Mohon tunggu...
Adelia Adilah
Adelia Adilah Mohon Tunggu... Mahasiswa - UIN Ciputat

Kapitalis Kelas Teri

Selanjutnya

Tutup

Book Pilihan

Fazlur Rahman: Tema Pokok Al-Quran tentang Manusia (Bagian 1: Manusia sebagai Individu)

21 September 2022   09:27 Diperbarui: 21 September 2022   19:07 60 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Tuhan menciptakan manusia melalui proses yang sangat kompleks. Al-Quran menjelaskan dalam surah al-Mu’minun ayat 12-14: 

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (yang berasal) dari tanah. Kemudian, Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah sebaik-baik pencipta.

Setelah proses yang sedemikian kompleksnya, Tuhan kemudian meniupkan ruh kepada bentuk manusia. “Maka, apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya dan telah meniupkan roh-Ku ke dalamnya, menyungkurlah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. Al-Hijr : 29). Pada kata ruhy (al-ruh), Tuhan mengaitkan dirinya dengan manusia. Hal ini menunjukan bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki unsur ketuhanan didalamnya. 

Dalam QS al-baqarah: 30, Tuhan berniat menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Namun, hal tersebut diprotes malaikat karena manusia hanya akan berbuat kerusakan. Tuhan kemudian menguji pengetahuan Adam (manusia) untuk menunjukan kepada malaikat bahwa manusia memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengannya. Hanya saja ketika seluruh malaikat bersujud kepada Adam, hanya syaitan yang menolak bersujud dan berjanji untuk menjerumuskan seluruh keturunan Adam di dalam kekufuran. Hal ini menjadi tantangan moral manusia seumur hidupnya untuk berjuang melawan godaan syaitan.

Dengan tantangan yang berat tersebut, Tuhan menganugerahkan kepada manusia kebebasan berkehendak. Tuhan memberikan sifat-sifat dan potensi-potensi bagi manusia untuk berbuat kebaikan dan keburukan. Inilah yang menjadi perbedaan manusia dengan ciptaan lainnya. Jika ciptaan lainnya Tuhan ciptakan sebagai makhluk yang hanya dapat tunduk dan patuh kepada perintah-Nya. Maka manusia diberikan kebebasan untuk melakukan kebaikan ataupun keburukan.

Perbedaan yang unik bagi manusia ini menimbulkan berbagai resiko yang sangat besar. Salah satunya yakni tenggelamnya manusia dalam sifat aniaya (kepicikan dan kesempitan pikiran), kedua sifat inilah yang menjadi kelemahan manusia. Ia dapat menggiring manusia pada kesombongan dan keputusasaan. Yang mana, sifat sombong dapat menjadikan manusia merasa besar diri sehingga melupakan Tuhan sebagai entitas yang Maha Besar. Sikap semacam ini merupakan tanda-tanda kekufuran yang menyebabkan manusia kehilangan moralnya.

Sedangkan keputusasaan dapat menggiring manusia untuk hilang harapan dan enggan memohon kepada Tuhan. Dalam pandangannya, Tuhan seolah-olah tidak berpihak kepadanya dan enggan untuk mengabulkan permohonannya. Hal ini juga termasuk tanda-tanda kekufuran. Jadi, baik sombong maupun putus asa, keduanya merupakan perbuatan kufur.

Meskipun pada dasarnya manusia bersifat mulia. Namun, bisa saja hati manusia ditutup oleh Tuhan karena terlampau banyaknya ia melakukan sifat aniaya. Menurut hukum psikologis, manusia selalu memiliki hasrat untuk melakukan perbuatan berulang-ulang. Apa jadinya jika perbuatan yang ia lakukan adalah perbuatan aniaya yang menimbulkan dosa besar dan berlangsung dalam waktu yang lama? Disinilah fungsinya Nabi (utusan Tuhan) yang bertugas untuk meluruskan hati manusia agar selalu taat dan patuh pada perintah Tuhan dan membimbing mereka di jalan taqwa.

Taqwa merupakan puncak kemuliaan manusia. Taqwa ini dapat didefinisikan sebagai perbuatan yang tidak melampaui batas yang telah ditetapkan Tuhan. Ia merupakan keteguhan manusia untuk menjaga keseimbangan agar tidak melakukan hal yang melampaui batas. Taqwa ini bukan berarti melakukan kebajikan secara terus menerus. Karena sejalan dengan hasrat subjektif manusia jika melakukan kebajikan secara terus menerus maka ia akan menilai besaran ganjaran yang diterimanya. Hal tersebut bukanlah taqwa yang sesungguhnya. Taqwa yang sebenarnya ialah sesuatu yang dapat membimbing manusia untuk kembali ke jalan yang lurus seandainya manusia itu tersesat melalui taubat. Jalan ini dapat ditempuh oleh manusia yang memiliki kesadaran akan sifat aslinya (mulia) dan pandangan yang tajam (pengetahuan).

Maka dari itu al-quran menyerukan kepada manusia untuk mengasah potensi intelektualnya dengan mempelajari tiga macam pengetahuan yakni pengetahuan alam, sejarah, dan pengetahuan tentang diri mereka sendiri. 

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (QS. Fussilat : 53)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Book Selengkapnya
Lihat Book Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan