Mohon tunggu...
Adhiyan Wahyudi
Adhiyan Wahyudi Mohon Tunggu... Freelancer - TAN HANA DHARMA MANGRWA / tak ada kebenaran yang mendua

Fiksioner, Pencinta Alam dan Politikus Lele Dumbo yang berkumis sekaligus berjenggot. Tidak berafiliasi dengan partai politik. Penikmat kopi hitam pahit tanpa gula. Pengagum langit senja. Selalu memakai masker dobel walau sedikit keslepe'en, sudah divaksin dan memimpikan dunia yang bersih dari perusakan alam dan lingkungan. "Siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di bumi ini tempat yang luas dan rezeki yang banyak" https://lorosijienempublisher.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Pak Badrun (Bukan Sinetron Ikatan Cinta)

19 Juli 2021   08:06 Diperbarui: 19 Juli 2021   08:10 114 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pak Badrun (Bukan Sinetron Ikatan Cinta)
Sumber Pixabay

Sekolah kami bernama SMP Tabah Sampai Akhir. Berdiri di pinggir sungai Kalimas, sekolah ini kurang begitu dikenal bahkan oleh penduduk Sepanjang. Selain tempatnya terpencil, SMP Tabah Sampai Akhir juga bukan sekolah favorit. Sekolah kami seolah ditelan oleh sejarah walaupun dia adalah pemilik sejarah. SMP Tabah Sampai Akhir dulu pernah menjadi markas pejuang di masa revolusi fisik. Di tempat inilah, para pejuang dari front Karangpilang menyusun kekuatan.

Bangunan sekolah kami membentuk huruf U. Bangunan ini berhadapan langsung dengan pabrik tahu yang baunya tidak mau tahu. Para murid dan guru memang harus maklum. Di zaman modern ini pendidikan bukanlah nomer satu. Pendidikan adalah nomor kesekian. Pendidikan bukanlah tujuan pembangunan.

Guru-guru di SMP Tabah Sampai Akhir datang dan pergi seperti angin. Tidak ada yang sanggup menetap lama untuk mengajar anak-anak yang orang tuanya tidak punya penghasilan tetap. Selain alasan kesejahteraan, guru-guru yang mengajar di sekolah ini juga tidak kuat dengan perilaku anak didiknya yang sebagian besar susah diatur.

Sebut saja Golok. Golok adalah murid ternakal sekolah ini. Sejak kelas satu, kenakalannya sudah terkenal. Selain sering bolos, Golok juga sering berkelahi. Sudah tidak terhitung berapa banyak perkelahian yang ia lakukan. Mulai dengan sekolah tetangga hingga perkelahian antar suporter, ketika Persebaya bermain di Gelora Bung Tomo. Golok, demikan namanya sangat ditakuti, tidak hanya oleh murid-murid SMP Tabah Sampai Akhir tetapi juga guru-gurunya. Tidak ada yang ditakuti oleh remaja tanggung itu kecuali Pak Badrun.

Pak Badrun adalah kepala sekolah SMP Tabah Sampai Akhir. Orangnya kurus kecil dan kulitnya sedikit putih. Sebagai kepala sekolah kehidupan pribadi beliau jauh dari kata makmur. Rumah Pak Badrun terletak di sekitar aliran Sungai Kalimas. Rumah kecil ukuran 5 x 10 meter itu adalah rumah jenis kelontong yang pintu depannya lubang disana-sini. 

Selain mengajar, Pak Badrun juga berjualan barang kebutuhan pokok. Pak Badrun hidup sendiri. Istri dan anaknya sudah lama meninggal. Pak Badrun memang sudah tua. Orang-orang mengatakan kalau Pak Badrun adalah orang-orang yang tersisa dari angkatan '45.

Sebagai mantan pejuang Pak Badrun sangat dihormati. Setiap bulan Agustus Pak Badrun menjadi pemimpin upacara. Upacara sederhana di tingkat RW itu tak jarang didatangi puluhan veteran yang entah datang dari mana. Mereka berduyun-duyun dengan kendaraan berplat luar kota. Upacara memperingati HUT RI itu terkadang mirip acara reuni. Para pesertanya jauh dari kesan muda. Banyak diantara mereka yang sudah renta dan berusia senja.

Walau veteran perang, Pak Badrun tidak menerima pensiun atau lebih tepatnya menolak tunjangan Pemerintah. Sudah berkali-kali pegawai kecamatan atau koramil datang ke rumah Pak Badrun untuk melakukan pendataan. Mereka selalu mendapat jawaban yang sama. Pak Badrun menolak uang pensiun dengan berbagai alasan.

"Perjuangan kami mempertahankan kemerdekaan bukanlah untuk menerima imbalan jasa. Kami berjuang agar kalian dan anak cucu kita bisa menikmati hidup yang lebih baik. Permintaan kami sederhana. Jangan sia-siakan perjuangan kami! Isilah kemerdekaan bangsa ini dengan kerja keras! Jangan sekali-kali korupsi! Jangan melindungi korupsi. Itu saja," terangnya kepada petugas kecamatan dan koramil itu.

Selain dihormati oleh pegawai kecamatan dan koramil, Pak Badrun juga disegani oleh Ko Ma Huan. Ko Ma Huan adalah pemilik pabrik tahu yang jaringan bisnisnya menggurita dimana-mana. Ko Ma Huan memang dikenal kaya sejak dalam kandungan. Ayahnya adalah pengusaha tahu legendaris. Sejak zaman kemerdekaan Ayah Ko Ma Huan dikenal sebagai seorang pebisnis handal. Walau kelahiran Tiongkok, ayah Ko Ma Huan berhasil mengembangkan bisnis tahu dengan cepat. Kini, Ko Ma Huan mewarisi bisnis ini dan mengembangkannya hingga membuka cabang di mana-mana.

SMP Tabah Sampai Akhir dulunya adalah barak bagi pekerja tahu yang didatangkan khusus dari Tiongkok. Para pekerja yang di negerinya adalah pemuda-pemuda miskin itu dibawa Ko Ma Huan dan ditempatkan di ruang-ruang kecil di belakang pabrik. Mereka hidup di situ berpuluh-puluh tahun sampai akhirnya bisa mendirikan bisnisnya sendiri dan menyebarkannya ke seluruh penjuru Jawa Timur. Ketika perang kemerdekaan, barak pekerja pabrik tahu itu menjadi markas pejuang. Ayah Ko Ma Huan kemudian menghibahkan tanah dan bangunan itu kepada komandan tentara saat itu yaitu Pak Badrun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x