Mohon tunggu...
Adi Permana
Adi Permana Mohon Tunggu... Rakyat biasa

Revolusi belum selesai..

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara

Jokowi dan Nasib Masyarakat Sipil Kita

22 Februari 2019   09:38 Diperbarui: 22 Februari 2019   10:15 136 3 1 Mohon Tunggu...

17 April 2019 akan menjadi takdir bersama bangsa Indonesia dalam memilih pemimpinnya, kepala negaranya, simbol negaranya. Apakah Jokowi dapat mempertahankan kepemimpinannya? Atau Prabowo akan menggantikannya? Hanya kotak suara yang akan mampu bicara kelak, siapakah peraih suara terbanyak dari ratusan juta rakyat Indonesia yang telah memilki hak pilih. 

Baik Jokowi maupun Prabowo memiliki karakternya sendiri, memiliki goresan fakta yang melekat dalam dirinya. Bagi saya tidak ada orang ataupun pemimpin yang terbaik atau yang paling baik karena kita hidup di alam Demokrasi: semua orang bebas memilih sesuai selera karakter pemimpin yg diinginkan. Hidup di alam Demokrasi adalah masalah menggali preferensi, beragam sudut pandang, memilih sesuatu yang dianggap LEBIH BAIK, bukan PALING BAIK. 

Pada tulisan ini Saya ingin memaparkan alasan mengapa mendukung Jokowi-Maruf adalah lebih baik bagi SAYA SENDIRI.

Fakta yang saya pahami adalah Jokowi lahir dari kalangan rakyat biasa, latarbelakangnya masyarakat sipil, bukan dari golongan elite atau keturunan bangsawan (raja/saudagar kaya/pejabat pemerintahan di masa lalu) ataupun keturunan elite militer yang (sementara ini) menjadi kebanggaan sebagian orang di Indonesia karena militer dianggap identik dengan pangkat kenegaraan.  

Jika dihitung Indonesia sudah 5 Kali dipimpin oleh Presiden dari kalangan Sipil: Soekarno, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan Jokowi. Sementara itu 2 Kali dipimpin oleh presiden dari kalangan militer: Soeharto & SBY.

Jika Prabowo memang pemilu mendatang, maka untuk ke 3 kali Indonesia akan dipimpin presiden dari kalangan militer. Namun harapan saya, agar masyarakat Sipil (civil society) berkembang lebih dinamis Dan semakin kuat kesadaran keadabannya, maka lebih baik Jokowi meneruskan kepemimpinannya untuk 5 tahun lagi. Tak terbayangkan bagi saya Indonesia harus dipimpin oleh orang berlatarbelakang militer lagi, saya kira sudah cukup masa-masa dimana kepemimpinan militer di politik berjaya. 

Militer yang bersifat statis, seragam, dan konservatif, sangat bertolak belakang dengan sifat demokrasi dan masyarakat sipil yang dinamis, beragam, dan kreatif. Bagi saya, untuk menjaga kedinamisan masyarakat sipil agar menuju kemajuan peradaban yang diharapkan, diperlukan pemimpin dari kalangan sipil pula. Dan Jokowi adalah jawabannya untuk masa ini.

Mungkin timbul tanya dalam benak kita: apa jaminan Jokowi itu benar- benar pemimpin yang memberikan kemajuan? Paling tidak yang Kita lihat, pemerintahan pusat sekarang sudah memperkecil jaraknya dengan rakyat, yang sebelumnya pemerintah pusat itu bagai langit yang jauh sekali dari keseharian kita. 

Di masa Jokowi pemerintah pusat kini lebih membumi dengan seringnya hadir di tengah-tengah proyek lapangan yg sedang berlangsung, hadir di pasar-pasar, hadir di tempat ngopi, di mal, di ruang publik yang identik dengan keseharian kita. Itulah nilai plus dari pemimpin dari kalangan sipil, hidupnya tidak terpaku standar protokoler saja. Ia dinamis, dapat menjadi siapa saja, bisa menyesuaikan diri di tengah aktivitas masyarakat sipil lainnya.

Oleh karena itu, menjadi penting memilih Jokowi pada 17 April 2019 mendatang karena Saya pribadi tidak ingin Indonesia kembali dipimpin oleh kalangan militer. Hal ini bukan karena pemimpin dari kalangan Sipil adalah Paling Baik, tetapi Lebih Baik daripada kalangan militer. Karena Demokrasi adalah masalah pencarian terhadap sesuatu yang lebih baik bagi diri kita masing-masing. Jika anda memilih pemimpin karena merasa Paling Baik, maka selamat, anda secara sadar telah mematikan demokrasi dan membangkitkan ruh Fasisme dalam diri Anda.

Salam rileks. 

Individu masyarakat sipil Indonesia.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x