Mohon tunggu...
Adhiyan Wahyudi
Adhiyan Wahyudi Mohon Tunggu... Belajar menulis untuk mengisi waktu luang

Pencinta Alam yang hobi mendaki gunung, membaca dan bercerita. Penikmat kopi dan langit senja.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Menipu Para Raksasa

14 Mei 2021   08:04 Diperbarui: 14 Mei 2021   08:19 52 2 0 Mohon Tunggu...


Di depan Candi Brambanan Cornelis termangu. Ada kekuatan dahsyat yang memancar dari tumpukan batu yang berserakan itu. Entah kenapa jiwanya bergetar. Ia seolah tidak asing dengan formasi tiga batu  yang tersusun menjadi bangunan misterius itu. Kiai Wilawuk yang sedang mengunyah sirih tersenyum.

"Kenapa, Tuan. Ada kenal dengan bangunan ini?"tanya Kiai Wilawuk.

"Iya, Kiai. Saya seolah kenal dengan bangunan ini. Tapi entah dimana."

"Bukankah ini mirip Golgota. Lihatlah bangunan ini, Tuan! Tidakkah Tuan teringat dengan peristiwa menyedihkan tatkala Yesus Kristus di salibkan?"

Seolah teringat, Cornelis menepuk jidatnya.

"Benar. Bangunan ini mirip dengan peristiwa Golgota."

Kiai Wilawuk kemudian mengajak Cornelis mendekat ke arah candi. Ia menunjukkan relief yang melingkari ketiga candi. Dua pengawal mengikuti langkah mereka berdua sementara yang lain berjaga-jaga penuh siaga di tempat yang tidak jauh dari candi utama. Dari penjelasan Wedana itu tahulah kisah cerita dalam relief itu. Candi tengah dan candi paling kanan menyambung sementara candi paling kiri memuat cerita tersendiri.

"Jika Anda membaca Injil tentu Tuan tahu ucapan seseorang yang ada di sisi kanan Yesus Kristus yaitu  seorang penyamun yang bertobat"

"Yesus, ingatlah akan aku apabila Engkau datang sebagai Raja!"

"Benar. Tepat sekali."ujar Kiai Wilawuk senang."Tapi saya hari ini tidak akan menerangkan isi Kitab Injil karena saya kira Tuan lebih tahu dari saya. Saya akan menjelaskan sejarah keturunan Alexander di Jawa."

Mereka kemudian mencari tempat yang enak untuk berbicara. Kebetulan di sisi timur ada pohon besar yang cukup rindang. Mereka bergegas menuju tempat itu. Beberapa serdadu mengikuti langkah cepat mereka. Di tempat yang cukup nyaman mereka duduk bersandar. Cornelis membuka buku jurnalnya dan menulis beberapa catatan. Tidak lupa ia membuat sketsa kasar bangunan candi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN