Mohon tunggu...
Adian Saputra
Adian Saputra Mohon Tunggu... Jurnalis - Jurnalis

Menyukai tema jurnalisme, bahasa, sosial-budaya, sepak bola, dan lainnya. Saban hari mengurus wartalampung.id. Pembicara dan dosen jurnalisme di Prodi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila. Menulis enggak mesti jadi jurnalis. Itu keunggulan komparatif di bidang kerja yang kamu tekuni sekarang."

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Republika dan Masa Depan Koran Lokal Kita

16 Desember 2022   09:58 Diperbarui: 16 Desember 2022   16:41 1605
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi (Digital Buggu/Pexels)

Akhir tahun nanti koran Republika berhenti beroperasi. Tidak ada lagi koran dalam bentuk fisik yang bisa kita temui.

Saya terakhir beli Republika sehari setelah aksi damai nan akbar 212 di Monas. Saya membandingkan foto dan berita utama dua koran besar tentang aksi damai itu, Kompas dan Republika.

Dulu waktu masih sering jalan ke Jakarta, mahasiswa dan pekerja banyak membaca Republika selain Kompas. Saat menunggu bus, mereka membuka lembar demi lembar Republika.

Waktu reformasi, banyak pula mahasiswa yang beli Republika. Saya sering melihat beberapa mahasiswa di Universitas Lampung membaca koran itu saat menunggu waktu salat di Masjid Al Wasii.

Sayangnya, akhir tahun ini koran yang sering disebut sebagai media massanya umat Islam itu akan berhenti. Satu lagi koran tutup usia. Beberapa di antaranya sudah duluan.

Bagaimana kemudian nasib koran lain? Yang menarik, bagaimana nasib koran-koran lokal. Saya hendak sekelumit menulis ini. Khususnya koran lokal di Lampung. Sekalian menulis lagi untuk Kompasiana. Sayang sudah dikasih centang biru sama admin bertahun-tahun tapi lama tak menulis di blog "keroyokan" ini.

Koran di daerah, wabilkhusus di Lampung, juga mengalami hal yang sama. Pasti ada pengaruh dengan digitalisasi. Ketika gawai menjadi medium mencari berita dengan perantara internet, sesungguhnya koran makin sulit bersaing.

Jika dahulu masih banyak pedagang koran eceran di lampu merah, sekarang makin sedikit. Koran hanya ditemui di tempat yang terbatas. Agen koran dan majalah juga sudah sepi pelanggan. Saya melihatnya sejak 2015 koran memang makin sulit untuk hidup.

Selain alasan utama adanya media massa baru ber-platform internet, ongkos cetak koran memang besar. Maka itu, sekarang, beberapa koran semenjana, tidak bisa terbit harian sampai Sabtu. Paling banter sampai Jumat. Itu pun tidak Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat. Kadang diseling dua hari. Atau paling lumayan kayak puasa sunah, Senin-Kamis.

Saya pernah bikin tabloid untuk keperluan tertentu. Ongkosnya memang gede. Per seribu eksemplar, tiga kali terbit, masih dikasih harga Rp1 juta oleh percetakan. Tapi pas mau cetak keempat kali, harga naik Rp1,4 juta. Itu belum ditambah dengan honor setter atau layouter.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun