Mohon tunggu...
Adhiyan Wahyudi
Adhiyan Wahyudi Mohon Tunggu... Freelancer - TAN HANA DHARMA MANGRWA / tak ada kebenaran yang mendua

Fiksioner, Pencinta Alam dan Politikus Lele Dumbo yang berkumis sekaligus berjenggot. Tidak berafiliasi dengan partai politik. Penikmat kopi hitam pahit tanpa gula. Pengagum langit senja. Blog ini khusus cerita fiksi dan posting pada hari Jum'at.

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Kabut Tengger: Perjalanan yang Melelahkan

3 Agustus 2021   06:16 Diperbarui: 3 Agustus 2021   06:24 76 7 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Kabut Tengger: Perjalanan yang Melelahkan
Sumber: Pixabay

            

Setelah dua jam berjalan mereka mulai merasakan kepayahan. Yang nampak lelah adalah Fadri. Lelaki bertubuh sedikit gemuk itu wajahnya tampak basah bermandikan peluh.

Pakaian yang ia kenakan tidak kalah basah. Sambil terseok-seok ia melangkah menyusuri jalan setapak yang semakin senyap itu. 

Berkali-kali ia menghentikan langkahnya dan mengambil air mineral yang ia simpan di dalam tas ransel. Ia meneguk air minum itu sedikit demi sedikit sambil mengatur nafas sebelum melanjutkan perjalanannya kembali.

Walaupun melelahkan,  untunglah di sepanjang jalan Taman Nasional sudah menyediakan tempat istirahat berbentuk selter. Selter-selter itu dibangun dengan dilengkapi tempat duduk dan atap sederhana. 

Walau tidak terlalu mewah keberadaannya cukup membantu para pendaki yang kelelahan dan ingin beristirahat. Karena ketiga tamunya kecuali Bayu jarang naik gunung, ia memutuskan untuk berhenti dan beristirahat di setiap selter yang mereka temui.

Jam 12 siang mereka akhirnya sampai di Pos 3. Di pos ini Hilman menyuruh ketiga tamunya untuk mempersiapkan diri melewati jalur pendakian yang cukup menanjak. 

Di samping selter penduduk lokal mendirikan lapak dan menjual aneka gorengan. Sambil istirahat mereka membeli gorengan dan kopi susu panas.

"Dulu, gunung ini belum ada selternya.Semua tampak alami. Sekarang di setiap pemberhentian sudah ada pos dan tempat berteduhnya. Bahkan sudah ada penjual gorengannya" kata Bayu sambil melirik penjual gorengan yang mengangguk-angguk membenarkan pernyataannya.

"Paling susah dulu kalau sedang istirahat, eh turun hujan" timpal Hilman.

"Wah, tidak bisa kubayangkan jika sepanjang perjalanan tidak ada gorengan" sahut Fadri sambil mengunyah pisang goreng.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...
Lihat Konten Novel Selengkapnya
Lihat Novel Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan