Mohon tunggu...
Adhiyan Wahyudi
Adhiyan Wahyudi Mohon Tunggu... Edisi Perayaan Kemerdekaan. MERDEKA CUI!

Pencinta Alam yang hobi mendaki gunung, membaca dan bercerita. Penikmat kopi dan langit senja. SAY NO TO NUCLEAR WEAPONS !!!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Prabu Siliwangi

4 April 2021   12:34 Diperbarui: 4 April 2021   12:38 226 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Prabu Siliwangi
Gunung Semeru (Dok.Pribadi)

Prabu Siliwangi adalah tokoh besar di tatar Sunda yang mengejewantahkan raja sejati. Seperti termaktub dalam Uga Wangsit Siliwangi, Raja Pandhita Agung tersebut menyabdakan kata-kata penuh filosofi. Sabdanya adalah; "Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia padaku ! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi Pajajaran ! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru yang berdiri oleh perjalanan waktu ! Pilih ! aku tidak akan melarang, sebab untukku, tidak pantas jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin."

Prabu Siliwangi adalah raja yang memiliki hubungan dekat dengan Prabu Linggabuana. Tatkala Prabu Linggabuana wafat di Bubat, Prabu Siliwangi diangkat menjadi raja menggantikannya. Uniknya, Prabu Siliwangi menjadi Raja bersamaan dengan maklumat Sunan Gunung Jati yang menyatakan kemerdekaan Cirebon atas Pajajaran.

Perlu diingat bahwa Pangeran Cakrabuana yang menjadi perintis Kerajaan Cirebon adalah mertua Sunan Gunung Jati. Pangeran yang dikenal sebagai Arya Lamajang ini menikahkan putrinya yaitu Nyai Pakungwati dengan Sunan Gunung Jati. Dari pernikahan itu Sunan Gunung Jati diceritakan tidak memperoleh keturunan sehingga tahta Kerajaan Cirebon diberikan Sunan Gunung Jati kepada anak keturunan dari istri yang lain yaitu Nyai Tepasari. Anehnya, Nyai Tepasari adalah putri Pangeran Tepasan yang notabene adalah pembesar Majapahit di Lamajang. Karena kesamaan asal muasal itu maka bisa jadi Pangeran Tepasan adalah Pangeran Cakrabuana itu sendiri.

Pada masa itu Lamajang masuk dalam wilayah Blambangan. Salah satu tokoh Islam asal Blambangan adalah Sunan Giri atau Raden Paku. Sunan Giri adalah penguasa Gresik yang membawahi wilayah Surabaya, Malang, Blambangan dan Madura. Pasca runtuhnya Majapahit, Giri Kedaton yang didirikannya menjadi penguasa de facto di wilayah Jawa Timur. Sunan Giri pada masa itu mempunyai kekuasaan untuk melantik raja-raja Islam setelah menggantikan posisi Sunan Ampel sebagai pemimpin para wali. Jika Pangeran Cakrabuana mempunyai kekuasaan untuk melantik Sunan Gunung Jati menjadi Raja Cirebon maka boleh jadi sosok tersebut adalah Sunan Giri sendiri.

Jika Sunan Giri, Pangeran Tepasan dan Pangeran Cakrabuana adalah satu orang maka bisa jadi Prabu Linggabuana yang disebut-sebut sebagai korban "keganasan" Majapahit adalah Raja Blambangan yang memang sejak zaman Airlangga sudah menjadi penguasa wilayah merdeka. Raja Blambangan tersebut kemungkinan besar adalah Nambi yang tidak lain adalah putra Arya Wiraraja. Nambi sendiri tewas dalam penyerbuan Majapahit dan dimakamkan di wilayah Prabulingga atau Probolinggo.

Sesuai babad, Blambangan diceritakan sebagai Kerajaan Hindu terakhir di Jawa Timur. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan fakta-fakta bahwa wilayah Blambangan menjadi Islam tatkala Arya Wiraraja memindahkan orang-orang Madura ke pesisir utara Blambangan. Pun demikian raja-raja Blambangan memakai gelar Menak yang tidak lain adalah sebutan bagi bangsawan Sunda dan beragama Islam. Arya Wiraraja sendiri kemungkinan besar adalah pembesar Yuan beragama Islam yang dilahirkan di Nanking (dalam babad disebutkan dilahirkan di Nangkaan). Ketika Raden Wijaya meminta bantuan untuk mengalahkan Jayakatwang maka tentu sangat mudah meminta kiriman pasukan dari Tiongkok.

Tapi apakah benar Prabu Siliwangi adalah Raja Islam yang berkuasa di Blambangan tentu membutuhkan penelitian lebih lanjut. Dalam babad tanah Jawi, Prabu Brawijaya berpesan kepada Sunan Kalijaga untuk bersiap menerima kedatangan Dyah Hyang tanah Jawa yang ditandai dengan bergantinya nama Blambangan menjadi Banyuwangi. Apakah itu pertanda bahwa Prabuwangi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Blambangan? Entahlah...

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x