Mohon tunggu...
Adhiyan Wahyudi
Adhiyan Wahyudi Mohon Tunggu... Freelancer - TAN HANA DHARMA MANGRWA / tak ada kebenaran yang mendua

Fiksioner, Pencinta Alam dan Politikus Lele Dumbo yang berkumis sekaligus berjenggot. Tidak berafiliasi dengan partai politik. Penikmat kopi hitam pahit tanpa gula. Pengagum langit senja. Blog ini khusus cerita fiksi dan posting pada hari Jum'at.

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Kabut Tengger: Karma

3 Agustus 2021   18:30 Diperbarui: 3 Agustus 2021   18:33 88 8 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Kabut Tengger: Karma
Sumber: Pixabay

           

           Pasca penangkapan itu aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari kepengurusan senat. Selain merasa trauma dengan penangkapan, aku masih shock dengan kenyataan bahwa orang yang kucintai telah menjalin cinta dengan pria lain. Aku menyerahkan mandat itu kepada Pembantu Rektor III. 

Awalnya Pembantu Rektor III enggan menerima surat pengunduran itu, namun setelah kujelaskan beliau akhirnya mengerti dan menyerahkan kepemimpinan senat kepada Arif yang diangkat sebagai pjs. Hari-hari berikutnya aku mulai serius menyelesaikan studiku.

            Sebelum aku memutuskan untuk fokus pada studiku ada beberapa hal yang kuselesaikan seperti serah-terima jabatan termasuk menyelesaikan permasalahan asmaraku.

            Karena Dian sudah jarang terlihat di kampus maka aku memberanikan diri untuk menemuinya di rumah. Di beranda wanita cantik itu menyambutku dengan wajah datar. 

Aku tanpa basa-basi langsung menanyakan perihal berita hubungan asmaranya dengan seorang pengusaha. Dengan berterus terang ia mengatakan telah mempunyai pacar baru. Aku memburunya dengan pertanyaan yang menyudutkan. 

Dengan wajah dingin ia malah menanyakan alasanku merebutnya dari Ridwan. Aku kehabisan kata-kata.Aku tidak punya daya untuk melakukan serangan selanjutnya. 

Dian adalah wanita cerdas yang berhasil mematahkan semua pertanyaanku. Dia tidak hanya berhasil mengelak dari tuduhan yang kulontarkan, pada menit berikutnya ia bahkan mendesakku dengan berbagai pertanyaan yang semuanya tidak bisa kujawab. Aku menyerah kalah.

            Dengan langkah gontai kutinggalkan rumahnya dengan pikiran kacau.

            Pulang dari rumahnya aku tidak langsung kembali ke kosan. Aku mengarahkan vespaku ke arah Dinoyo. Dari Dinoyo aku langsung bergegas ke Sumbersari. Yang menjadi tujuanku adalah kos lamaku tempat Hilman tinggal. Dengan penuh rendah diri kucurahkan semua permasalahanku kepadanya.

            "Aku tidak mengerti kenapa ia secepat itu melupakan diriku. Secepat itu orang lain merebutnya dari tanganku" kataku sambil menggelengkan kepala.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan