Adica Wirawan
Adica Wirawan karyawan swasta

Founder of Gerairasa Mempunyai passion yang kuat sebagai seorang pelajar, pengajar, penulis, penyunting, dan praktisi yang terus mengembangkan wawasannya dalam bidang pendidikan, bahasa, kreativitas, grafologi, numerologi, hipnosis, kecerdasan emosi, yoga, bisnis ritel, keorganisasian nonprofit, dan spiritual. Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Tekno Pilihan

Waspadai "Modus" Penipuan lewat Whatsapp

14 April 2018   09:08 Diperbarui: 14 April 2018   09:20 2760 6 8
Waspadai "Modus" Penipuan lewat Whatsapp
sumber:akcdn.detik.net.id

Sekitar jam setengah enam sore kemarin (13/04), saudara saya tiba-tiba menelepon saya lewat whatsapp dengan suara yang terkesan janggal. Saya sebut "janggal" sebab ia berbicara dengan cepat dan agak terbata. "Lu lagi di mana sekarang? Lu lagi di mana sekarang?" Ia sempat mengulang pertanyaan itu beberapa kali di ujung telepon, dan saya menjawab sedang berada di rumah. "Ya udah, nanti lu baca chat gw ya." Ia menutup telepon. Pembicaraan berakhir. Namun, saya terus bertanya-tanya apa yang sebetulnya terjadi.

Pasalnya, tidak biasanya ia berbicara demikian. Akhirnya, saya menunggu chat darinya. Tak lama kemudian, chat-nya masuk, dan lagi-lagi ia membuat saya bingung. Sebab, ia menampilkan screenshot kontak whatsapp dengan foto saya di dalamnya.

Di kontak itu, terdapat dua buah nomor. Yang di atas ialah nomor tidak dikenal. Yang di bawahnya ialah nomor saya. Sewaktu ia bertanya yang mana nomor saya, saya menjawab yang bawah, dan kemudian ia memberi penjelasan bahwa seseorang telah menggunakan foto saya untuk memperdayanya.

Awalnya saudara saya sempat "terjebak". Maklum saja, foto yang dipakainya di akun whatsapp memang foto lama saya, yang diambil beberapa tahun lalu. Apalagi ia juga mengetahui nama saya.

Makanya, saudara saya tak menaruh curiga terhadap chat dari si penipu. Ia pun melayani obrolan si penipu dengan santai. Namun, kecurigaannya baru muncul sewaktu si penipu mendesaknya supaya mentransfer uang sebesar 80 juta rupiah ke nomor rekening orang lain, bukan atas nama saya.

upaya si penipu untuk memperdaya saudara saya (sumber: dokpri)
upaya si penipu untuk memperdaya saudara saya (sumber: dokpri)
Saudara saya mencoba menelepon si penipu, tetapi tidak diangkat. Lalu, ia menelepon nomor saya yang asli, dan saya mengangkatnya seperti disebutkan di atas. Dari situlah kemudian ia memastikan hampir ditipu.

Alih-alih, menghentikan komunikasi dengan si penipu, saudara saya malah memutuskan "menjebak balik" si penipu. Ia bertanya macam-macam, seperti nama anjing peliharaannya, dan si penipu terus memberi jawaban yang ngawur. Akhirnya, si penipu menjadi "bulan-bulanan" dalam obrolan dan mendapat semprotan caci-maki darinya. Wkwkwkwkwkwkwk.

Dari kasus di atas, kita jadi mengetahui bahwa modus penipuan sudah "merambah" whatsapp. Hal itu terjadi barangkali akibat pemberlakuan registrasi nomor telepon yang gencar dilakukan pemerintah. Pasalnya, kalau menggunakan nomor hp yang sudah diregistrasi untuk memperdaya calon "mangsa"-nya, identitas si penipu akan terbongkar dengan jelas. Sebab, kepolisian bisa melacak data diri si penipu lewat nomor teleponnya.

Makanya, kemudian modus penipuan beralih memakai layanan whatsapp. Sebab, whatsapp tak bisa membedakan mana nomor yang masih aktif dan mana yang tidak. Jadi, kalau kita menggunakan nomor yang sudah lama nonaktif sekalipun, kita masih bisa menggunakan whatsapp.

Buktinya, beberapa bulan lalu, ketika nomor saya diblokir oleh provider akibat lupa isi ulang pulsa, saya masih bisa berkomunikasi memakai whatsapp dengan nomor tersebut!

"Celah" itulah yang kemudian bisa dimanfaatkan oknum-oknum tertentu untuk menipu orang lain. Dengan menggunakan whatsapp, si penipu bisa melancarkan aksinya, biarpun nomor yang tercatat di akunnya sudah nonaktif.

Walaupun ujung-ujungnya upaya si penipu gagal, tetap ada yang harus diwaspadai supaya kasus di atas menjadi pelajaran bersama. Pertama, jangan tanggapi nomor asing yang masuk ke chat whatsapp, terutama kalau orang tersebut minta transfer uang. Sudah pasti itu penipuan. Modusnya pun macam-macam. Ada yang menyatakan bahwa Anda dapat hadiah, tetapi Anda harus membayar "uang muka" lebih dulu agar hadiahnya cair. Ada pula yang mengabarkan bahwa seorang anggota keluarga atau kenalan Anda terkena musibah sehingga butuh uang cepat.

Intinya, para penipu mencoba membikin Anda merasa sangat bahagia atau panik, sehingga "menenggelamkan" akal sehat dan mengikuti kata-katanya. Oleh sebab itu, kalau dapat kontak dari orang yang disinyalir akan menipu Anda, segera putus komunikasi dengannya, atau kalau Anda berani, nasihatilah ia agar segera "tobat" dan cari uang dengan cara yang halal agar hidupnya barokah. Wkwkwkwkwkwkwkwk.

Kedua, periksa data diri di akun medsos Anda. Pastikan bahwa Anda tidak meninggalkan informasi yang terlalu personal di akun medsos. Pasalnya, si penipu yang mencoba mengelabui saudara saya sepertinya mengambil foto profil saya dari internet, kemudian mencari tahu siapa orang terdekat dengan saya.

Maklum saja, sekarang data diri kita bebas dicari dan ditelusuri lewat internet. Buktinya, ketiklah nama Anda di google. Nanti akan muncul semua informasi yang terkait dengan diri Anda seperti foto dan akun media sosial, yang bebas ditelusuri siapapun.

Makanya, jangan terlalu banyak menebar "jejak digital" di internet, sebab data kita bisa disalahgunakan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab.

Ketiga, setelah terjadi kasus demikian, segera beri tahu orang-orang terdekat bahwa ada yang memakai data Anda untuk menipu orang lain. Makanya, kemarin, sewaktu ada kasus demikian, langsung saya mengabarkan teman-teman di grup whatsapp kasus tersebut, lalu menyebarkannya ke akun media sosial.

Biarpun jempol saya sempat kram akibat terlalu mengetik informasi ke banyak grup, setidaknya kenalan saya menjadi lebih waspada. Jangan sampai kasus demikian terulang pada mereka.

Salam.

Adica Wirawan, founder of Gerairasa.com