Adian Saputra
Adian Saputra Jurnalis

Jurnalis, penulis, editor, pengajar jurnalisme

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Hadiah Lebaran dan Jurnalisme Kemanusiaan

8 Juni 2018   22:32 Diperbarui: 10 Juni 2018   07:19 1834 7 4
Hadiah Lebaran dan Jurnalisme Kemanusiaan
Ilustrasi (KOMPAS/DIDIE SW)

Bisa memberi itu senangnya bukan main. Menerima itu juga senang. Gembira hati. Namun, bisa memberi itu perasaannya luar biasa.

Setidaknya dalam sebulan inilah kami di portal yang kami kelola, jejamo.com, bisa berkontribusi memberikan tali asih dan hadiah Lebaran. Memang benar seluruh donasi itu tak melulu dari kocek kantor atau redaksi. Donasi yang didistribusikan kepada kaum duafa itu lebih pada menyalurkan saja. Kami hanya perantara. Namun, di situlah letak istimewanya.

Sejak Web ini awal berdiri, saya ingin memolesnya sehingga punya ciri khas atau keunggulan kompetitif dibandingkan Web lain. Maka kami menyasar sisi kemanusiaan dan dunia kesukarelawanan atau filantropi.

Berkawan dengan banyak lembaga kemanusiaan dan korporasi yang rajin memberikan CSR selama ini memberikan manfaat yang luar biasa. Dari mereka inilah sebuah media massa tak sekadar memberitakan tapi juga langsung menjadi agen kemanusiaan.

Terkadang, perusahaan dan lembaga kemanusiaan punya keterbasan dalam menjangkau para mustahik. Kantong-kantong yang selama ini dihadapi oleh duafa tidak banyak diketahui. Namun, lewat relasi dan kebiasaan liputan ke masyarakat, media massa punya data untuk itu. Dari situlah muncul ide untuk bekerja sama dengan banyak lembaga untuk menyalurkan bantuan.

Lembaga kemanusiaan, lembaga zakat, dan perusahaan sangat terbantu dengan konsep jurnalisme kemanusiaan ini. Bahkan, saban kali bantuan didistribusikan, kami membuat artikel beritanya.

Dengan begitu, kepercayaan donor juga meningkat. Mereka paham dan percaya bahwa donasi yang mereka salurkan benar-benar didistribusikan kepada yang membutuhkan.

Tahun ini setidaknya ada empat institusi yang bekerja sama dengan jejamo.com untuk menyalurkan bantuan. Inilah sisi sinergi antara media massa dan perusahaan atau lembaga kemanusiaan.

Sore tadi misalnya kami menyalurkan paket Lebaran kepada pengayuh becak, ibu rumah tangga, dan pelajar yang membutuhkan. Alhamdulillah respon sangat baik. Dan pihak pemberi donasi pun senang karena bantuan ini sampai kepada orang yang berhak.

Saat kami sampaikan bahwa ini ada titipan dari donatur, masyarakat menerimanya dengan senang. Tak sedikit yang memberikan doa yang tulus.

Para pengayuh becak dengan senang hari menerima hadiah lebaran itu. Beberapa pengayuh becak itu adalah langganan kami dahulu saat SD. Dengan abonemen becak itulah kami dahulu bersekolah di SD.

Gugatan wajah gembira orang-orang itu membuat diri kami senang sekali. Rasanya bahagia melihat mereka senang. Dan model pembagian yang kena sasaran seperti itu lumayan efektif. Galib kita dengar, banyak bantuan donatur yang tak sampai dengan yang membutuhkan. Dengan sinergi semacam ini, media massa juga ada peran urgen.

Kebetulan penulis diamanahkan menjadi ketua Journalist for Humanity atau JFH Lampung. Saya sering mendorong kawan-kawan jurnalis tidak sekadar memberitakan.

Kita mesti mendorong banyak pihak untuk ikut peduli dengan dunia filantropi. Ini penting karena jika semua dibebankan kepada negara, pasti sulit untuk merealisasikannya. Namun, jika kepedulian itu didorong kepada warga sipl, banyak yang yang bisa dikerjakan, salah satunya media onlie.

Jurnalisme kemanusiaan mendorong para junalisnya lebih empati kepada yang membutuhkan. Wartawan dengan banyak akses, bisa menghubungi narasumber untuk ikut berperan dalam dunia kemanusiaan. Akses yang seperti ini tidak masalah digunakan demi kebaikan. Inilah sisi keuntungan yang tak dimiliki mereka yang nonwartawan.

Memanfaatkan profesi untuk kebaikan adalah sisi yang menarik untuk dicoba. Bahwa dengan relasi yang luas itu, jurnalis mampu membuat banyak narasumber yang mampu memberikan donasinya kepada dunia kemanusiaan.

Terlebih saat menjelang Lebaran di mana ada saudara-saudara kita yang hendak berlari raya tapi papa. Hendak merayakan Lebaran tapi tak ada dana sama sekali. Jangankan merayakan Lebaran, untuk hidup sehari-hari saja mereka kesulitan.

Jika mendekati Lebaran ini kita mampu memberikan bantuan, atau setidaknya menjadi perantara donasi itu diberikan, itu adalah hal yang mulia. Itulah hadiah terbaik Lebaran yang pernah kita berikan kepada sesama. Dan bagi kami, itu juga hadiah Lebaran yang istimewa lantaran sudah maju selangkah bisa membantu orang lain.

Hadiah Lebaran tak melulu berupa barang. Esensinya ada pada kebahagiaan. Dan jika kita bisa membuat orang bahagia, itulah hadiah yang teramat mahal. Dari situlah pula Allah swt melihat dan meridhoi langkah itu. Sebab, dari Tuhanlah kebahagiaan itu bermula. Dan kami merasakan benar suasana keyakinan semacam itu.