Mohon tunggu...
Adhiyan Wahyudi
Adhiyan Wahyudi Mohon Tunggu... Belajar menulis untuk mengisi waktu luang

Pencinta Alam yang hobi mendaki gunung, membaca dan bercerita. Penikmat kopi dan langit senja.

Selanjutnya

Tutup

Hukum Pilihan

Impresi Pertama

13 Maret 2021   08:05 Diperbarui: 13 Maret 2021   11:01 101 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Impresi Pertama
Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay 

Pepatah leluhur mengatakan: "Dimana tanah dipijak disitu langit dijunjung."

Pepatah itu mengingatkan saya waktu pertama kali melamar kerja. Saat itu rambut saya masih gondrong. Dengan pedenya saya menghadap HRD (Human Resource Development) untuk interview pada perusahaan swasta di Surabaya. Selama interview HRD sedikit kurang enak melihat rambut saya yang awut-awutan dan kurang rapi (model rambut saya waktu kuliah). Kami bercakap-cakap di sebuah ruangan yang dingin. Setelah dua jam saya langsung disuruh pulang untuk menunggu konfirmasi selanjutnya. Sebelum meninggalkan ruangan, HRD dengan nada sopan mengingatkan saya untuk merapikan rambut sebelum interview dengan user yang dalam hal ini adalah divisi teknik.

Beberapa bulan selanjutnya saya menunggu dan ternyata kabar untuk interview selanjutnya tidak pernah saya dapatkan. Seorang teman kemudian mengatakan jika impresi saya gagal di pandangan pertama. Seorang HRD mempunyai kekuatan "supranatural" yang tidak saja bisa melihat sifat calon pekerja dari tampilan fisik tapi juga dari cara bicara bahkan dari cara berkedip. Masih menurut kawan saya itu, impresi itu penting sepenting cara kita menjawab seratusan pertanyaan.

Tapi kali ini saya tidak akan menceritakan pengalaman saya dengan HRD tersebut. Yang akan saya bicarakan kali ini adalah kasus pelanggaran HAM masa lalu yang hingga saat ini menjadi pekerjaan rumah yang tidak terselesaikan.

Beberapa waktu yang lalu Presiden Jokowi secara pribadi sudah mengingatkan Jaksa Agung yaitu Bapak ST Burhanuddin untuk menuntaskan kasus HAM (Hak Asasi Manusia). Kenapa saya sebut secara pribadi? Karena pernyataan Pak Jokowi itu sangat kontras dengan tindakan Pak ST Burhanuddin dan institusi Kejaksaan Agung yang membuat tafsir sendiri atas kasus Semanggi I dan II bahkan melakukan upaya banding di Pengadilan Tinggi Tata Usaha. Hasilnya Kejaksaan Agung menang dan kasus Semanggi I dan II dianggap bukan pelanggaran HAM berat.

Seperti sudah kita ketahui Indonesia mempunyai lembaga yang memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk melakukan penyelidikan (pro justicia) kasus HAM yaitu Komnas HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia). Komnas HAM sudah membuat penyelidikan yang hasilnya adalah menyatakan bahwa kasus Semanggi I dan II adalah pelanggaran HAM berat. Kalaupun Kejaksaan Agung menyandarkan pernyataannya berdasarkan hasil rekomendasi DPR periode 1999-2004 maka  hal itu tentu sangat lucu mengingat DPR tidak termasuk lembaga Yudikatif. Berbeda dengan Komnas HAM yang memang tergolong dalam jajaran Yudikatif yang memiliki kuasa untuk melakukan penyelidikan (pro justicia) kasus hukum khususnya masalah Hak Asasi Manusia.

Masalah pelanggaran HAM memang tidak pernah menjadi konsentrasi kita untuk membangun negara. Kita cenderung mengacuhkan karena akan berhadapan dengan nama baik kita sendiri. Pelanggaran HAM adalah aib yang memang sebijaksananya tidak diumbar apalagi dibuka. Tetapi jika kita bersikap jujur tentu orang lain akan lebih percaya. Kita harus ingat tidak ada manusia dan negara paling suci di dunia. Semua mempunyai aib dan keburukan. Masalahnya adalah kita mau bertobat dan memperbaiki diri atau tidak? Kita mempunyai kesungguhan untuk menjadi pribadi dan negara yang lebih baik atau tidak? Itu masalahnya.

Penyelesaian kasus HAM adalah langkah pertama untuk mengubah negara kita menjadi negara maju. Dengan menyelesaikan kasus HAM maka kita akan terpandang sebagai negara yang benar-benar menjunjung tinggi supremasi hukum. Itu kalau kita mau memperbaiki impresi kita dihadapan negara-negara lain di dunia.

Saya jadi ingat wajah HRD yang saya temui saat itu. Dengan wajahnya yang ramah beliau memberi saya harapan untuk bersiap di interview selanjutnya. Saya memang gagal pada waktu itu tetapi paling tidak untuk diri sendiri. Saya tidak bisa membayangkan jika kegagalan saya waktu itu adalah kegagalan sebuah negara untuk mendapatkan impresi pertama agar dipercaya sebagai negara beradab dan maju.

VIDEO PILIHAN