Mohon tunggu...
Adhiyan Wahyudi
Adhiyan Wahyudi Mohon Tunggu... Freelancer - TAN HANA DHARMA MANGRWA / tak ada kebenaran yang mendua

Fiksioner, Pencinta Alam dan Politikus Lele Dumbo yang berkumis sekaligus berjenggot. Tidak berafiliasi dengan partai politik. Penikmat kopi hitam pahit tanpa gula. Pengagum langit senja. Blog ini khusus cerita fiksi dan posting pada hari Jum'at.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Bacalah!

19 September 2021   13:58 Diperbarui: 19 September 2021   13:59 63 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bacalah!
Sumber: Pixabay

Majapahit adalah kerajaan maritim yang konon membentang dari Sumatera hingga Papua. Kekuasaan yang begitu luas itu diraih ketika kerajaan Hindu-Budha itu dipimpin oleh perdana menterinya yang terkenal yaitu Patih Gajah Mada. Patih Gajah Mada meluaskan pengaruh Majapahit seluas negara Indonesia saat ini. Sayang, kebesaran kerajaan Majapahit seolah hilang dimakan zaman. Bekas ibukota Majapahit tidak pernah ditemukan sementara cerita kebesaran kerajaan itu terus teringat dan dituturkan dari generasi ke generasi.

Apakah Majapahit itu benar-benar ada?

Sampai saat ini para ahli berketetapan bahwa ibukota Majapahit adalah di Trowulan. Pemikiran ini didasarkan dari temuan situs yang banyak jumlahnya. Situs-situs seperti Candi Brahu, Candi Tikus, Candi Wringin Lawang dan Bajang Ratu adalah bukti arkeologis yang tidak bisa dibantah. Uniknya, peninggalan situs di Trowulan tidak hanya bernuansa Hindu-Budha. Di tempat ini juga tersebar situs-situs Islam seperti makam tua di Troloyo yang menunjukkan angka tahun sezaman dengan Kerajaan Majapahit.

Anggapan bahwa situs Trowulan adalah ibukota Majapahit didasarkan pada pernyataan Gubernur Jenderal Inggris yaitu Raffles yang melakukan kunjungan ke Jawa Timur. Raffles yang menemukan situs terbengkalai itu membuat semacam asumsi yang menyatakan bahwa ibukota Majapahit adalah Trowulan. Sayangnya, peninggalan Kerajaan Hindu-Budha itu tidak didukung dengan bukti-bukti fisik yang cukup memadai untuk disebut sebagai kerajaan terbesar nusantara. Trowulan tetaplah sebagai sebagai kota kuno yang jauh dari nuansa Hindu dan Budha.

Kami menjelajahi situs-situs di Trowulan dan menemukan fakta bahwa unsur Islam lebih kental ditemukan di peninggalan kuno ini.

"Sebenarnya Raffles cukup kecewa dengan peninggalan candi-candi di Jawa Timur. Selain jumlahnya kurang, tingkat kemegahannya sangat tidak memadai. Lihatlah situs Trowulan ini! Kita tidak melihat adanya candi-candi megah seperti Borobudur dan Prambanan. Raffles bahkan harus pergi ke Malang untuk mencari bukti kebesaran Majapahit yang dituturkan oleh masyarakat saat itu" kata Sulton di bibir kolam segaran.

"Jadi cerita kebesaran Majapahit itu sudah ada sejak dulu?"tanyaku

"Iya" jawab Sulton sambil mengangguk. "Kisah kebesaran itu bahkan dituturkan dari generasi ke generasi. Cerita Majapahit tidak ubahnya seperti mitos keturunan Alexander di Sumatra. Orang Belanda sampai bingung dan membuat penelitian untuk mengungkap asal-muasal cerita itu."

"Kalau Trowulan ini bukan peninggalan Majapahit, terus situs-situs ini peninggalan siapa?"tanya Fitri

"Jika melihat kedekatan Trowulan dengan Jombang maka aku berteori bahwa situs ini adalah peninggalan pesantren besar masa lampau yaitu Giri Kedaton."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan