Mohon tunggu...
Adhiyan Wahyudi
Adhiyan Wahyudi Mohon Tunggu... Freelancer - TAN HANA DHARMA MANGRWA / tak ada kebenaran yang mendua

Fiksioner, Pencinta Alam dan Politikus Lele Dumbo yang berkumis sekaligus berjenggot. Tidak berafiliasi dengan partai politik. Penikmat kopi hitam pahit tanpa gula. Pengagum langit senja. Blog ini khusus cerita fiksi dan posting pada hari Jum'at.

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Kabut Tengger: Pagi yang Dingin

7 Agustus 2021   05:55 Diperbarui: 7 Agustus 2021   05:58 99 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Kabut Tengger: Pagi yang Dingin
Sumber: Pixabay

Pagi hari, udara di Ranukumbolo terasa sangat dingin. Bunga es terlihat menempel di mana-mana. Tidak hanya di rerumputan, butiran halus berwarna putih itu juga menempel di cover-cover tenda.

Suasana masih sangat sepi.

Di depan tenda, Hilman masih terpekur. Ia duduk di atas sajadah yang warnanya sudah mulai menua. Mulutnya berkomat-kamit sementara matanya terpejam. Sudah sejam lebih ia duduk di tempat itu. Seolah mengabaikan tusukan hawa dingin, laki-laki berjenggot lebat itu tampak syahdu menikmati ketenangan Ranukumbolo.

Sebuah jaket tebal telah membalut tubuhnya. Ia juga melindungi kakinya dengan kaus kaki. Hanya tangannya yang tampak gemetar menahan kebekuan kabut di danau itu.

Sementara ia masih berzikir, Bayu terbangun dari tidurnya. Tangannya meraba-raba resleting yang menutup sleeping bagnya. Ia membuka resleting itu perlahan. Begitu sleeping bagnya terbuka ia mencoba bangkit dari tidurnya. Ditengoknya Fadri sebentar. Laki-laki sedikit gemuk itu masih tertidur. Ia kemudian menyembulkan kepalanya keluar tenda.

Hilman membuka matanya.

Kepala Bayu dilihatnya sudah menyembul dari balik tenda. Perlahan ia bangkit dan membereskan peralatan sembahyangnya. Setelah menyimpan sajadah dan matrasnya, Hilman kemudian menghidupkan kompor.

            Ia memasak air minum.

            "Sudah bangun rupanya, engkau" ujarnya kepada Bayu.

            "Dingin sekali. Berapa suhu pagi ini?" tanya Bayu seraya menggigil.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...
Lihat Konten Novel Selengkapnya
Lihat Novel Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan