Mohon tunggu...
Adi Ankafia
Adi Ankafia Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Freelancer

Euphemia Puspa Tanaya Jasmine

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Si Doel The Movie", Polemik (Cinta Segitiga) yang Tak Kunjung Usai

8 Agustus 2018   13:59 Diperbarui: 12 Agustus 2018   21:23 3650
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Si Doel The Movie. Sumber Foto: Kompas.com/Dian Reinis Kumampung

Empat belas tahun berlalu dengan dinamikanya. Doel menikah (siri) dengan Zaenab yang sudah tidak lagi menjadi istri Koh Ahong. Mak Nyak semakin sepuh dan hanya bisa terbaring di tempat tidur karena sakit. 

Atun menjadi janda, membesarkan sendiri anak hasil pernikahan dengan almarhum Mas Karyo. Mandra masih setia kepada cinta yang tak termiliki, Munaroh, hingga menjadi bujang lapuk yang kurus kering.

Tanpa ada angin ataupun hujan, pada suatu pagi, saat burung-burung pipit berkicau menyambut mentari dari ufuk timur, Hans, sepupu Sarah yang secara kebetulan juga berdomisili di Belanda, tepatnya di kota Amsterdam, yang oleh almarhum Babeh (alm. Benyamin Sueb) dikasih julukan "Si Hidung Gede" menelpon Doel minta dikirimin atau lebih tepatnya dibawain langsung barang-barang tradisional kesenian Betawi untuk acara Tong-Tong Festival di Amsterdam yang masih akan berlangsung 2 bulan lagi.

Singkat cerita, Doel dengan ditemani Mandra berangkat ke Belanda. Awalnya tidak ada kecurigaan sama sekali bahwa proyek kurir ke Belanda ini disusupi pesan Sarah kepada Hans untuk mempertemukan mereka kembali karena anak Doel dan Sarah yang diberi nama Abdullah dan punya panggilan Doel (Rey Bong) juga yang sudah berumur 13 tahun-an selalu menanyakan keberadaan Bapaknya dan Sarah merasa sudah saatnya membuka tabir tersebut kepada anaknya.

Mak Nyak yang masih menyimpan kekecewaan atas kepergian Sarah selalu mengingatkan Doel sebelum berangkat untuk tidak perlu lagi mencari Sarah kalau sudah sampai Belanda karena sekarang sudah ada Zaenab yang tulus menjadi pendamping Doel dan ikut merawat Mak Nyak. 

Di balik wajah ayu kalemnya, Zaenab sendiri bukannya tidak khawatir, dia juga ingin berpesan pada Doel namun urung karena keburu diserobot Atun (Suti Karno) yang minta dibawain oleh-oleh, seperti coklat, keju, dan klompen, sementara waktu terus beranjak, taksi online tak bisa menunggu lagi, kemacetan menghadang di depan, jam penerbangan semakin dekat. Doel berangkat ke Belanda meninggalkan keresahan pada batin Zaenab.

Sisi jenaka Zaenab dimunculkan pada adegan saat Doel mengabari kondisinya sesampai di Belanda dan sudah berada di tempat Hans. Zaenab bahagia sekali dan sekaligus terlihat jenaka menerima pesan Doel yang sudah ditunggu-tunggunya.

Pertemuan Doel dan Sarah setelah 14 tahun berpisah di Museum Tropen mengingatkan pada adegan pertemuan Rangga dan Cinta di AADC 2. Sama-sama tidak ada gregetnya. Setidaknya bagi saya.

Doel pun akhirnya bertemu anaknya dan Mandra bertemu sayur asem di rumah Sarah. Sejujurnya saya sangat menyukai adegan canggung antara Doel (bapak) dan Doel (anak). Anak yang besar tanpa melihat bapaknya bahkan sejak lahir dan bapak yang hidup dihantui oleh rasa penasaran bagaimana nasib anaknya. 

Tak pelak, adegan tersebut membuat saya membayangkan jika suatu hari saya traveling ke sebuah negara, Belgia, misalnya, lalu saya khilaf bercinta dengan perempuan keturunan/peranakan Prancis -- Maroko -- Aljazair akibat terlalu mabuk lalu masuk ke rumah bordir (prostitusi) padahal niatnya mau balik ke penginapan, setelah itu saya pergi begitu saja melanjutkan perjalanan. 

Empat belas tahun kemudian saya mendapat undangan kenegaraan ke Belgia sebagai pembicara dalam acara Supermentor yang digagas Diaspora Indonesia di sana, dan selama di Belgia ada satu waktu saya dipertemukan (oleh keadaan) dengan anak hasil hubungan gelap saya.. boom! Ekspresi saya mungkin : "Wow! Ternyata gue punya anak yang mewarisi ketampanan gue!" atau.. entahlah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun