Mohon tunggu...
Adhiyan Wahyudi
Adhiyan Wahyudi Mohon Tunggu... Belajar menulis untuk mengisi waktu luang

Pencinta Alam yang hobi mendaki gunung, membaca dan bercerita. Penikmat kopi dan langit senja.

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

Minggu Teror

1 April 2021   23:18 Diperbarui: 1 April 2021   23:50 161 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Minggu Teror
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.(ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA) 

Seminggu ini kita disuguhkan dengan berita terorisme yang sungguh membuat kita mengelus dada. Bagaimana tidak prihatin, para pelaku yang usianya masih sangat muda melakukan hal-hal tidak masuk akal dengan membunuh dirinya sendiri demi alasan agama. 

Bom pertama minggu ini adalah teror di Makassar yang menargetkan Gereja Katedral. Pelakunya adalah pasangan suami istri yang baru saja menikah. Teror selanjutnya adalah Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia yang dilakukan oleh seorang peneror berjenis-kelamin perempuan yang membawa senjata api.

Dari pengakuan mantan anggota JAD (Jamaah Ansharut Daulah), alasan orang mengikuti organisasi terorisme adalah adanya pembaiatan terhadap pemimpin ISIS yaitu Abu Bakar Al-Baghdadi yang dipercaya sebagai Imam Mahdi. 

Imam Mahdi sendiri adalah sosok khalifah akhir zaman yang dipercaya menjadi hakim adil yang akan mengadili setiap perselisihan sehingga orang yang berselisih hebat bahkan hendak saling membunuh akan menerima putusannya saking adilnya. Imam Mahdi juga akan menjadi sosok yang dermawan yang memberikan harta kekayaannya tanpa keinginan sedikitpun untuk menghitung-hitungnya. 

Tentu sifat itu tidak tercermin dari sikap Abu Bakar Al-Baghdadi yang bukannya dermawan dan adil tetapi malah "ngrepoti". Bahkan sekedar pembawa panji-panji hitamnya saja sosok Abu Bakar Al-Baghdadi tidak cocok.

Walaupun ditinjau secara keilmuan dan dalil-dalil hadis keberadaan ISIS sangat jauh dari personifikasi sosok Imam Mahdi entah kenapa masih saja ada orang yang tertipu. Tidak hanya orang awam, bahkan orang-orang yang berpendidikan tinggi sekalipun banyak yang menjadi pengikut ISIS dan menjadi teroris. Tidak kurang Ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdhatul Ulama) memberi pernyataan tentang keberadaan paham Salafi dan Wahabi yang menjadi pintu masuk bagi gerakan terorisme di Indonesia. Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar juga tidak sepenuhnya salah.

Di Indonesia gerakan teror mengatasnamakan agama dilakukan pertama kali oleh DI/TII. DI/TII pada masa itu kerap melakukan teror terhadap masyarakat dengan tujuan untuk mendirikan Negara Islam. Gerakan yang dipimpin oleh Kartosuwiryo ini musnah setelah pemimpinnya dijatuhi hukuman mati. 

Sayangnya, gerakan DI/TII dilanjutkan oleh gerakan NII yang walaupun secara organisasi berbeda tetapi memiliki tujuan yang sama yaitu mendirikan Negara Islam. Pasca runtuhnya Orde Baru, gerakan ini cukup gencar menyasar mahasiswa-mahasiswa baru. 

Di Malang gerakan ini dulu secara sembunyi-sembunyi juga merekrut anggota-anggota baru. Ciri perekrutan anggota dari organisasi ini adalah secara tertutup dan tidak dilakukan di masjid-masjid. Mereka biasanya memilih mushola-mushola kecil atau rumah-rumah kontrakan untuk perekrutan. Karena sangat tertutup mereka sering mengelabuhi metode kerjanya dengan tidak menggunakan simbol-simbol agama. 

Berbeda dengan gerakan Salafi dan Wahabi yang membicarakan akidah dan perang pemikiran, gerakan NII fokus menarik anggota baru. Pun demikian NII juga melakukan serangkaian cuci otak sehingga anggota baru susah keluar karena ditodong dengan ancaman-ancaman.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN