Mohon tunggu...
Adhiyan Wahyudi
Adhiyan Wahyudi Mohon Tunggu... Freelancer - TAN HANA DHARMA MANGRWA / tak ada kebenaran yang mendua

Fiksioner, Pencinta Alam dan Politikus Lele Dumbo yang berkumis sekaligus berjenggot. Tidak berafiliasi dengan partai politik. Penikmat kopi hitam pahit tanpa gula. Pengagum langit senja. Blog ini khusus cerita fiksi dan posting pada hari Jum'at.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Semarang

4 September 2021   19:09 Diperbarui: 4 September 2021   19:08 136 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Semarang
Sumber: Pixabay

Semarang adalah kota VOC, demikian Tarko menyebutnya. Sebagai orang Semarang, Tarko ternyata tahu banyak sejarah kota yang memiliki bangunan-bangunan bersejarah era kolonial itu. Dibanding Jakarta, kesejarahan era kolonial lebih kental di kota ini. Secara pribadi aku sangat mengagumi kota yang entah kenapa memiliki nilai kesejarahan yang cukup tinggi. Di setiap sudutnya tersimpan memori masa lalu yang seakan enggan untuk dihapus oleh zaman.

Dari Surabaya kami naik kereta api ekonomi menuju Semarang. Tarko yang ayahnya mendapatkan kenaikan pangkat sangat bangga memperkenalkan semua anggota keluarganya. Kami menginap di rumahnya yang sangat besar dan bergaya kolonial. Sulton menjelaskan jika model bangunan bergaya kolonial itu bernama Indies. Aku sangat kerasan dengan suasananya yang sangat asri dan sejuk. Angin dengan leluasa masuk ke dalam rumah melalui jendela-jendelanya yang lebar.

Kami punya waktu dua hari di Semarang. Waktu yang sangat singkat itu kami manfaatkan sebaik-baiknya. Setelah acara syukuran, kami langsung menjelajah ke seluruh kota. Tujuan kami tentu gedung-gedung tua yang ditinggalkan pemiliknya. Setelah menjelajah ke seluruh sudut kota, Tarko kemudian mengajak kami ke sebuah rumah angker peninggalan Belanda. Rumah itu masih kokoh walaupun seisi rumahnya berantakan. Cat-cat dindingnya sudah mengelupas sementara kayu-kayunya banyak yang dimakan rayap.

"Rumah ini dulu milik sebuah keluarga Belanda yang ditinggalkan ketika Jepang menyerbu Pulau Jawa. Konon, pemilik rumah ditahan oleh pemerintah Jepang dan mati di penjara. Menurut cerita yang lain, pemilik rumah gantung diri setelah tentara Jepang menguasai Semarang" terang Tarko di depan rumah

"Ih..ngeri" ujar Sulton sambil bergidik.

"Gimana kalau nanti malam kita menginap di rumah ini?" usul Deni

"Setuju" sahut Fitri

"Sinting! Nginap di rumah beginian, kita bisa mati kaku tahu"kata Sulton sewot

"Dasar cemen!"bentak Wiro sambil melotot

Menginap di rumah kosong memang kegemaran kami selain kemping di gunung. Tak terhitung rumah kosong yang kami inapi untuk sekedar mencari suasana lain di tengah-tengah kepenatan suasana kota. Hanya saja kami tidak pernah menginap di rumah angker seperti yang kami lihat hari ini. Deni sangat bersemangat untuk mengajak kami menginap di rumah angker itu. Sayangnya, sebelum niat itu terwujud kami diajak kakeknya Tarko untuk melihat berbagai koleksi barang antik di sebuah gudang tua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan