Mohon tunggu...
Achmad Siddik Thoha
Achmad Siddik Thoha Mohon Tunggu... Pengajar dan Pegiat Sosial Kemanusiaan

Pengajar di USU Medan, Rimbawan, Penelusur dan Peneliti Kebakaran Hutan dan Lahan, Pengelola Komunitas Pohon Inspirasi, Perawat Komunitas Kongkrit, Aktivis Relawan Indonesia untuk Kemanusiaan dan Penulis Buku KETIKA POHON BERSUJUD. Follow @achmadsiddik

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menikah Saat Menjalankan Tugas Kemanusiaan

5 September 2018   23:13 Diperbarui: 5 September 2018   23:53 0 4 0 Mohon Tunggu...
Menikah Saat Menjalankan Tugas Kemanusiaan
Laily (kanan) relawan kemanusiaan sedang melangsungkan acara pernikahan di Lombok Timur (Dok. Tia-Relindo, 5 September 2018)

"Masih nggk percaya sih, ini beneran mau nikah di saat begini. Saya mikirnya bakalan ditunda, makanya santai-santai aja di posko relawan. nggak terlalu mikirin. " (Laily -- Relawan Kemanusiaan di Lombok)

Laily, demikian kami, para relawan memanggil seorang relawan wanita RELAWAN INDONESIA untuk Kemanusiaan (RELINDO). Nama lengkapnya adalah Nur Laily Nurtawajjuh. Gadis yang sejak mahasiswa adalah seorang aktivis ini bergabung menjadi relawan kemanusiaan sejak 7 Agustus 2018.

Pada saat itu, Laily yang juga keluarganya menjadi korban bencana gempa, seharusnya menjadi gadis yang dipingit karena tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan dengan pria pilihan terbaiknya. Namun nurani kemanusiaanya terpanggil. Laily memilih terjun ke medan perjuangan membantu saudaranya yang terkena bencana untuk menjadi relawan.

Saat banyak orang bersikap safety player, cenderung untuk memikirkan urusannya sendiri, Laily justru bergabung dengan para relawan pada masa tanggap darurat hingga akhir Agustus kemarin. Laily meninggalkan masa-masa yang seharusnya menjaga diri dari bahaya dan risiko tinggi. Makan dan tidur apa adanya dengan ancaman gempa susulan bukan sesuatu yang mudah dihadapi siapapun.

Profesinya sebagai guru membuat Laily menjadi andalan kami di lapangan, khususnya dalam menjalankan program Trauma Healing bagi anak-anak. 

Laily sangat piawai membimbing anak-anak untuk membantu mereka pulih dari trauma akibat seribuan gempa mengguncang Lombok. Kreativitas Laily menjadi inspirasi dan motivasi teman-teman relawan lain untuk terus bertahan melanjutkan aksi kemanusiaannya. Kebahagiaan menjadi seorang relawan membuat Laily dan teman-teman relawannya begitu menikmati aksi kemanusiaan yang dijalankan.

Laily bersama anak-anak pengungsi korban gempa binaan program Trauma Healing di Lombok Utara (dok. Relindo - Agustus 2018)
Laily bersama anak-anak pengungsi korban gempa binaan program Trauma Healing di Lombok Utara (dok. Relindo - Agustus 2018)
Hari ini, Rabu, 5 September, Laily menggenapkan separuh agamanya dibawah perjanjian akad nikah bersama suaminya, Hakkin Nizar di Wanasaba Lombok Timur. Wajah Laily sangat cerah. Teman-teman relawan hadir untuk ikut merasakan kebahagiaanya.

Laily memberi contoh pada kami, bahwa bencana bukan halangan seseorang untuk merasakan kebahagiaan. Selalu ada kebahagiaan dimanapun kita dan kondisi apapun kita. Menikah saat menjalankan tugas kemanusiaan menjadi catatan hidup yang akan tercatat dalam sejarah, tidak hanya bagi Laily dan keluarga tetapi bagi kami para relawan kemanusiaan.

Barakallah Laily dan Hakkin. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah warahmah.

Kami rindu kiprah Laily bergabung kembali bersama kami agar Lombok segera bangkit.

Salam Kemanusiaan

Achmad Siddik Thoha