Mohon tunggu...
Adhiyan Wahyudi
Adhiyan Wahyudi Mohon Tunggu... Freelancer - TAN HANA DHARMA MANGRWA / tak ada kebenaran yang mendua

Fiksioner, Pencinta Alam dan Politikus Lele Dumbo yang berkumis sekaligus berjenggot. Tidak berafiliasi dengan partai politik. Penikmat kopi hitam pahit tanpa gula. Pengagum langit senja. Selalu memakai masker dobel walau sedikit keslepe'en, sudah divaksin dan memimpikan dunia yang bersih dari perusakan alam dan lingkungan. "Siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di bumi ini tempat yang luas dan rezeki yang banyak" https://lorosijienempublisher.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Kabut Tengger: Harimau Jawa

1 Agustus 2021   06:22 Diperbarui: 1 Agustus 2021   06:29 281 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kabut Tengger: Harimau Jawa
Sumber: Pixabay

Jam 6 pagi Hilman membangunkan Bayu yang masih meringkuk di dalam selimut. Ia tampak sudah bersiap dan telah mandi. Sambil menyisir rambut Hilman menyuruh sahabatnya itu untuk membangunkan Fadri dan Marina.

"Tolong bangunkan Fadri dan Marina. Aku menunggu kalian di depan. Jangan lupa bawa semua peralatan kalian."

"Kamu sudah mandi?"

"Sudah."

Bayu menguap sebentar. Setelah meregangkan otot ia kemudian meninggalkan tempat tidurnya. Yang dituju adalah kamar Marina dan Fadri. Dengan mengetuk pintu ia membangunkan masing-masing sahabatnya itu. Dia kemudian menyuruh keduanya untuk lekas mandi dan bersiap-siap.

Jam tujuh tepat mereka akhirnya sudah bersiap dan berkumpul di depan rumah bersama Hilman. Hilman yang saat itu sedang berbincang dengan bapak penjaga rumah kemudian menyerahkan kunci rumah dan mobilnya. Setelah berpamitan ia kemudian mengajak ketiga tamunya untuk mencari warung makan.

Hari masih pagi.Suasana Desa Ranupani terlihat damai. Para penduduk memenuhi ladangnya dan melakukan aktifitas peladang pada umumnya. Di lahan-lahan miring dan perbukitan para peladang itu dengan lihai berpindah dari petak satu ke petak yang lain. Mereka dengan tangkas berjalan sambil membawa sekarung pupuk tanpa sedikitpun merasa takut untuk jatuh.

Fadri memandang para peladang itu dengan perasaan takut.

"Ngeri juga, mereka. Lahan yang berbukit-bukit dilalui tanpa perasaan takut. Membawa sekarung pupuk lagi."

"Mereka sudah terbiasa, Dri" kata Hilman sambil mengarahkan langkahnya ke sebuah warung sederhana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN