Mohon tunggu...
Adi SuhenraSigiro
Adi SuhenraSigiro Mohon Tunggu... Dosen - Melayani Tuhan, Keluarga, Negara, Gereja, Sesama, serta Lingkungan merupakan panggilan sejak lahir

Pendidikan S1: Sekolah Tinggi Teologi Kharisma Bandung (Lulus 2016). Pendidikan S2: Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus Bandung (Lulus 2020). Pelayanan: Perintisan dan Pemuridan di Gereja Bethel Indonesia Jl. Pasirkoja 39 Bandung, tahun 2012-2022. Pekerjaan: Dosen PNS IAKN Tarutung

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pengharapan dalam Tuhan

19 Mei 2022   15:20 Diperbarui: 19 Mei 2022   15:29 757
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Oleh: Adi Suhenra Sigiro, M.Th

Sahabat Pembaca, pengaharapan merupakan keyakinan kepada Tuhan akan pemeliharaan, berkat, serta masa depan yang lebih baik. Pengharapan adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa. Sauh merupakan jangkar atau perangkat kapal yang ditanam ke dasar air, sehingga ketika hempasan angin dan badai datang, kapal tersebut tetap aman dan tidak berpindah tempat. 

Demikian juga pengharapan kita kepada Tuhan, merupakan sauh yang kuat. Sehingga ketika badai, cobaan, dan tantangan datang dalam hidup kita, kita tetap aman, kita tetap mendapat perlindungan. 

Jika kita baca Ibrani 6:13-20, maka pengaharapan yang menjadi sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita adalah pengharapan akan janji Tuhan. Dalam Ibrani 6:13-20, kita bisa belajar kepada Abraham sebagai tokoh Alkitab yang menaruh pengharapannya terhadap janji Tuhan. Di mana dikemudian hari Abraham menggalami penggenapan akan pengharapan janji Tuhan yang diterimannya. 

Karena itu, dengan belajar kepada Abraham, maka supaya pengharapan akan janji Tuhan juga digenapi dalam hidup kita, maka kita harus:

                Kesatu, meningkatkan persekutuan maupun peribadahan kita dengan Tuhan dengan sungguh-sungguh (Yos. 24:2-3; Band. Kej. 12:7-9). Ketika Abraham masih hidup di Ur-Kasdim, dia adalah seorang penyembah berhala. 

Namun, ketika Tuhan memanggilnya dan menyatakan janji-Nya kepada Abraham, Abraham meninggalkan Ur-Kasdim, sekaligus meninggalkan penyembahan berhala yang selama ini dilakukanya. Selanjutnya, setelah Tuhan memanggilnya dan menyatakan janji-Nya, Abraham senantiasa membangun Mezbah Tuhan. 

Hal ini menjadi modal dan dasar bagi Abraham untuk mengalami janji Tuhan. Demikian juga, dengan kita, jika kita berharap terhadap janji Tuhan kemudian memiliki kerinduan supaya janji tersebut digenapi dalam kehidupan kita maka kita harus senantiasa meningkatkan persekutuan dan peribadahan kita kepada Tuhan. 

Berapapun harga dan waktu yang kita korbankan untuk membangun persekutuan dengan Tuhan, percayalah semuanya tidak akan menjadi sia-sia. Secara khusus, ada berkat tersendiri jika memiliki ketaatan untuk melakukan peribadahan. Berkat yang dimaksud meliputi  kebutuhan sehari-hari, kemudian kekuatan dan kesehatan bagi tubuh jasmani kita. 

Selain itu, usaha akan mengalami produktifitas atau peningkatan, serta memperoleh umur  panjang (Kel. 23:24-26. Band. 1 Kor. 15:58).

                  Kedua, sabar menantikan janji Tuhan (Ibr. 6:13-15). Ketika Tuhan berjanji kepada Abraham untuk memberikam keturunan usia Abraham pada waktu itu 75 tahun. Perlu menunggu 25 tahun kemudian baru janji akan keturunan tersebut digenapi. Jadi perlu kesabaran dalam menantikan janji Tuhan sampai janji Tuhan digenapi dalam hidup kita. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun