Adica Wirawan
Adica Wirawan karyawan swasta

Founder of "gerairasa.com" Mempunyai passion yang kuat sebagai seorang pelajar, pengajar, penulis, penyunting, dan praktisi yang terus mengembangkan wawasannya dalam bidang pendidikan, bahasa, kreativitas, grafologi, numerologi, hipnosis, kecerdasan emosi, yoga, bisnis ritel, keorganisasian nonprofit, dan spiritual. Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Muda Artikel Utama

Kami yang "Berjejalan" di antara Cikarang-Bekasi

10 Oktober 2017   10:22 Diperbarui: 10 Oktober 2017   20:47 7488 12 12
Kami yang "Berjejalan" di antara Cikarang-Bekasi
suasana di stasiun bekasi pada pukul tujuh tadi (sumber: dokumentasi pribadi)

Sekitar pukul tujuh tadi, setelah memasuki Stasiun Bekasi, saya agak "kaget". Pasalnya, di peron jalur satu dan dua sudah berbaris puluhan orang yang tampak grasa-grusu menunggu kedatangan kereta dari Stasiun Cikarang ke Stasiun Jakarta Kota.

Sekilas, pemandangan demikian mengingatkan saya pada suasana mudik di sejumlah stasiun jelang lebaran. Betapa tidak! Suasana stasiun terlihat jauh lebih padat daripada biasanya.

Untuk mencapai peron dua saja, saya harus "menerobos" kerumunan orang. Saya kemudian memilih naik kereta yang berhenti sampai Stasiun Manggarai saja. Sehari-hari, untuk tiba ke kantor, saya memang biasa turun di stasiun tersebut, kemudian lanjut memakai jasa transportasi lain.

Karena kereta saya berangkat belakangan, saya punya kesempatan mengamati situasi di peron jalur satu yang jauh lebih padat. Tidak lama kemudian, KRL dari Cikarang tiba juga.

Sebelum pintu dibuka, telah terlihat bahwa gerbong sudah penuh. Bisa dibayangkan betapa "lepeknya" kalau kita menaiki kereta yang telah padat penumpang di dalamnya.

Begitu pintu dibuka, penumpang yang sejak tadi berdiri menunggu langsung berjejalan masuk. 

penumpang tampak berjejalan masuk (sumber: dokumentasi pribadi)
penumpang tampak berjejalan masuk (sumber: dokumentasi pribadi)

Semua "kesemrawutan" itu terjadi sejak Stasiun Cikarang mulai beroperasi pada tanggal 8 Oktober lalu. Sewaktu saya pergi kondangan ke kawasan Cawang pada hari itu, sebetulnya belum terlihat kepadatan yang kontras.

Malah saya mendapati bahwa kereta yang saya naiki berangkat dari Stasiun Bekasi lebih cepat sehingga saya bisa tiba di stasiun tujuan tepat waktu. Namun demikian, pada hari ini, semua pemandangan itu berubah total.

Hal itu tentu bisa dimaklumi. Dengan bertambahnya stasiun, kepadatan penumpang tentu akan terjadi. Namun demikian, kalau kepadatan demikian terus terjadi setiap hari kerja, sanggupkah penumpang "langganan" KRL bertahan?

Makanya, kadang saya sering guyon. "Kalau begini terus, bawa aku ke M*******." Hahahahahahaha.

Namun demikian, semua problematika itu masih bisa "disiasati". Teman saya, misalnya, lebih senang berangkat dari Stasiun Bekasi Timur yang baru beroperasi dua hari lalu alih-alih menunggu di Stasiun Bekasi.

Selain alasan jarak dari rumahnya, di Stasiun Bekasi Timur, penumpang belum melonjak jumlahnya. Makanya, dari stasiun tersebut, setidaknya, dia bisa mendapat tempat "strategis" agar tidak "tergencet" di dekat mulut pintu.

Sebagai pengguna KRL, saya merasa bahwa beroperasinya Stasiun Cikarang membuka sebuah "kesempatan baru". Pasalnya, masyarakat yang tinggal di situ mendapat kesempatan yang sama dalam mengakses dan menikmati moda transportasi KRL. Namun demikian, saya berharap besar manajemen Commuter Line lebih meningkatkan kualitas layanan demi kenyamanan bersama.

Salam

Adica Wirawan, founder Gerairasa.com