Ade Iftahaq
Ade Iftahaq Industrial Engineer

Fast Moving Consumer Goods | Agricultural and Livestock | www.linkedin.com/in/iftahaq

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Tahun Pemilu 2019, Petani Rawan Jadi Instrumen Kampanye

12 Januari 2019   12:13 Diperbarui: 12 Januari 2019   12:52 206 0 0
Tahun Pemilu 2019, Petani Rawan Jadi Instrumen Kampanye
Petani (Sumber : Tempo.co)

Berbagai strategi digunakan oleh Tim Pemenangan masing-masing paslon pemimpin negeri ini, termasuk menggaet hati rakyat melalui janji-janji manis pada rakyat kecil, khususnya petani.

Tidak salah memang jika banyak paslon saat pemilu menargetkan suara dari para petani. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tribunnews, sampai Februari 2017, tercatat tenaga kerja di bidang pertanian rata-rata mencapai 31,8 persen dari jumlah seluruh penduduk Indonesia.

Solusi yang biasanya ditawarkan saat kampanye biasanya modal pertanian berupa bibit dan pupuk, atau uang tunai. Apa benar jika masalah yang dihadapi petani adalah keterbatasan modal?

Apakah predikat "rakyat kecil" atau "rakyat miskin" layak jika disematkan pada petani, hingga harus diberikan janji-janji manis politik saat kampanye?

Paradigma Petani Hidupnya Susah

Saat besar nanti, jangan jadi seperti bapak yang hanya seorang petani. 

Kurang lebih begitulah yang disampaikan sebagian besar anak petani di daerah asal saya, Mojokerto. Pesan ini bukan tanpa alasan disampaikan oleh banyak orang tua pada anaknya. Karena berdasarkan pengalaman mereka selama puluhan tahun menjalani profesi petani, masih belum terasa peningkatan kesejahteraan hidup yang signifikan.

Dalam arti luas, profesi petani sebetulnya meliputi perkebunan, pengolahan sawah, ladang, peternakan, dan perikanan. Namun, yang saya maksud pada paragraf sebelumnya adalah petani yang menghasilkan produk pertanian dari proses bercocok tanam.

Jika diperhatikan berdasarkan nilai kekayaan dan aset yang dimiliki, menurut saya petani di desa adalah orang-orang yang sangat kaya. Sebagian besar memiliki sawah atau ladang dengan luas beberapa hektar. Mereka sudah punya jaminan hari tua dari sawahnya, bahkan masih bisa diwariskan untuk anak cucunya.

Coba kita bandingkan dengan masyarakat di perkotaan, dengan pekerjaan kantoran. Jangankan kepemilikan aset tanah yang luas, rumah saja masih kredit.

penghasilan-5c35a405677ffb67a63ebed9.jpg
penghasilan-5c35a405677ffb67a63ebed9.jpg
Menurut data BPS pada Agustus 2017 di atas, penghasilan per bulan untuk buruh tani, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan memang yang paling kecil dibandingkan dengan sektor yang lain. Sedangkan untuk pengusaha, petani di wilayah pedesaan mendapatkan penghasilan lebih tinggi dibandingkan dengan pengusaha di bidang manufaktur.

Jika kesejahteraan seseorang diukur dari income per bulan, petani bukanlah orang yang hidupnya paling susah. Lain cerita dengan "buruh tani", bisa dikatakan mereka adalah pekerja atau karyawan dari petani. Buruh tani tidak memiliki sawah atau ladang sendiri, dan sebagian besar hidupnya memang serba pas-pasan.

Sebetulnya, fakta tentang hidup buruh tani yang serba pas-pasan ini, yang sering digunakan sebagai generalisasi bahwa petani hidupnya susah. Sehingga banyak digunakan sebagai bahan kampanye.

Minim Sumber Daya Manusia Berkualitas

Dampak dari paradigma tentang petani yang hidupnya susah, memicu kurangnya SDM berkualitas di sektor pertanian. Sangat sering saya mendengar curhatan mahasiswa jurusan pertanian, "Kuliahku memang di fakultas pertanian, tapi isinya banyak ekonominya kok. Jadi ga pertanian-pertanian banget".

Sekitar satu dekade lalu, saya pernah mendaftar dan diterima untuk masuk Institut Pertanian Bogor (IPB), 100 besar kampus pertanian terbaik di dunia. Dan sebelum itu, saya melakukan konsultasi dengan guru BK di SMA. Lucunya, sama sekali tidak ada saran yang berhubungan tentang jurusan, minat, atau bakat. Hanya satu statement yang muncul saat saya sampaikan minat saya ke fakultas teknologi pertanian, "Bagus itu, nanti bisa kerja di bank".

"What...!!! Untuk apa saya harus berjibaku dengan sawah, cangkul, traktor, dsb., kalau goal saya adalah kerja di bank??"

Terus terang saja, waktu itu saya belum tahu passion saya dimana, dan ingin jadi apa setelah lulus kuliah nanti. Yang terlintas di benak saya hanya ingin belajar di jurusan atau fakultas yang menyediakan mata kuliah dengan fokus pada penegmbangan teknologi.

Lulusan IPB memang jadi salah satu incaran perbankan nasional. Pernah suatu ketika, teman saya lulusan IPB mendaftar pada recruitment sebuah bank, berkas lamarannya ditempatkan di tumpukan khusus yang berbeda dari lulusan universitas lain. Tidak ada bukti yang valid memang, tetapi berdasarkan pengalaman saya, setidaknya ada 4 dari 10 teman baik dan keluarga saya, lulusan IPB yang karirnya sangat cemerlang di perbankan nasional.

setkab.go.id
setkab.go.id
Dilansir dari bbc.com, Presiden Jokowi juga sempat melontarkan sindiran khas-nya dalam Dies Natalis Institut Pertanian Bogor (IPB) ke-54 tahun 2017, "Mahasiswa lulusan IPB banyak yang kerja di bank. Terus yang ingin jadi petani siapa?". Dari sumber yang sama, Pakar pertanian yang juga merupakan dosen IPB, Dwi Andreas, menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena sektor pertanian tidak mendatangkan pendapatan yang memadai. Hanya 8% generasi milenial yang berkecimpung di dunia pertanian.

Heru Mufti, alumni jurusan agribisnis Universitas Padjajaran, yang saat ini sukses langsung membuka usaha penjualan pupuk, bibit dan pestisida, manyatakan bahwa sebanyak 70% lulusan jurusannya, memilih bekerja di bank. (BBC, 2017)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2