Adam sufi Ibrahim Rangkuti
Adam sufi Ibrahim Rangkuti

Duduk di bangku SMP Islam Al-Hikmah Jakarta. Lahir di Medan. writer . pengamat ,pemikir. 100% love indonesia

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Pengalaman Pedih, Kelas Sebelah Diizinkan Mencontek saat UN

12 Juli 2018   06:53 Diperbarui: 14 Juli 2018   18:24 1517 4 1
Pengalaman Pedih, Kelas Sebelah Diizinkan Mencontek saat UN
Foto: pikiran-rakyat.com

Tiga tahun yang lalu, di tahun 2015

Saat itu adalah awal saya menghadapi pelajaran kelas 6 Sekolah Dasar. Saat itu kami baru masuk tahun ajaran semester 1. Kami sekelas sudah didoktrin dengan berbagai pernyataan yang menyatakan bahwa seolah-olah hidup dan mati terletak pada jenis SMP kami nanti ke depan, apakah itu swasta atau negeri?

Tujuan ditekankannya dokrin ini pada awal tahun ajaran sesungguhnya adalah untuk memotivasi atau mendorong siswa agar lebih keras lagi belajarnya. Karena jika tidak, maka ia harus mengeyam pendidikan ke depannya di sekolah berbayar. Di mana ia akan mati untuk membayar uang pendaftaran dan SPP per bulan!

Namun apakah benar bahwa masuknya seseorang ke sekolah jenis negeri ataupun swasta ini ditentukan oleh seberapa keras belajarnya?

Saat Ujian Nasional Berstandar Daerah hendak dimulai, aku merasa sudah siap. Karena aku telah belajar dengan sungguh-sungguh. Meskipun aku tidak ikut bimbingan belajar atau les sebagaimana teman-temanku. Tetapi aku sudah berusaha dengan sungguh-sungguh dan menjadi semakin pede dalam mengerjakan Ujian Nasional.

Namun sayangnya. Hati ini menjadi putus asa nan kesal berat. Gimana nggak? Saat hari kedua ujian berlangsung, tepatnya pada bidang studi Matematika. Dari informasi valid temanku yang berada di ruangan sebelah menyatakan bahwa mereka diperbolehkan MENCONTEK asalkan tidak berisik!

Mendengar hal itu, ingin rasanya memaki-maki di depan mereka semua. Di depan para pengawas, guru, dan semua siswa. Tapi apa daya, semua itu tak mungkin untuk kulakukan! Mau mengadu? Mau melaporkan pelanggaran ini? Ke mana lagi harus kuadukan? Kenyataan yang pahit memang harus diterima dengan ikhlas begini. Selain diperbolehkan mencontek pada hari kedua oleh pengawasnya. Merek memang senantiasa mendapatkan kelonggaran untuk berbuat kecurangan ini. Yaitu mencontek!

Ya aku tidak bisa pula menyalahkan teman-temanku. Kan mereka memang hendak mengejar nilai, yakni angka Omong kosong yang dituntut dunia pendidikan Indonesia. Maklumlah Siswa mencontek. Karena memang yang dikejar itu nilai. Bukan apa-apa!

Oh ya. Hal ini sekaligus menjawab pertanyaan bahwa apakah masuknya seseorang ke sekolah jenis negeri ataupun swasta ini ditentukan oleh seberapa keras belajarnya? Ternyata tidak ditentukan oleh seberapa keras belajarnya, melainkan seberapa besar nilainya! Tak peduli nilai tersebut di dapat dari mana. Yang penting harus dapat.

Biarkanlah sejarah yang kelam Ini menjadi pelajaran penting buatku. Aku jujur saja. Dan tetap mengambil hikmah yang tentunya ada. Sekarang aku sekolah di sekolah Islam Al - Hikmah jakarta. Dengan ikhlas dan tetap sabar.

Meskipun mereka yang berhasil mendapat nilai di selembar kertas SKHUN (Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional) yang bagus. Tapi aku yakin. masa depanku (yang sebenarnya) tidak ditentukan oleh selembar kertas

Ya. Aku sudah sangat ikhlas harus turut menanggung biaya sekolah tiap bulan. Sedangkan mereka gratis-gratisan. Apakah hidup itu memang tidak adil?

Dari sejarah ini tentunya merupakan pelajaran dan peringatan penting bagi saya dan pembaca semuanya bahwa kita tidak boleh berlaku curang dan juga terlalu mengejar nilai pendidikan tertentu sehingga mengabaikan nilai lainnya. Seperti norma dan perilaku. Dan tentunya sejarah dijadikan sebagai pelajaran. Karena seperti kata santayana:

"Siapa yang tidak mengetahui sejarah maka ia ditakdirkan untuk mengulanginya."

Sekarang aku sudah kelas 9 SMP. Di awal tahun ajaran 2018-2019 ini aku akan berkomitmen untuk kembali bersungguh-sungguh mendapatkan nilai untuk masuk ke sekolah negeri. Tentunya dengan cara yang benar dan tidak mengabaikan nilai sosial dan juga ahlaq.

Demikian.

Saya Adam Sufi Ibrahim Rangkuti.