Mohon tunggu...
Adam Perdana
Adam Perdana Mohon Tunggu... Agen Media Cetak

Buku. Film. Musik. Online

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Pengalamanku Jualan Koran di "Zaman Now"

17 Juli 2019   23:22 Diperbarui: 18 Juli 2019   20:54 0 16 3 Mohon Tunggu...
Pengalamanku Jualan Koran di "Zaman Now"
Dokpri

Sudah lebih dua tahun berlalu, sejak aku resmi tercatat sebagai agen Tribun Jambi. Tepatnya tanggal 1 Juni 2017. Sebelum itu aku sudah mencoba berjualan koran, tapi masih berstatus sub-agen. Dan pada 1 Juni 2017 itu, aku mengorder lebih banyak. Aku akan memasuki kantor-kantor yang kutemui di rute yang kulewati, kalau perlu semua ruangannya akan kumasuki. Begitu rencana dan tekadku waktu itu. 

Namun apa? Tanggal 1 Juni adalah tanggal merah, tak ada kantor yang buka hari itu. Aku sungguh tak menduga. Aku segera memutuskan untuk menghabiskan koran yang kuorder di area Pasar Atas Muaro Bungo. Tak sampai satu jam, 30 koran sudah habis. Sisanya kubawa di rute biasa, arah ke dusun Lubuk Landai.

Pada 1 Juni 2017 itu adalah hari bersejarah bagiku. Hari di mana aku mendapatkan pelanggan di Pasar Atas Muaro Bungo. Di situ pula Aku mendapat pelajaran bagaimana berjualan dengan modal keberanian, kerja keras, dan pantang menyerah. Dengan berjalan kaki di dalam pasar sambil berteriak lantang, Aku berusaha mendapatkan pelanggan di sana. Dan syukurlah, setelah lama berselang, Aku tak perlu lagi berjalan jauh dan bersorak-sorak di sana, karena Aku sudah tahu siapa yang akan membeli koranku.

Dokpri
Dokpri
Bagaimana dengan lampu merah? Pengendali wilayah waktu itu sangat menganjurkanku untuk berjualan di lampu merah. Tapi aku sendiri lebih suka berjalan kaki di dalam pasar dan bersorak-sorak bergembira di sana. Jujur aku merasa berjualan koran di lampu merah kurang cocok untukku. Aku pernah menuangkan gagasanku tentang berjualan di lampu merah dalam sebuah cerpen. Silahkan baca Lelaki Yang Benci Penjual Koran, yang kuposting juga di Kompasiana.
 
=======

8:24 Siap tancap/Dokpri
8:24 Siap tancap/Dokpri

Alhamdulillah, saat ini aku sudah punya sekitar 100 pelanggan. Pagi tadi, aku membawa 105 eksemplar koran Tribun Jambi. Cuaca hari ini mendung dan terasa dingin. Bagiku, ini adalah bonus. Mesin motor akan lebih enak digas, suhu tubuh juga tidak cepat panas. Setelah memastikan jumlah koran sesuai dengan orderan, aku segera melaju bersama Vega, tungganganku yang masih setia menemaniku mengantarkan koran di seputaran Kota Bungo.

Salah satu kesenangan yang kurasakan ketika mengantar koran adalah sensasi berkendara layaknya seorang pebalap. Pastinya, beda jauh dengan berkendara ugal-ugalan. Safety atau keselamatan adalah nomor satu. Cepat selamat, itu mottoku ketika mengantarkan koran dengan motor.

Aku harus memilih mana rute terbaik dan tercepat untuk mengantar semua koran. Pertimbangan jarak dan waktu sangat penting. Setiap detik jadi terasa berharga. Tapi jika ada pelanggan yang mengajakku bicara, Aku akan melayaninya, dengan batasan waktu seminimal mungkin.

Aku menyadari, bahwa berjualan koran saat ini bukan hal yang mudah. Bahkan ketika aku memutuskan untuk menjadikan ini profesi, dua tahun silam. Akses informasi yang semakin mudah lewat telepon genggam memang menggerus jumlah pembaca koran.

Tapi kalau boleh kubilang, koran masih memiliki pembaca yang setia, yang spesifik.

Rasanya, hukum ekonomi yang menyatakan bahwa semakin langka suatu barang, semakin bernilai pula barang tersebut, juga berlaku untuk koran. Koran tak bisa disamakan wartel yang saat ini punah karena telepon genggam.

12:24 Sold out, koran habis/Dokpri
12:24 Sold out, koran habis/Dokpri

Satu hal yang pasti, aku akan terus berjualan koran selagi bisa, selagi koran tetap terbit. Ada banyak yang masih ingin aku ceritakan, dan semoga Aku bisa menyampaikannya lain kali. Terima kasih sudah membaca....