Mohon tunggu...
A Damanhuri
A Damanhuri Mohon Tunggu... Gemar bersosial dan penikmat kopi

Koordinator Sarjana dan Pemuda Penggerak Wajib Belajar (SP2WB) Padang Pariaman 2008, Ketua Bidang Humas dan Media HIPMI Padang Pariaman 2010-2014, Wakil Sekretaris DPD KNPI Padang Pariaman 2005-2008, Wakil Ketua DPD KNPI Padang Pariaman 2009-2013, Humas dan Litbang Ponpes Madrasatul 'Ulum Padang Pariaman 2006-2011, Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Perwakilan Padang Pariaman 2009-2014.

Selanjutnya

Tutup

Politik

PKB Harus Banyak Memberikan Sentuhan pada Kelompok Thariqat

28 Februari 2020   10:29 Diperbarui: 28 Februari 2020   10:33 11 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
PKB Harus Banyak Memberikan Sentuhan pada Kelompok Thariqat
Diskusi publik yang dilakukan santri Ponpes Madrasatul 'Ulum Padang Pariaman. Santri dikenal juga pelajar yang senang dengan pengajian thariqat. foto dok damanhuri

Satu hal yang membuat Buya Muhammad Nur ikut bersama PKB; Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) yang menjadi paham dan aqidah dalam berpolitik oleh partai yang didirikan pada 1998 ini. 

Sebagai ulama besar, memiliki pengaruh yang luas di kalangan jamaahnya, Buya ini tertarik pada PKB, karena itulah satu-satunya partai di republik ini yang berpahamkan demikian. Seperti diketahui, paham Aswaja bagi kaum thariqat adalah paham yang menjadi landasan pengajian, serta menjadi paham yang paling diakui di antara sekian banyak paham umat Nabi Muhammad SAW akhir zaman ini. 

Sebenarnya, paham itu sangat banyak dianut oleh masyarakat perkampungan Sumatera Barat. Surau sebagai kekuatannya. Hingga kini pengajian thariqat terus di kembangkan. Memang, selama ini masyarakat pengikut thariqat itu adalah orang yang berusia lanjut. Mereka tak lagi disibukkan oleh urusan duniawi, sehingga bisa khusu' menjalani amalan thariqat di sebuah surau.

Apalagi untuk Thariqat Naqsabandiyah. Setiap orang yang masuk pengajian ini, prosesnya sangat panjang dan banyak. Ada suluak seminggu, bahkan ada pula yang 40 hari. Selama kegiatan itu mereka selalu dalam bimbingan Mursyid atau khalifah dan guru. Sejak Buya Muhammad Nur berkenalan dengan PKB, sejak itu pula dia mengajak jamaahnya, terutama pada saat musim Pemilu untuk selalu memilih PKB.

"Alhamdulillah, hasil suara PKB, khusus untuk Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh cukup lumayan. Namun, secara jujur para pengurus PKB sangat jarang bersentuhan dan berkenalan langsung dengan masyarakat thariqat demikian," kata dia, Kamis 10 Mei 2012.

Cara panatik ke guru kaum thariqat di Minangkabau, dengan jamaah thariqat yang ada di Jawa sangat jauh bedanya. Ini yang mesti dipahami oleh PKB Sumatera Barat. Dengan demikian pula para jamaah thariqat ini banyak juga yang terpecah belah pada saat musim Pemilu. 

Tergantung partai apa yang paling pintar mempengaruhi jamaah tersebut. Jamaah tidak punya pendidikan politik, seperti layaknya jamaah thariqat yang ada di Pulau Jawa. Sebab, masyarakat kita masuk thariqat ketika usianya telah lanjut, manakala tidak lagi di sibukkan oleh berbagai aktivitas lain. 

Artinya, PKB lebih dituntut lagi untuk selalu bersilaturrahim yang banyak di kalangan kaum thariqat tersebut. Bagi jamaah dan Mursyid sebenarnya komunikasi itulah yang paling penting. Mereka merasa tahu, inilah orangnya yang memimpin dan mengendalikan partai, di mana partai demikian satu idiologi dan pemahaman keagamaan dengan pengajiannya sendiri.

Buya Muhammad Nur yang sehari-hari memimpin Surau Suluak Mutma'innah, Kelurahan Talang, Kecamatan Payakumbuh Barat itu banyak menghabiskan waktunya dalam mengurusi jamaah. Malam, waktu dia gunakan untuk berdakwah di surau lainnya di Kota Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, Tanah Datar dan Kabupaten Agam sebagiannya, terutama tentu jamaahnya yang telah berkembang luas di tengah masyarakat. 

Sekali semusim Buya ini mengumpulkan jamaahnya secara keseluruhan dalam satu tempat, agar semua jamaahnya itu bisa saling kenal dan tentunya punya hubungan yang semakin kuat dan erat dalam mengamalkan pengajian yang telah diajarkan oleh gurunya sendiri.

Dia mulai mengembangkan suraunya itu sejak 1985 silam, setelah sebelumnya di kembangkan oleh guru dan orangtuanya sendiri; M. Aya Sulthani. Buya Muhammad Nur merupakan seorang pensiunan Lurah. Dia mengambil ijazah thariqat dari gurunya itu. Beliau juga pernah menuntut ilmu di MTI Caduang, Kabupaten Agam pada 1973. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN