Mohon tunggu...
Adhan Efendi
Adhan Efendi Mohon Tunggu...

Seorang Mahasiswa yang berjuang di Jurusan Pendidikan Teknologi Kejuruan, bercita-cita menjadi dosen, penulis buku dan riset di bidang pendidikan.. memiliki impian untuk dapat melanjutkan kuliah dan membahagiakan kedua orang tua motto hidup " Kami Adalah Pahlawan Dunia Pendidikan Masa Depan "

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kesenian Wayang dan Sebuah Pesan untuk Masa Depan

30 April 2016   21:22 Diperbarui: 1 Mei 2016   00:16 0 4 3 Mohon Tunggu...

Festival Dalang Cilik (FDC) VI yang merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Museum Pendidikan Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. FDC VI di mulai dengan kegiatan pembukaan pada tanggal 30 April 2016 pukul 19.30-24.00 WIB dengan penampilan kolabarasi dari 3 dalang yaitu Ki Prof. Dr. Suminto A.Sayuti, Ki Drs. Iswahyudi, M.Hum dan Ki Drs. Cipto Budy Handoyo, M.Pd. dan dilanjutkan rangkaian lomba mulai dari Lomba dalang cilik, lomba mewarnai wayang dan pameran wayang nusantara.

Lomba Dalang Cilik

Lomba dalang cilik di ikuti oleh 45 orang peserta, semua peserta berasal tingkat SD dan SMP dari seluruh Indonesia. Peserta sebagian besar berasal dari Yogyakarta, Solo, Bantul, Sleman, Blora, Jakarta, Surabaya dan lain-lain. saya begitu terkesima ketika membaca biodata peserta yang mengikuti lomba FDC VI, hampir semua peserta memiliki prestasi yang membanggakan di tingkat dalang cilik Nasional. Bukan hanya masalah prestasi tetapi saya sangat mengapresiakan dengan kecintaan anak-anak muda Indonesia dalam menjaga kesenian wayang di tengah kencangnya terpaan angin globalisasi.

Lomba dalang cilik dilaksakan selama 5 hari mulai dari tanggal 1 Mei sampai 5 Mei 2016. Setiap harinya akan ada 8 dalang cilik yang melakukan penampilan dengan lakon yang berbeda-beda. Dan makna sesungguhnya dari perlombaan ini mengisyaratkan bahwa banyak anak Indonesia yang memiliki minat, bakat dan kecintaan kepada seni wayang. Bimbinglah mereka dan kenalkan wayang sejak dini karena merekalah yang nantinya akan menjaga dan melestarikan kebudayaan ini di masa depan nantinya.

Lomba Mewarnai Wayang

Selain Lomba dalang ada juga kegiatan Mewarnai wayang yang di ikuti oleh anak Paud dan Taman kanak-kanak. Lomba ini di ikuti oleh 81 peserta yang berasal dari Yogyakarta dan Lomba ini bertujuan untuk mengenalkan dan menumbuhkan kecintaan anak terhadap seni wayang. Esensi lomba mewarnai wayang ini bukan terletak pada hadiah, uang dan piala yang akan di dapat oleh juara nantinya nantinya tetapi lebih kepada bagaimana kita sadar akan budaya dan keistimewaan negeri ini, mengenalkan, mengajarkan sejak dini agar kesenian ini tetap terjaga dari masa ke masa.

Pameran Wayang Nusantara

Dalam semua rangkain kegiatan FDC VI juga dibarengi dengan pameran wayang nusantara yang mana akan di pajang beberapa koleksi dari museum wayang seluruh Indonesia. Secara umum masyarakat hanya mengenal wayang kulit dan wayang golek saja tetapi pada pameran ini akan dipajang berbagai jenis wayang, mulai dari wayang wuluh, wayang limbah, wayang plastik, wayang orang dan berbagai jenis wayang lainnya. Pemeran ini memiliki nilai berkemaknaan yang tinggi yaitu Negeri Ibu Pertiwi (Indonesia) memiliki banyak sekali kebudayaan dan peninggalan seni yang diwariskan oleh nenek moyang kita terdahulu. 

Semua yang diwariskan harus di jaga dan dilestarikan, jangan sampai kebudayaan ini di klaim oleh Negara lain. sedikit saya ingatkan bagaimana hubungan Indonesia dengan Negara serumpun sempat memanas karena Negara serumpun mengakui batik sebagai ciri khas kebudayaan mereka. Semoga hal serupa tidak terjadi lagi dan semoga bangsa ini lebih peduli dengan kebudayaan dan peninggalan seni yang memiliki banyak makna di dalamnya.

Artikel ini saya sempatkan untuk di selesaikan dan di posting melalui akun Kompasiana, bukan untuk mengejar menjadi artikel pilihan atau headline. Bukan juga mempromosikan kegiatan yang akan dilaksanakan nantinya tetapi saya ingin semua pembaca memahami kembali makna sebuah kesenian wayang, makna sebuah kebudayaan dan makna sebuah kecintaan terhadap warisan Ibu Pertiwi.

Semakin hari, globalisasi semakin “ganas” dalam rangka berusaha mengikis dan merebut kebudayaan dari suatu bangsa. Apabila kita terlena akan globalisasi maka kita akan kehilangan kebudayaan ini. kebudayaan yang menjadi ciri khas bangsa ini dan kebudayaan yang mempererat tali persaudaraan dari sabang sampai marauke.

Malam ini saya belajar arti kecintaan terhadap sebuah kebudayaan dan saya bangga menjadi bagian dari bangsa ini. iya Indonesia.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x