Mohon tunggu...
Adam sufi Ibrahim Rangkuti
Adam sufi Ibrahim Rangkuti Mohon Tunggu... Siswa

Duduk di bangku SMP Islam Al-Hikmah Jakarta. Lahir di Medan. writer . pengamat ,pemikir. 100% love indonesia

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Balada Anak Buangan

6 Februari 2020   13:34 Diperbarui: 6 Februari 2020   13:41 192 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Balada Anak Buangan
Anak Penjual Koran www.mustlieliek.wordpress.com

Namaku Julius, Eh bukan bukan.sebenarnya aku tak punya nama resmi. Nama itu adalah nama buatanku sendiri. Karena aku tak tahu siapa namaku. Yang kutahu aku adalah seorang Anak tanpa ayah dan tanpa ibu. Hidup dikota yang bising penuh dengan polusi Gersangnya trik matahari. Pemandangan kekerasan sosial dikanan kiriku sudah menjadi makanan sehari-hari. Karena kami tak makan apapun kecuali beberapa suap nasi yang dikongsi bersama saudara-saudara sebayaku.

Sebelum Tuan Mentari Menampakkan kobaran dirinya untuk memanggang kota kami. Aku sudah berjalan dengan kakiku yang tak dilapisi alas sama sekali. Untuk menyiapkan beberapa lembaran kertas yang akan kujual di bawah Kemerahan Lampu rambu jalan. Sayup- sayup aku melihat mereka yang mengenakan seragam rapi kompak berbondong-bondong pergi ke Sekolah.

Sedangkan aku yang bajunya superlusuh begini sama sekali tidak bisa membaca tulisan yang anak-anak kota Baca melalui koran yang aku jual. Belum lagi ditambah Benda elektronik yang sering mereka gunakan untuk saling bertukar tulisan-tulisan itu. Apakah kamu mengerti? Kalau aku sama sekali tidak.

Ketika Hari menjelang siang. Aku berjalan di pinggiran jalanan menuju ke tempat Saudaraku berkumpul. Kadang pandanganku tertuju pada sebuah rumah makan mewah tempat penyajian sajian lezat yang tentu saja hanya bisa disentuh oleh Anak anak kota yang bersekolah.

Setidaknya begitulah pikirku sambil menenteng sebungkus nasi yang aku beli di warung kecil yang kumuh. Ya itulah levelku. Kadang ada orang yang memberi kami bungkusan nasi secara Cuma Cuma.

Sudah pasti kutolak. "Aku bukan pengemis!" Batinku. Meskipun begini aku tak mau dikasihani apalagi hidup berdasarkan rasa kasihan. Karena kusadari bahwa Aku juga sama dengan anak anak kota yang hidup bahagia dengan segala kecukupan.

Hanya saja aku tak seberuntung mereka. Karena Mereka memiliki kedua orang tua. Tapi ada  teman senasibku yang punya orang tua. Namun harus duduk bersamaku dalam menanggung nasib kehidupannya. Sebab Orang tua mereka kurang keras dalam menghadapi kehidupan.

Saat tuan mentari mengucapkan kata permisi untuk menyinari belahan bumi yang lain. Aku berjalan dengan kaki yang penuh lumuran darah ini menuju tempat yang suci. Tempatku menyerahkan diri dalam kehidupan yang tak ada bedanya sama baja yang sangat keras. Aku Usap  wajahku dengan air penyejuk dengan kedua tangan lemahku. Dan kuhembuskan nafas perlahan yang diiringi jeritan tangis kecil

"Ya Tuhan Semesta Alam. Aku tak tahu kenapa kau tetapkan takdirku menjadi seperti ini. Walaupun pernah. Tapi Aku janji tak akan mengeluh lagi. Aku juga tak akan melarikan diri seberapa keraspun kehidupan ini. Namun aku tetap berharap agar engkau memberikan sinarmu pada jalan hidupku. aku ingin hidup bahagia dengan memberikan manfaat bagi yang lain. Maka permudahlah jalanku. Hanya kepadamu aku bergantung"

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x