Mohon tunggu...
Adhiyan Wahyudi
Adhiyan Wahyudi Mohon Tunggu... Freelancer - TAN HANA DHARMA MANGRWA / tak ada kebenaran yang mendua

Fiksioner, Pencinta Alam dan Politikus Lele Dumbo yang berkumis sekaligus berjenggot. Tidak berafiliasi dengan partai politik. Penikmat kopi hitam pahit tanpa gula. Pengagum langit senja. Selalu memakai masker dobel walau sedikit keslepe'en, sudah divaksin dan memimpikan dunia yang bersih dari perusakan alam dan lingkungan. "Siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di bumi ini tempat yang luas dan rezeki yang banyak" https://lorosijienempublisher.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Novel

Kabut Tengger: Medina

30 Juli 2021   05:27 Diperbarui: 30 Juli 2021   05:28 68 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kabut Tengger: Medina
Sumber: Pixabay

"Tetapi kita tidak harus bubaran, Yu" ujar Medina memelas. "Kalau kamu merasa sibuk dan harus mengurus Senat Mahasiswa kita bisa menyelesaikan masalah itu dengan tidak bertemu. Satu bulan, satu semester atau satu tahun aku siap tidak bertemu."

"Tetapi aku takut kamu kecewa, Din."

"Aku siap menunggumu kapan saja. Kita off-kan dulu pacarannya. Nanti kalau keadaannya sudah normal hubungan itu kita lanjutkan kembali."

Aku menarik nafas panjang. Masalah yang kuhadapi memang sangat pelik. Medina tentu akan marah jika aku berterus terang. Jika aku tidak berterus-terang maka sampai kapan pun dia tidak akan mau diputus. Medina orangnya penyabar dan bersikap mau mengalah.

"Bagaimana jika kamu bertemu pria lain ketika kita sedang off?"

"Tidak mungkin. Cintaku hanya padamu. Takkan mungkin kubagi dengan orang lain."

Aku kembali menarik nafas panjang. Sedetik lalu aku merasa haru dengan pernyataannya yang jujur. Medina adalah cewek paling baik yang pernah kukenal. Dia benar-benar mencintaiku dengan tulus. Ia juga tidak mengungkit-ungkit masalah kenapa panggilannya di telepon tidak pernah kutanggapi.

Hati nuraniku kembali berontak. Tidak layak aku menyakiti wanita sebaik dia. Medina memberikan segalanya untukku. Dia mencintaiku dengan cinta yang sebenarnya. Ingin sekali aku melepaskan Dian dan kembali menjalani hubungan normal dengannya. Hanya saja sekelabat wajah Dian yang jelita tiba-tiba memalingkan hatiku dari kebaikan hati wanita yang sudah kupacari sejak semester dua itu. Wajah Dian yang mempesona terus menarikku dan membuang dengan tanpa perasaan hati Medina yang suci dan bersih.

"Kalau aku bertemu dengan wanita lain ketika masa off itu?"

Roman muka Medina tiba-tiba berubah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN