Mohon tunggu...
Adhiyan Wahyudi
Adhiyan Wahyudi Mohon Tunggu... Belajar menulis untuk mengisi waktu luang

Pencinta Alam yang hobi mendaki gunung, membaca dan bercerita. Penikmat kopi dan langit senja.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Tiga Kesalahan Pak Jokowi

15 Maret 2021   06:58 Diperbarui: 15 Maret 2021   07:10 492 11 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tiga Kesalahan Pak Jokowi
Presiden Joko Widodo mengenakan kemeja cheongsam rancangan Anne Avantie pada perayaan Imlek 2021 yang diselenggarakan secara virtual, Sabtu (20/2/2021

Menulis adalah seni untuk memetakan isi pikiran. Dengan menulis kita bisa mengurai berbagai masalah sekaligus mengetahui cara kerja otak kita. Bayangkan seorang insinyur yang sedang mendesain suatu produk teknologi. Dia akan membutuhkan coretan-coretan awal yang sifatnya general sehingga kelak bisa disempurnakan dengan desain yang lebih menyeluruh dan detail. 

Tidak peduli apa profesi kita, menulis mutlak diperlukan bahkan seharusnya diwajibkan sejak kecil untuk mempersiapkan kesamaan harmoni antara pikiran dan tangan. Apa yang kita pikirkan itulah yang harus dicapai.

Ini bukan pertama kali saya mempunyai akun di Kompasiana. Saya dulu pernah punya akun dan menjadi kompasioner sejak tahun 2012. Akun itu terpaksa saya tutup dan berhenti menulis setelah melihat sebuah pemerintahan yang menjanjikan dari Bapak Jokowi yang menjadi harapan rakyat. 

Saya memang salah satu anak bangsa yang mendukung pemerintahan Bapak Jokowi yang saat itu menurut saya memiliki kesan merakyat dan tidak elitis. Walaupun tidak dibayar, saya di akun sebelumnya menjadi semacam buzzer yang selalu menuliskan kesan-kesan positif bagi calon presiden harapan rakyat tersebut. Sebagai anak bangsa saya tentunya ikut senang jika memiliki seorang pemimpin yang bisa membawa kesejahteraan masyarakat.

Tentunya buzzer zaman lampau tidak seganas sekarang. Pada masa lampau para buzzer tidak sampai membuat tulisan-tulisan robotik yang kerjaannya hanya mengomentari rival Pak Jokowi. Sepengetahuan saya, para pendukung Pak Jokowi di masa lampau hanya fokus menulis tentang kebaikan beliau dan sisi-sisi positif yang sekiranya sanggup menarik para pemilih.

Pak Jokowi memang sosok fenomenal. Saya tinggal di Bandung waktu itu dan mendengar sosok beliau yang dinaikkan karirnya menjadi Presiden Republik Indonesia. Sangat sangat percaya dengan jargon kampanye beliau yaitu Revolusi Mental

Kata-kata itu betul menyihir dan membuat seorang pekerja swasta seperti saya merasa terpanggil untuk memperjuangkan apa yang menjadi harapan rakyat. Kebetulan beliau adalah anggota Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) seperti saya sehingga merasa sepemikiran. Pun demikian Pak Jokowi memiliki nomor induk anggota Mapala yang sama dengan saya yaitu 216. Jadinya dukungan terhadap beliau seolah-olah tidak sia-sia.

Sayangnya ketika beliau sudah memegang tampuk kekuasaan apalagi di periode kedua ini saya melihat berbagai kebijakan yang sepertinya akan jauh dari cita-cita merevolusi mental bangsa. Salah satunya adalah masalah kedaulatan di Natuna yang seolah-olah mengabaikan harga diri bangsa. Kita tentu ingat dengan kata-kata beliau yang menyebutkan bahwa Bangsa Indonesia sudah lama memunggungi lautan. 

Pak Jokowi pada waktu itu dalam bayangan saya akan membangun suatu pertahanan yang kuat seperti era Mpu Nala dari Majapahit. Tetapi kenyataan berbicara lain. Bahkan seorang menteri kuat sekaliber Ibu Susi Pudjiastuti saja diganti padahal penenggelaman kapal adalah cara Majapahit menakuti para perompak di masa lampau.

Masalah kedua adalah "pelemahan" KPK dengan dibentuknya Dewan Pengawas yang dipilih oleh Presiden. Seperti hendak "memata-matai" lembaga antirasuah itu, upaya untuk menjinakkan lembaga yang menjadi simbol perjuangan dan amanat reformasi dibungkus dengan alibi untuk memperkuatnya. Memang, KPK dalam perjalanannya selalu independen tetapi dengan merevisi UU KPK dan tidak menggugurkannya maka sudah ada niat tidak baik untuk mengkhianati cita-cita reformasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x