Media

Kajian Struktural dan Semiotik Puisi "Sajak Putih" Karya Chairil Anwar

13 Januari 2018   18:41 Diperbarui: 13 Januari 2018   18:48 229 0 0

Kajian Struktural dan Semiotik Puisi Sajak Putih Karya Chairil Anwar. Majalengka : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Majalengka. Majalengka. Penelitian ini bertujuan untuk :

  • 1. Mengetahui isi dan makna Puisi Sajak Putih dengan menggunakan kajian struktural dan semiotik.
  • 2. Meningkatkan kualitas proses pembelajaran keterampilan menulis puisi.
  • 3. Mengetahui tanda atau simbol pada Puisi Sajak Putih.
  • Dalam Puisi tentunya mengandung banyak unsur estetis yang terkandung dalam puisi tersebut. Khususnya yang akan diteliti adalah dari keseluruhan Puisi Sajak Putih Karya Chairil Anwar baik itu dari per kata, per bait dan dikaji secara struktural dan semiotik. Secara struktural, puisi tersebut secara kesuluruhan akan menjadi susunan unsur-unsur yang bersistem, yang antara unsur-unsurnya hubungan saling menentukan dan secara semiotik, puisi tersebut akan ditemukan sebuah tanda-tanda atau simbol.
  •  
  • Latar Belakang Masalah
  • Puisi merupakan sebuah karya sastra yang berbentuk prosa dan bersifat terikat. Puisi termasuk ungkapan  perasaan seorang penyair yang bersifat realita atau fakta dan mengandung irama,rima dengan pilihan kata yang bijak, cermat serta penuh makna yang amat berarti. Seorang penyair tentunya lebih menekankan unsur estetis nya dari mulai isi, bahasa serta pemakaian rima-rima tertentu.
  • Dalam puisi seorang penyair mencurahkan perasaan dan isi hatinya dengan tujuan agar seorang pembaca bisa memahami makna dan perasaan seorang penyair serta menemukan tema yang tepat. Puisi berdiri sendiri karena mempunyai struktur yang membangunya.
  • Perkembangan puisi dari waktu ke waktu  telah mengalami perubahan, dari sejak dulu puisi bersifat terikat dan menggunakan bahasa baku dari segi bahasa, bentuk,serta sifat. Karena dipengaruhi oleh zaman serta masyarakat, kini puisi yang diciptakan oleh seorang penyair bersifat bebas dan tidak terikat peraturan. Telah banyak orang menciptakan karya sastra puisi dengan alasan puisi merupakan suatu bentuk yang mudah untuk diungkapkan melalui tulisan dan berasal dari perasaan seorang penyair. Pada kenyataanya puisi kini telah banyak digunakan untuk hal penelitian, pengkajian, dan analisis dalam sebuah pembelajaran di sekolah maupun itu bersifat formal atau nonformal. Berhubung puisi Indonesia dari waktu ke waktu kian meningkat, maka pengkajian puisi ditujukan kepada pelajar SLTA, dosen, mahasiswa, serta lapisan masyarakat dan bukan lagi ditujukan milik kalangan tertentu.
  • Pada kesempatan ini penulis akan mengkaji sebuah puisi Sajak Putih Karya Chairil Anwar dengan menggunakan metode struktural dan semiotik dengan alasan ingin mengetahui lebih dalam tentang makna puisi dan tanda-tanda atau simbol yang ditunjukkan dari puisi tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dan konvensi-konvensi sendiri yang khusus, mengetahui pembelajaran menulis puisi dengan cermat, mengetahui tanda-tanda atau simbol yang ditunjukkan dalam puisi tersebut.

Rumusan Masalah

Apakah definisi pengkajian puisi ?

Apakah yang dimaksud dengan kajian struktural dan kajian semiotik ?

Bagaimana kajian struktural dalam Puisi Sajak Putih Karya Chairil Anwar ?

Bagaimana tanda-tanda atau simbol dalam Puisi Sajak Putih Karya Chairil Anwar ?

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui definisi  pengkajian puisi.

Untuk mengetahui pengertian kajian struktural dan kajian semiotic.

Untuk mengetahui bagaimana kajian struktural dalam Puisi Sajak Putih Karya Chairil Anwar.

Untuk mengetahui bagaimana kajian semiotik dalam Puisi Sajak Putih Karya Chairil Anwar.

Kajian Teoretik

Menurut (Teeuw, 1980:12), Puisi sebagai salah sebuah karya seni sastra dapat dikaji dari bermacam-macam aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. Dapat pula puisi dikaji jenis-jenis atau ragam-ragamnya, mengingat bahwa ada beragam-ragam puisi. Begitu juga, puisi dapat dikaji dari sudut kesejarahannya, mengingat bahwa sepanjang sejarahnya, dari waktu ke waktu puisi selalu ditulis dan selalu dibaca orang. Sepanjang zaman puisi selalu mengalami perubahan, perkembangan. Hal ini mengingat hakikatnya sebagai karya seni yang selalu terjadi ketegangan antara konvensi dan pembaharuan (inovasi). Jadi pengkajian puisi dari waktu ke waktu telah mengalami perubahan karena kalangan masyarakat pun kini bisa mengkaji melihat dari sudut kesejarahannya dan perasaan seorang penyair itu sendiri.

Struktur itu merupakan keseluruhan yang bulat, yaitu bagian-bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktur itu. Struktur disini dalam arti bahwa karya sastra itu merupakan susunan unsur-unsur yang bersistem, yang antara unsur-unsurnya terjadi hubungan yang timbale balik, saling menentukan. Dengan pengertian seperti itu, maka kajian struktural puisi adalah kajian puisi ke dalam unsur-unsurnya dan fungsinya dalam struktur puisi dan penguraian bahwa tiap unsur itu mempunyai makna hanya dalam kaitannya dengan unsur-unsur lainnya, bahkan juga berdasarkan tempatnya dalam struktur.

Pertama kali yang penting dalam lapangan semiotik, lapangan sistem tanda, adalah pengertian tanda itu sendiri. Dalam pengertian tanda ada dua prinsip, yaitu penanda (signifier) atau yang menandai, yang merupakan bentuk tanda, dan petanda (signified) atau yang penanda dan petanda, ada tiga jenis tanda yang pokok, yaitu ikon, indeks dan simbol. Dalam ilmu tanda-tanda atau semiotik, arti bahasa sebagai sistem tanda tingkat pertama itu disebut meaning (arti). Karya sastra itu juga merupakan sistem tanda yang berdasarkan konvensi masyarakat (sastra). Karena sastra (karya sastra) merupakan sistem tanda yang lebih tinggi kedudukannya dari bahasa, maka disebut sistem semiotik tingkat kedua. Maka dari itu pengkajian puisi tidak terlepas dari kajian semiotik yang bersistem dan bermakna.

Hasil Penelitian

Sajak Putih

Bersandar pada tari warna pelangi

Kau depanku bertudung sutra senja

Di hitam matamu kembang mawar dan melati

Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba

Meriak muka air kolam jiwa

Dan dalam dadaku memerdu lagu

Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka

Selama matamu bagiku menengadah

Selama kau darah mengalir dari luka

Antara kita mati datang tidak membelah...

                                                      (DCD, 1959:19)

Kajian Struktural

Bersandar pada tari warna pelangi yaitu langit senja yang indah penuh dengan macam-macam warna. Kau depanku bertudung sutra senja yaitu 'sutra senja' ini dapat ditafsirkan juga langit pada waktu senja yang sangat indah seperti sutra, berkilauan. Di hitam matamu kembang mawar dan melati mengiaskan sesuatu yang indah dan menarik. Jadi tampak pada gadis itu memberikan ketulusan cintanya, dan suasana pada waktu itu sangat menyenangkan, dan penuh dengan keindahan.

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba mengiaskan bahwa suasana berubah menjadi sepi, seperti halnya suasana malam yang di khusyu bersama doa. Meriak muka air kolam jiwa maksudnya timbul pikiran, angan-angan jiwa si aku. Dan dalam dadaku memerdu lagu ini mengiaskan bawa si aku terdengar lagu yang  merdu lalu membawa nya menjadi gembira, menarik menari seluruh aku maksudnya kegembiraanya memuncak dari mulai badan, jiwa, dan seluruh diri si aku.

Hidup dari hidupku, pintu terbuka maksudnya si aku merasakan hidupnya masih ada kemungkinan, ada jalan keluar. Selama matamu bagiku menengadah itu berarti bahwa si gadis mencintai si aku, masih ingin memandang, dan masih bermesraan.

Selama kau darah mengalir dari luka, antara kita mati datang tidak membelahdikiaskan dengan darahnya masih bisa mengalir dari luka, sampai si aku dan si gadis dalam kematiannya tetap bersatu.

Kajian Semiotik

Tanda-tanda semiotik untuk kegembiraan dan kebahagiaan di dalam puisi ini adalah kata : tari, warna pelangi, sutra senja, kembang mawar dan melati, harum mengalun bergelut senda, memerdu lagu, menarik menari, pintu terbuka, mata menengadah.

Bersandar pada tari warna pelangi

Kau depanku bertudung sutra senja

Di hitam matamu kembang mawar dan melati

Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Dalam puisi ini meskipun bunyi i tidak begitu dominan, namun bunyi i dalam bait pertama itu turut dengan kuat mendukung angan kegembiraan juga.

Sajak ini berjudul "Sajak Putih". Sajak merupakan kiasan suara hati si penyair, suara hati si aku. Putih mengiaskan ketulusan, kejujuran, atau keikhlasan. Jadi, "Sajak Putih" berarti suara hati si penyair, si aku, yang sebenar-benarnya, yang setulus-tulusnya, yang sejujur-jujurnya. Maksudnya pujian kepada kekasih yang dinyatakan itu, diucapkan dengan penuh rasa cinta dan kejujuran.

Simpulan

Puisi merupakan sebuah karya sastra yang bersifat estetis dan berupa ungkapan perasaan seorang penyair. Dari waktu ke waktu puisi sudah tidak lagi dimiliki oleh kalangan tertentu tetapi masyarakat luas pun telah banyak mengetahui dan merasakan apa yang disampaikan dalam puisi tersebut, tidak hanya itu puisi juga sudah banyak dijadikan penelitian, pengkajian, dan analisis oleh kalangan pelajar, mahasiswa, dosen dan guru-guru besar.

Penulis berhasil mengkaji Puisi yang berjudul "Sajak Putih" Karya Chairil Anwar dengan menggunakan kajian struktural dan kajian semiotik dengan tujuan ingin mengetahui struktur dan konvensi-konvensi yang terdapat dalam puisi serta mengetahui tanda-tanda atau simbol di dalam puisi Sajak Putih Karya Chairil Anwar tersebut.

Daftar Pustaka

Pradopo, Rachmat Djoko. 2005. Pengkajian Puisi : analisis strata norma dan analisis struktul dan semiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.