Adia PP
Adia PP Penulis Konten

Konsultan kriminal. Penikmat teh dan susu. http://daiwisampad.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Dongeng

[Dongeng] Mardiyan ingin Menjadi Kafir

22 Juni 2017   18:43 Diperbarui: 22 Juni 2017   18:50 33 0 0
[Dongeng] Mardiyan ingin Menjadi Kafir
Sumber Gambar: mongabay.com

"Aku si kafir! Mulai sekarang panggil aku si kafir!"

Mardiyan, monyet kecil dan cerewet itu berteriak dari atas pohon paling tinggi di hutan Gemah Ripah. Seluruh hewan penghuni hutan sontak memandang ke sumber suara. Kepada si monyet mungil yang kerap membuat gaduh seisi hutan.

Kali ini, apa lagi tingkah Mardiyan? Pikir mereka.

Mardiyan yang setelah puas berteriak dari atas pohon tertinggi, menghampiri kelompoknya, kaum monyet. Segera, dirinya diberondong pertanyaan atas tindakannya barusan.

"Kafir? Apa maksudmu, Mar?" tanya Pak Dulatip, tetua kaum monyet.

"Kafir itu, apa, Mar?" susul Erlangga, teman sepermainannya.

Diberondong pertanyaan sedemikian banyak, Mardiyan merasa menjadi monyet pintar. Ia dikerumuni oleh para monyet lainnya yang ingin tahu maksud perkataannya.

Mardiyan menjawab santai sambil mengigit buah jambu, "Tidak tahu. Aku mendengar belakangan manusia banyak yang menyebut kata 'kafir'. Aku pikir, kata itu terdengar keren, seperti obligasi, nepotisme, transmigrasi, dan lainnya. Kafir pasti sesuatu yang keren!" Jawabnya mantap.

Kaum monyet yang mendengarnya hanya manggut-manggut mendengar jawaban Mardiyan. Beberapa ada yang mencibir melihat kelakuan Mardiyan yang semakin hari, semakin mirip manusia.

Mardiyan memang monyet yang cukup cerdas. Hal tersebut dikarenakan dirinya seringkali menyelinap ke luar hutan, ke tempat manusia berkumpul. Sebenarnya mengunjungi tempat manusia adalah hal yang dilarang. Namun, Mardiyan selalu nekat melakukan hal tersebut. Ia begitu mengagumi manusia.

Perihal kata 'kafir' yang baru didengarnya pun ia dapatkan dari manusia. Suatu ketika Mardiyan mengunjungi pasar manusia. Ia mendengar banyak manusia yang mengatakan 'kafir'. Bahkan 'kafir' dilontarkan antar sesama manusia.

Begitu pula ketika dirinya mengunjungi pangkalan ojek. Para tukang ojek di pangkalan saling berdiskusi mengenai 'kafir'. Ada pula mereka memanggil temannya dengan sebutan 'kafir'.

Kata 'kafir' pun ia temukan di televisi yang dipasang di pangkalan ojek. Dalam tayangan televisi, ia banyak melihat orang berteriak 'kafir' dalam tayangan berita.

Saking seringnya mendengar kata 'kafir' belakangan ini, Mardiyan menjadi terobsesi. Meskipun tidak mengetahui arti dari 'kafir', Mardiyan tetap menganggap 'kafir' sebagai suatu yang keren dan tengah populer di kalangan manusia. Maka, ia menobatkan diri sebagai 'kafir'.

"Mardiyan si kafir. Keren juga," batinnya, sambil tersenyum.

"Mar, bagaimana jika 'kafir' adalah sesuatu yang buruk untuk diucapkan? Kamu kan tidak mengetahui artinya," tanya Sukoco teman sesama monyet suatu hari.

Mardiyan yang tengah menikmati segelas es jeruk, tercekat mendengar pertanyaan Sukoco. Ia berpikir sejenak.

Kemudian menjawab, "Ah tidak mungkin. Manusia 'kan pada pandai dan pintar. Tidak mungkin mereka berkata kasar. Terlebih jika 'kafir' adalah suatu yang kasar, tidak mungkin mereka mengumpat dengan perkataan yang dapat menyakiti hati manusia lainnya."

Sukoco terdiam sejenak. Kemudian mengangguk. Setuju dengan jawaban Mardiyan.

"Manusia itu makhluk beradab. Berbeda dengan kalian, para monyet," lanjut Mardiyan sambil kembali asyik menandaskan es jeruknya. 


Adia PP

Jakarta, Juni 2017



Kisah Mardiyan lainnya:

Mardiyan Ingin Belajar Berenang

Mardiyan dan Raja Hutan

Mardiyan Gemar Membaca Buku