Mohon tunggu...
Adhiyan Wahyudi
Adhiyan Wahyudi Mohon Tunggu... Belajar menulis untuk mengisi waktu luang

Freelancer. Lulusan Teknik Mesin ITN Malang. Hobi mendaki gunung, membaca dan bercerita. Penikmat kopi dan langit senja.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Kilang Suharto

8 April 2021   21:32 Diperbarui: 8 April 2021   21:40 112 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kilang Suharto
ANTARA FOTO/Dedhez Anggara 

Berita mengejutkan datang dari unit pengolahan minyak di  RU (Refinery Unit) VI Balongan. Kilang Minyak yang dibangun tahun 90' an itu diberitakan mengalami kebakaran dengan disertai ledakan hebat pada hari Senin dini hari tanggal 29 Maret 2021. Kebakaran di unit pengolahan milik Pertamina ini semakin menambah deret panjang musibah di bidang migas. 

Sebelumnya, kilang ini juga pernah mengalami kejadian serupa pada tahun 2019. Khusus peristiwa kemarin sore indikasi kebakaran mengarah pada adanya kontak antara minyak dengan petir yang menyambar di area tersebut. 

Kilang  RU (Refinery Unit) VI Balongan sendiri merupakan kilang lama yang dibangun pada era orde baru. Jika petir menjadi penyebab kebakaran maka dari mana asal minyak yang menjadi pelengkap segitiga api (oksigen, panas dan bahan bakar) ?

Kita sudah paham bahwa pemerintahan Presiden Suharto adalah satu-satunya rezim yang berhasil membawa kejayaan bagi Indonesia utamanya dalam bidang migas. 

Pada masa pemerintahan yang cukup lama itu Indonesia berhasil membangun infrastruktur migas utamanya pembangunan kilang minyak yang kini bisa dinikmati oleh masyarakat pengguna produk migas. 

Paling tidak ada tujuh kilang minyak yang dibangun pada masa pemerintahan Presiden Suharto yaitu; RU (Refinery Unit) I Pangkalan Brandan Sumatera Utara dengan kapasitas 5 ribu barel perhari (ditutup tahun 2007),  RU (Refinery Unit) II  Dumai/Seipakning Riau kapasitas 177 ribu barel perhari,  RU (Refinery Unit) III Plaju Sumatera Selatan kapasitas 145 ribu barel perhari,  RU (Refinery Unit) IV Cilacap kapasitas 548 ribu barel perhari,  RU (Refinery Unit) V Balikpapan Kalimantan Timur kapasitas 266 ribu barel perhari,   RU (Refinery Unit) VI Balongan Jawa Barat kapasitas 125 ribu barel perhari dan  RU (Refinery Unit) VII Sorong Papua kapasitas 10 ribu barel perhari. Setelah Presiden Suharto tidak berkuasa Pertamina absen dalam pembangunan kilang minyak. Pertamina melakukan semacam "modifikasi" penambahan kapasitas untuk memenuhi ketersediaan bahan bakar di Indonesia.

Dalam proses upgrading ini pengerjaannya tentu tidak mematikan unit operasi. Pekerjaan panas seperti pengelasan tentu dilakukan dengan sangat hati-hati. Saya pribadi percaya bahwa Pertamina memiliki sistem keamanan yang maksimal dan sangat ketat. 

Prosedur keselamatan dalam pekerjaan tentu mengindahkan Job Safety Analysis dan tidak sembarang memberikan izin bagi para pekerja untuk melakukan aktifitas pekerjaan panas di area unit yang sedang beroperasi. Masalahnya kecelakaan kerja bisa menimpa siapa saja. 

Tidak peduli seberapa ketat implementasi HSE (Health, Safety and Environment) di area kerja, kecelakaan bisa terjadi kapan saja. Masalahnya adalah sampai kapan kita akan melakukan proses upgrading kilang minyak. 

Kilang Minyak tidak bisa terus diupgrade karena memiliki masa operasi yang efektif dan efisien. Indonesia membutuhkan kilang baru yang bisa bekerja lebih efisien.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN