Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Digital Pilihan

Supaya "Beban" di Memori "Smartphone" Jauh Lebih Ringan

1 Juni 2018   10:09 Diperbarui: 1 Juni 2018   10:47 1143 11 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Supaya "Beban" di Memori "Smartphone" Jauh Lebih Ringan
Acara Nangkring Kompasiana bersama SanDisk (sumber: dokpri)

Puluhan mata Kompasianer yang datang ke acara Nangkring Kompasiana bersama SanDisk sontak "tertuju" ke panggung yang didominasi warna merah. Sebab, di situ duduk seorang lelaki berkaos gelap, berkacamata bingkai hitam, dan bertubuh tegap.

Dengan gaya bicara yang atraktif, ia menjelaskan semua hal tentang fotografi. Penjelasannya sangat fasih dan apik. Maklum saja, fotografi ialah "dunia" yang sudah dijelajahinya sekian puluh tahun. Ia adalah Arbain Rambey, Fotografer Senior Kompas.

Lewat uraian yang disampaikan Arbain, saya jadi paham bahwa sebuah foto ternyata mampu "menceritakan" banyak hal. Makanya, dalam foto-foto yang ditampilkannya di layar, ia dapat menjelaskan "sejarah" di balik foto itu. Sebut saja pengalamannya sewaktu ia mendapat tugas untuk "mengabadikan" kehidupan waria di Jakarta.

Arbain menceritakan cukup "ketar-ketir" menjalankan "amanah" itu. Sebab, ia mesti berhadapan dengan penolakan dari waria yang enggan diambil gambarnya. Makanya, ia membawa beberapa kamera cadangan untuk mengantisipasi kalau-kalau kamera utamanya dirusak waria yang marah.

Tak hanya foto-foto kejadian, sejumlah foto lanskap Jakarta juga ikut ditampilkan. Foto-foto tersebut jelas sudah "lawas" karena diambil puluhan tahun silam. Akan tetapi, lewat foto-foto itu, kita jadi mengenal Jakarta "tempo dulu".

Arbain Rambey, Fotografer Senior Kompas, menjelaskan sejarah dan seni fotografi (sumber: dokpri)
Arbain Rambey, Fotografer Senior Kompas, menjelaskan sejarah dan seni fotografi (sumber: dokpri)
Dari situlah, Arbain kemudian menjelaskan bahwa foto-foto itu merepresentasikan perkembangan teknologi kamera. Bahwa dari tahun ke tahun kualitas foto bertambah baik seiring berkembangnya teknologi kamera. Setiap teknologi kamera punya "babak"-nya tersendiri, dari zaman kamera film, kamera polaroit, kamera saku, kamera dslr, hingga kamera mirrorless.

Perkembangan itu memengaruhi "mode" fotografi. Sebagaimana diketahui, kini kita memasuki era Mobile Photography. Semua itu terjadi karena masyakat sekarang terbiasa mengabadikan setiap momen lewat kamera ponsel.

Pemotretan jadi lebih mudah dan praktis. Apalagi, kini fitur kamera ponsel juga sudah semakin oke. Makanya, jangan heran kalau foto-foto untuk jurnalistik juga diambil dengan kamera ponsel. "Sejak tahun 2012, sejumlah foto headline Harian Kompas diambil dari kamera handphone," jelas Arbain.

Biarpun sangat sederhana pemakaiannya, kamera ponsel masih memiliki keterbatasan. Satu di antaranya ialah persoalan memori. Makanya, untuk mengatasinya, kita harus mempunyai produk penyimpan data berkualitas. Jangan sampai momen berharga lewat begitu saja lantaran kita lupa mengosongkan memori di ponsel.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, SanDisk hadir menyediakan beragam produk penyimpanan data yang aman, cepat, dan praktis. Sebagaimana pemaparan dari Idris Effendi, selaku Country Manager SanDisk Indonesia, dalam acara Nangkring Kompasiana tersebut, SanDisk mempunyai banyak "pengalaman" tentang penyimpanan data.

Idris Effendi, selaku Country Manager SanDisk Indonesia, menjelaskan fitur yang terdapat di produk SanDisk (sumber: dokpri)
Idris Effendi, selaku Country Manager SanDisk Indonesia, menjelaskan fitur yang terdapat di produk SanDisk (sumber: dokpri)
Maklum saja, SanDisk sudah berdiri sejak tahun 1988. Pendirinya ialah Eli Harari, Jack Yuan, dan Sanjay Mehrotra. Pada tahun 1990, SanDisk menjual produk pertamanya, yaitu cip Flash SanDisk 4 MB. Produk tersebut ternyata laku keras di pasaran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN