Mohon tunggu...
Adian Saputra
Adian Saputra Mohon Tunggu... Jurnalis - Jurnalis

Menyukai tema jurnalisme, bahasa, sosial-budaya, sepak bola, dan lainnya. Saban hari mengurus wartalampung.id. Pembicara dan dosen jurnalisme di Prodi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila. Menulis enggak mesti jadi jurnalis. Itu keunggulan komparatif di bidang kerja yang kamu tekuni sekarang."

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Artikel Utama

5 Kebaikan Menulis dengan Ponsel "Keyboard Qwerty"

26 Mei 2018   08:29 Diperbarui: 26 Mei 2018   21:35 2025
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sedari dulu saya lebih menyukai mengetik atau menulis artikel di ponsel yang papan ketiknya timbul. Kita lazim menyebutnya qwerty. Qwerty ini hanya sebutan yang akrab dipakai untuk menyebutkan jenis ponsel dengan keypad atau tuts yang timbul.

Bagi saya, mungkin karena sedari awal mempunyai ponsel akrab dengan papan ketik timbul, sudah terlanjur suka dan ketergantungan. Sebelum lama menggunakan ponsel BlackBerry yang keypad-nya timbul, ponsel andalan saya juga punya tuts yang timbul. Nokia E63 yang lama saya pakai juga enak dipakai mengetik atau menulis. Bahkan, awal-awal menulis di Kompasiana, nyaris semua dengan Nokia E63 dengan keypad qwerty.

Begitu marak penggunaan BlackBerry, saya pun turut serta meski rada belakangan punya ketimbang rekan jurnalis yang lain.

Mengetik di BlackBerry makin menggiatkan kultur menulis saya. Beberapa artikel perihal kepedulian tempo itu, kisaran 2012-2013 banyak saya hasilkan dengan BlackBerry. Sayang, dua tahun lalu, ponsel itu hilang. Saya sedih sekali.

Era Android pun datang. Ponsel merek terkenal silih berganti melakukan penetrasi di pasar ponsel cerdas atawa smartphone.

Dulu pernah belajar Antropologi saat SMA, ada item belajar namanya culture shock atau gelar budaya. Yang biasa mengetik dengan keypad qwerty, kini beralih ke papan ketik virtual dengan kekuatan sentuh.

Ketika menulis, yang biasa ada sedikit tekanan untuk memastikan huruf muncul, kini sudah berganti. Tak ada menekan tombol saat mengetik. Jari, bagi saya, malah agak sakit karena saat ujung jari menyentuh layar sentuh, tak ada tekanan ke dalam. Ini seperti menekan sisi yang datar saja tapi agak aneh menikmati sensasi sentuhan di layar. Pendeknya, saya tak begitu nyaman dengan ponsel berlayar sentuh.

Sejak itu, saya kemudian mencari andorid dengan papan ketik qwerty. Sulit memang. Bahkan bisa dibilang tidak ada. Beberapa kawan menyarankan membeli papan ketik kecil saja yang dihubungkan dengan ponsel. Tapi, tak praktis cara itu.

Penantian itu kesampaian sebulan lalu. Ada BlackBerry Priv seken yang kondisinya masih oke punya. Harga memang masih tinggi. Tapi demi kenyamanan untuk mengetik dan mengedit plus posting, ponsel itu saya beli. Kebetulan adik sepupu di Jakarta yang mencarikan karena doi kerja di gerai besar ponsel.

Sejak punya ponsel anyar ini, gairah menulis saya naik drastis. Pas pula Ramadhan datang, Kompasiana memberikan tantangan menulis satu bulan penuh tanpa terputus dengan topik Ramadhan. Dan hingga tulisan ini saya unggah, 11 tulisan selama 9 hari puasa ini bisa saya rampungkan. Ya menulis, ya mengedit. Ya mengetik, ya memposting.

Meski ini pendapat pribadi, bagi saya nyaman banget bisa ketemu dengan ponsel cerdas berpapan ketik timbul. Dan dari pengalaman, ada beberapa kebaikan menggunakan ponsel dengan keypad qwerty ketimbang layar sentuh atau touch screen. Apa saja itu? Simak ya teman.

Pertama, presisi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun