anthony Salim itu punya daya tahan yang kuat. 

Ia belum bisa "digoyahkan", "dilengserkan", atau bahkan "digusur" oleh para pesaingnya selama produk-produknya masih menguasai pasar. Jadi, boleh dibilang kedudukan Indofood sebagai produsen mie instan terbesar masih kokoh pada masa depan.

Dari situlah kita bisa berasumsi bahwa produk yang punya brand yang kuat menjadi "jaminan" kesuksesan bagi kinerja saham perusahaan yang membuatnya. Namun, pertanyaannya, apakah selalu demikian? Ternyata tidak.

Pasalnya, sewaktu saya memeriksa perusahaan publik lain, saya mendapati bahwa alih-alih terus bertumbuh, kinerja saham perusahaan tersebut justru turun, ambruk, atau bahkan jeblok, biarpun mereka punya produk yang dikenal baik oleh masyarakat luas.

Bagi saya, hal itu menjadi semacam "anomali". Bagaimana sebuah perusahaan yang punya merek terkenal harga sahamnya justru bikin "ketar-ketir" begitu? Bukankah seharusnya semakin baik sebuah produk, semakin "berkilau" mereknya, semakin "tokcer" harga sahamnya?

Untuk menjawabnya, mari ambil contoh saham produsen sepatu BATA. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh topbrand-award.com, hampir setiap tahun, sepatu Bata terpilih sebagai merek yang dikenal baik oleh masyarakat.

Merek Bata tampaknya melekat kuat di pikiran orang-orang sebagai sepatu khusus kantor yang oke kualitasnya. Hal itu pun diamini oleh mayoritas responden manakala ditanya soal sepatu untuk kerja kantoran. Makanya, jangan heran kalau posisi topbrand untuk kategori sepatu kantor pria masih diduduki oleh Bata selama bertahun-tahun.

Namun, apakah itu mendongkrak kinerja sahamnya di bursa? Ternyata tidak. Sewaktu saya menulis artikel ini, nilai sahamnya tercatat terus turun dari tahun 2014-2018, dan kini berada di kisaran harga 590/lembar.

Setelah saya telusuri, barulah saya tahu kalau penyebab harga sahamnya "melorot" ternyata bukan karena kualitas brand-nya, melainkan kondisi keuangan perusahaannya. 

Dari statistik performa perusahaan yang bisa diakses di laman Bursa Efek Indonesia, kita bisa tahu bahwa labanya labil dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, nilai sahamnya pun terus tergerus dari 1.060 (8 November 2013) ke 600 (26 Oktober 2018).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2