Mohon tunggu...
Adam sufi Ibrahim Rangkuti
Adam sufi Ibrahim Rangkuti Mohon Tunggu... Siswa

Duduk di bangku SMP Islam Al-Hikmah Jakarta. Lahir di Medan. writer . pengamat ,pemikir. 100% love indonesia

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Setetes Pelita di Atas Luka

7 Juni 2020   15:03 Diperbarui: 7 Juni 2020   17:45 26 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Setetes Pelita di Atas Luka
Ilustrasi. dokpri

Suara ledakan itu tiba-tiba saja mencoba mencopot jantungku yang masih muda. Untung tidak benar-benar copot! hanya membuat goresan darah di sekujur tubuhku tercinta. Ternyata suara itu berasal dari letusan ban sepeda yang kukendarai tadi. Hmm.. mungkin aku terlalu lama meniupnya dengan mulutku sebelum berangkat. 

Hah kok ditiup? yaiyalah! Mana ada uang aku untuk mengisi angin ban sepeda ditukang pompa. bahkan aku enggak diberi uang sepeser pun sama bunda. Hei! Itu karena dia sedang sakit dan enggak biasa kerja kemarin. Biar begini HP aku iPhone tahu! Oh ya namaku Saliya. Dengan beratnya genggaman ditangan dan perihnya rasa dikulit ini aku melanjutkan perjalanan ke sekolah.

Sesampainya aku di depan gerbang sekolah suasana tidak ramai seperti biasa. Itu tandanya aku sudah terlambat. Syukurlah, kalau tidak habis aku dibully oleh para siswa yang melihat keadaanku begini. Kulihat satpam penjaga gerbang sekolah yang sudah ditutup itu asyik minum kopi sambil Scrolling layar HP. Ingin aku meminta agar dibukakan gerbangnya tapi kayaknya enggak mungkin. Ya sudah aku masuk lewat gerbang belakang saja. Hehehe...

Aku berjalan menuju kelas masih dengan rasa sakit akibat luka yang timbul karena terjatuh tadi. Dengan segala mental yang ada, aku bersiap untuk menghadapi serangan dari teman-teman sekelas yang kuyakini akan terjadi. 

Dan benar saja! begitu masuk aku diejek dan dicaci. Tapi untung saja Ibu Pelita yakni guru bahasa Indonesia membelaku dari ejekan teman-teman. Setelah suasana sudah kondusif Dia bertanya, "Mengapa kamu terlambat Saliya? Ini sudah jam sembilan." 

"Ya suka-suka saya dong mau datang jam berapa saja! Itu lebih baik daripada tidak datang sama sekali!" gertakku Sambil menunjukkan tubuhku yang terluka parah. "Mari nak ke UKS biar ibu obati," "Gak perlu!" Jawabku sambil menuju ke Bangku tempat aku duduk. "Huuuuuu..!" Sorak teman-temanku sekelas. "semuanya harap tenang!" bu Pelita mencoba menenangkan kelas kembali.

Sekolah hari ini telah kulewati dengan luka ditubuhku yang semakin lama semakin perih pertanda intensitasnya yang semakin parah. Ditambah dengan tekanan sosial dari murid-murid di sekolah ini. 

Ingin menangis tapi tidak bisa. Sebab aku terlalu gengsi untuk mengeluarkan air mata. Sekarang aku mau pulang agar bisa curhat kepada bunda. Tempat aku menuangkan beban rasa Sakit akibat Luka mental di kehidupan ini. Tapi aku baru ingat bahwa sepedaku telah rusak tadi pagi. 

Segera kuambil iPhoneku untuk menghubungi bunda. Namun sayangnya layar smartphoneku ini telah pecah karena ikut terjatuh dan tak bisa digunakan lagi. 

"Dasar barang HDC*!" teriakku sambil melempar HP itu ke sembarang arah. "ya.. miskin banget sih lo. mau punya iPhone kok malah beli yang Kawe," ejek seorang siswi disambut dengan Tawa gerombolan temannya. Aku terjatuh lesu dengan rasa sakit dan lapar. Aku ingin pulang dan makan masakan Bunda yang lezat pastinya. 

Aku hanya bisa menunggu tanpa banyak berharap di depan gerbang sekolah. Semua murid berangsur-angsur pulang ke rumahnya  dengan kendaraan. Ada yang memakai mobil ada yang pakai sepeda motor. Ada yang bersama dengan temannya dan ada yang berboncengan dengan pacarnya. "lah kalau aku? Mana ada cowok yang mau sama aku," batinku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN