Mohon tunggu...
Adhiyan Wahyudi
Adhiyan Wahyudi Mohon Tunggu... Freelancer - TAN HANA DHARMA MANGRWA / tak ada kebenaran yang mendua

Fiksioner, Pencinta Alam dan Politikus Lele Dumbo yang berkumis sekaligus berjenggot. Tidak berafiliasi dengan partai politik. Penikmat kopi hitam pahit tanpa gula. Pengagum langit senja. Blog ini khusus cerita fiksi dan posting pada hari Jum'at.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Bajul Edan

13 Agustus 2021   20:50 Diperbarui: 13 Agustus 2021   20:56 91 7 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bajul Edan
Sumber: Pixabay

Sama seperti Ko Ma Huan aku bukanlah murid yang awalnya menaruh hormat kepada Pak Badrun. Ini terjadi ketika aku masih duduk di kelas satu. Alasannya cukup sederhana, Pak Badrun mengistimewakan Golok. Aku bersama keenam temanku membentuk kompi penggalang bernama Bajul Edan. Kami mempunyai markas di sebuah pondok. Pondok itu bekas milik nelayan sungai pencari kupang. Di tempat itu kami menyusun kekuatan untuk mengalahkan Golok.

Namaku adalah Arya Jipang.

Deni adalah pemimpin kompi Bajul Edan. Dia anak lurah Ketegan yang nasibnya tidak sebagus jabatan bapaknya. Walau bapaknya bukan penduduk biasa, Deni tidak mendapatkan fasilitas memadai sebagai anak Lurah. Bapaknya adalah orang yang keras dalam mendidik anak-anaknya. Tidak hanya kepada Deni, Bapaknya juga sangat keras kepada kakak-kakaknya. Ini terjadi ketika salah satu kakak Deni lulus kuliah. Alih-alih membantu mencarikan kerja, Bapaknya malah menyuruh kakaknya itu untuk merantau ke Jakarta. Padahal, jika dipikir-pikir sangat mudah mencarikan pekerjaan sebagai batu loncatan seperti staf kelurahan atau ketua RT/RW.

Deni seharusnya juga bisa bersekolah di SMP favorit yang memiliki fasilitas lengkap. Tetapi Bapaknya enggan menggunakan kekuasaannya untuk memperjuangkan anak-anaknya. Anak-anaknya dibiarkan berjuang sendiri dengan kekuatannya sendiri. Didikan itu terlihat jelas dari karakter Deni yang cenderung berjiwa mandiri. Karena kemandiriannya itulah, dia kami angkat sebagai ketua kompi.

Anggota kedua adalah Wiro. Wiro orangnya berangasan. Dia satu-satunya anggota Bajul Edan yang memiliki tubuh paling besar. Wiro adalah anak pemberani. Wiro lahir dari keluarga warok yang dihormati. Walau pemberani, Wiro tidak suka berkelahi. Dia paling benci berkelahi. Hanya di saat-saat tertentu ia sangat menyukai perkelahian. Dia biasanya berkelahi dengan preman-preman kampung yang suka memalak anak-anak kecil dan orang lemah. Wiro memang mempunyai jiwa kepahlawanan. Untuk urusan melawan kejahatan dia tidak takut mati.

Satu-satunya alasan kenapa Wiro masuk menjadi anggota Bajul Edan adalah kebenciannya kepada Pak Badrun. Pak Badrun membela Golok ketika mereka berdua berkelahi di depan tiang bendera. Padahal, Golok waktu itu bersalah karena mencuri pulpen seorang murid putri bernama Ayu. Wiro mungkin satu-satunya murid di SMP Tabah Sampai Akhir yang tidak takut pada Golok. Keduanya memang memiliki postur tubuh yang sama. Keduanya sama-sama besar dan tinggi.

Anggota ketiga adalah Sulton. Dia anggota kami yang paling pintar. Sulton paling benci pada Ko Ma Huan. Selain menganggap pelit, Ko Ma Huan baginya adalah sosok monster yang suka menghisap darah manusia. Kebenciannya dimulai ketika dia tahu bahwa Ko Ma Huan menggemari makanan ekstrim seperti daging anjing, kucing, kelelawar, monyet dan ular. Sulton memang pernah punya kucing kesayangan bernama Ulin. Kucing kesayangannya itu hilang diambil orang saat berada di jalanan. Menurut orang-orang, kucingnya itu diambil orang tidak dikenal dan dimasukkan ke dalam mobil berwarna hitam.

Sulton menjuluki Ko Ma Huan dengan Kadal Gurun. Julukan itu dia sematkan kepada Ko Ma Huan karena pengusaha tahu itu lahir di daerah Gurun Gobi Mongolia. Ko Ma Huan juga dikenal sering melakukan praktik suap-menyuap dan mengkadali aparat-aparat pemerintahan. Dengan suap-menyuap itu bisnisnya menggurita dimana-mana.

Anggota keempat adalah Basori. Dia asli Madura. Sebagai orang Madura, Basori sangat rajin dalam urusan ibadah. Sembahyangnya tidak pernah telat dan ngajinya sangat enak didengar. Basori memang dididik dengan ilmu agama sejak kecil. Walau bukan keturunan Kiai, Basori sudah mondok sejak kecil. Tidak terhitung jumlah pesantren yang pernah dimasukinya. Bapaknya memang berharap agar Basori menjadi Kiai suatu saat. Dalam tradisi Madura, Kiai atau kaum agamawan memang mendapat tempat terhormat. Kiai dalam kultur Madura bahkan lebih dihormati dari aparat pemerintah. Bapaknya berharap agar Basori menjadi tokoh berpengaruh yang sanggup mengangkat derajat keluarga.

Basori mempunyai kakek yang merupakan seorang pejuang. Kakeknya adalah anggota laskar Hizbullah yang ikut berperang dan gugur di pertempuran 10 November. Diantara semua anggota kompi kami hanya Basori yang dekat dengan Pak Badrun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan