Mohon tunggu...
Adi Bermasa
Adi Bermasa Mohon Tunggu... mengamati dan mencermati

Aktif menulis, pernah menjadi Pemimpin Redaksi di Harian Umum Koran Padang, Redpel & Litbang di Harian Umum Singgalang, sekarang mengabdi di organisasi sosial kemasyarakatan LKKS Sumbar, Gerakan Bela Negara (GBN) Sumbar, dll.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Lisda Hendrajoni, Dari Pramugari ke Penggerak Rumah Dhuafa di Pessel

11 Oktober 2017   21:51 Diperbarui: 11 Oktober 2017   22:13 0 2 0 Mohon Tunggu...
Lisda Hendrajoni, Dari Pramugari ke Penggerak Rumah Dhuafa di Pessel
Lisda Hendrajoni, sekaligus pengagas program Dunsanak Membantu Dunsanak (DMD) saat mengunjungi salah satu warga calon penerima manfaat. (DOK. KORAN PADANG)

DULU, begitu sulit dan payahnya membangun rumah sederhana untuk warga dhuafa di Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Hanya sekitar 10 rumah saja begitu lama selesainya. Bahkan, ada yang tidak sempurna siapnya, namun dengan rasa terpaksa ditempati saja oleh permiliknya.

Begitulah secuil pengalaman berbekas dirasakan pengurus Badan Amil Zakat Nasional (Basnas) Sumatra Barat bekerjasama dengan Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Sumatra Barat beberapa tahun yang lalu.

Itu dulu. Sekarang keadaan sudah berubah. Tidak ada lagi semen yang mengeras jadi batu. Tidak ada lagi kayu-kayu yang mubazir. Bahkan kini di Pesisir Selatan, setiap ada bantuan yang sifatnya sosial sungguh luar biasa partisipasi masyarakat.

Kenapa?

Tokoh pekerja sosial sekarang di Pesisir Selatan, Lisda Hendrajoni, adalah wanita tangguh, berani, pekerja keras. Maklum, bekas pramugari pesawat terbang. Sejak sekitar setahun lalu, bersama suaminya, Hendrajoni, didaulat membangun kampung halaman: Pesisir Selatan tercinta.

KETUA TP-PKK Pessel, Lisda Hendrajoni, sekaligus pengagas program Dunsanak Membantu Dunsanak (DMD) saat mengunjungi warga calonpenerima manfaat. (DOK. KORAN PADANG)
KETUA TP-PKK Pessel, Lisda Hendrajoni, sekaligus pengagas program Dunsanak Membantu Dunsanak (DMD) saat mengunjungi warga calonpenerima manfaat. (DOK. KORAN PADANG)
Tanpa banyak teori, bahkan dana pun Lisda tidak punya. Namun tekadnya sebagai pekerja sosial tangguh sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK begitu tergugah lantaran masih banyaknya warga dhuafa di daerah binaannya menghuni pondok reot yang tidak layak.

Banyak muncul pengakuan di Sumatra Barat, bahwa Lisda adalah wanita berani, tangguh, suka tantangan, dan tidak tinggal diam. Buktinya, Lisda, sebagai istri bupati pendamping Hendrajoni, dalam membangun Pesisir Selatan berhasil menghadirkan kejutan melalui program spektakulernya yang terkenal dengan 'DUNSANAK MEMBANTU DUNSANAK (DMD)'.

Ditargetkan, DMD merehab 1.000 rumah dhuafa dalam waktu yang terjadwal. Tidak ada dana, diusahakan bantuan tanpa memaksa. Bahkan, warga Pesisir Selatan yang mampu 'dikejar' Lisda, termasuk di luar negeri sekalipun.

Luar biasa 'makan tangan' mantan pramugari cantik yang mampu mendampingi Bupati Hendrajoni membangkitkan gairah membangun Pesisir Selatan itu. Sekitar setahun mengabdi di Pesisir Selatan, sudah ratusan rumah warga dhuafa berhasil direhab dan dinikmati penghuninya.

KETUA TP-PKK Pessel, Lisda Hendrajoni, sekaligus pengagas program Dunsanak Membantu Dunsanak (DMD) saat mengunjungi salah satu warga penerima manfaat. (DOK. KORAN PADANG)
KETUA TP-PKK Pessel, Lisda Hendrajoni, sekaligus pengagas program Dunsanak Membantu Dunsanak (DMD) saat mengunjungi salah satu warga penerima manfaat. (DOK. KORAN PADANG)
Lisda yang selalu 'gelisah' melihat rumah warga dhuafa yang memprihatinkan selalu berusaha dan akrab dengan lembaga donor, seperti Kementerian PU dan Perumahan Rakyat, Baznas, warga mampu, serta kalangan perusahaan dengan dana Corporate Sosial Responcibility (CSR) nya.

Kepedulian Lisda dengan warga dhuafa di Pesisir Selatan jadi 'cambuk' penggerak bagi aparat pemerintahan di daerah itu sampai ke pelosok jauh di pedalaman.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2