Mohon tunggu...
Adhiyan Wahyudi
Adhiyan Wahyudi Mohon Tunggu... Freelancer - MALA ANGKUSA ISWARA PASHUPATASTRA I THE END

Sungguh, Kami telah memberimu nikmat yang banyak I Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah I Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Akhir Kisah

4 Oktober 2021   21:17 Diperbarui: 4 Oktober 2021   21:20 100 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Pabrik kayu tempat bapakku bekerja bangkrut. Semua karyawan tetap maupun borongan di pabrik itu di PHK. Bapak terpaksa mencari pekerjaan lain yang sekiranya bisa digunakan untuk bisa menyambung hidup. Selama sebulan, beliau wira-wiri dari satu pabrik ke pabrik lainnya untuk mencari pekerjaan. Malangnya, tak satupun pabrik di Surabaya menerima karyawan baru. Selama sebulan, nasib keluarga kami disokong oleh keperkasaan ibuku yang bekerja di pabrik plastik. Demi mendapatkan tambahan penghasilan, beliau setiap hari mengajukan izin lembur.

Untunglah nasib bapak masih baik. Berselang tidak lama setelah PHK masal itu, beliau mendapat pekerjaan baru di Sidoarjo. Atas kebaikan teman kerja terdahulu, bapak diterima di sebuah perusahaan konstruksi. Perusahaan itu sedang membangun berbagai sarana dan prasarana di Kota Sidoarjo dan membuka karyawan baru secara besar-besaran.

Nasib ekonomi kami sedikit berubah setelah bapak bekerja di perusahaan tersebut. Sedikit demi sedikit beliau mulai bisa menata diri dan berani mengambil cicilan bank untuk membeli sebuah rumah bekas di dekat area bencana lumpur Lapindo. Rumah yang tidak terlalu besar itu merupakan anugerah bagi kami karena sejak saat itu kami tidak lagi tinggal di rumah kontrakan.

Rumah yang kami tempati bercat putih. Pemilik lama adalah keturunan Arab yang memiliki toko kerajinan kulit di Tanggulangin. Orang Arab itu menjual murah rumahnya karena memang sudah pindah sejak bencana lapindo meluas. Tinggal di rumah itu memang seperti sedang menjemput maut. Tanggul penahan lumpur bisa jebol kapan saja dan merusak perkampungan. Rumah yang kami tempati bisa saja tenggelam tetapi paling tidak kami mempunyai tempat berlindung yang lebih baik ketimbang tingggal di sebuah kontrakan.

Ketika kami tinggal di rumah bercat putih itu seorang tamu tiba-tiba datang di tengah malam. Tamu itu berpakaian putih-putih dan berjumlah sembilan orang. Kedatangan mereka tentu membuat takut seisi rumah. Tergopoh-gopoh ibu keluar dan membeli sate kambing di gerobak Cak Mapud. Sate itu kemudian disuguhkan yang tidak seorangpun dari tamu itu menjamahnya.

Setelah berbasa-basi sebentar, tamu itu kemudian mengutarakan maksud kedatangannya. Sembilan orang itu adalah utusan dari juragan tanah yang pernah dibantu bapak merenovasi rumahnya. Mereka menanyakan wayang Kresna yang pernah di dapatkan bapak dari juragan tanah itu. Tak lupa mereka membawa wayang Arjuna yang ingin ditukarkan dengan wayang Kresna tersebut.

Bapak dengan wajah menyesal kemudian menceritakan hilangnya wayang Kresna tersebut ketika kami pindah ke Surabaya. Wayang yang disimpan dalam koper itu tiba-tiba menghilang dan tidak diketahui dimana rimbanya. Sembilan orang itu terlihat kecewa tetapi bisa memahami kehidupan kami yang suka berpindah tempat. Jangankan wayang, bahkan pakaian dan perhiasan banyak yang raib dengan kegemaran keluarga kami yang sering berpindah tempat tinggal.

Walaupun tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, sembilan orang itu tetap memberikan wayang Arjuna kepada bapak untuk disimpan dan dirawat. Untungnya, kekecewaan sembilan orang itu langsung terobati tatkala bapak menghadiahi mereka dengan wayang Puntadewa. Wayang itu kata bapak dibuat oleh empu asal Bali yang tinggal menetap di Kota Malang. Sembilan orang itu terlihat sumringah dengan pertukaran barang pusaka tersebut.

Sejak mendapatkan wayang Arjuna, bapak langsung merenovasi ruang tamu tempat benda pusaka itu diletakkan. Karena pemilik rumah sebelumnya adalah orang Arab maka bapak mencari kata-kata mutiara di dalam Al-Quran untuk disandingkan dengan wayang tersebut. Tujuh hari-tujuh malam bapak mencari-cari ayat-ayat yang menarik tidak ketemu. Pada malam yang ketujuh bapak ketiduran sementara Al-Quran jatuh di atas dada dengan posisi terbuka. Ketika bangun mata beliau langsung tertuju pada ayat: "Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengenalnya seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri"

Rumah kami memang sangat sederhana tetapi dari rumah itulah kehidupan baru kami dimulai. Ibuku keluar dari pabrik plastik dan membuka warung beras di depan rumah. Bapak semakin sibuk dengan pekerjaannya sementara aku dinyatakan lulus dari SMP Tabah Sampai Akhir. Di atas tanggul lumpur aku dan teman-teman dari Bajul Edan merayakan kelulusan dengan acara yang sangat sederhana. Sambil mengingat-ingat perjalanan kami selama menjadi anggota Bajul Edan, kami juga mencoba mengangan-angankan cerita di masa depan yang sudah menunggu untuk dijelajahi.

Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan