Mohon tunggu...
Achmad Siddik Thoha
Achmad Siddik Thoha Mohon Tunggu... Pengajar dan Pegiat Sosial Kemanusiaan

Pengajar di USU Medan, Rimbawan, Penelusur dan Peneliti Kebakaran Hutan dan Lahan, Pengelola Komunitas Pohon Inspirasi, Perawat Komunitas Kongkrit, Aktivis Relawan Indonesia untuk Kemanusiaan dan Penulis Buku KETIKA POHON BERSUJUD. Follow @achmadsiddik

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Meski Jadi Korban Bencana, Warga Lombok Tetap Berbagi

30 Agustus 2018   10:09 Diperbarui: 30 Agustus 2018   10:16 0 0 0 Mohon Tunggu...
Meski Jadi Korban Bencana, Warga Lombok Tetap Berbagi
Warga dari pengungsian berbagi buah dan sayuran kepada para relawan (dok. RELINDO, 28 Agustus 2018)

Ini kisah mengharukan dari rangkaian kisah para relawan kemanusiaan di Lombok. Warga Lombok yang menjadi korban bencana gempa memang pantas untuk dibantu dan diberi sesuatu agar mereka bertahan hidup. Hidup sebagai pengungsi yang kehilangan hampir semua milkknya memang wajar butuh bantuan orang lain. Tetapi tidak selalu yang menjadi korban bencana selalu ingin diberi tapi ingin juga memberi.

Saat kami menyerahkan bantuan ke beberapa lokasi pengungsian, tak jarang para pengungsi justru memberi kami sesuatu. Kami pernah ke daerah Sambalia Lombok Timur mengantarkan kebutuhan pengungsi. 

Saat tiba di lokasi pengungsian yang berada di bibir pantai dengan lahan penuh dengan kelapa, kami disuguhi kelapa muda oleh warga korban bencana. Saat kami ke desa Dangiang Kecamatan Kayanga Lombok Utara, usai melakukan assesment, warga mengajak kami makan siang bersama. Padahal desa ini hampir 100 persen bangunan luluh lantak akibat gempa. 

Baru tadi malam (28'8/18) kami didatangi warga Tanak Song, Desa Jenggala Kecamatan Tanjung Lombok Utara. Mereka datang ke posko relawan memberikan sesuatu yang sangat kami sukai yaitu kelapa muda dan kacang tanah.

Cerita lain relawan, saat berkunjung ke lokasi pengungsian untuk melaksanakan layanan kesehatan, warga memberi banyak oleh-oleh. Oleh-oleh berupa bubuk  Kopi Sumbawa dan buah-buahan kami bawa ke posko relawan untuk dinikmati bersama. Nikmat kopi Sumbawa bukan hanya karena kualitas kopi yang memang bagus, tapi juga karena si pemberi kopi ini memiliki jiwa besar.

Masya Allah, kami terharu. Warga Lombok meski dalam suasana duka masih menampakkan mutiara kemuarahan hatinya pada kami. Status mereka memang pengungsi yang butuh bantuan, tapi bukan berarti mereka tak sanggup memberi.

Ah, kami jadi malu. Tak seberapa bantuan kami pada warga Lombok. Merekalah sebenarnya yang membuat kami bertahan dalam tugas kemanusiaan ini. Warga Lombok sungguh menghargai kehadiran kami di sini. Saya yakin Lombok akan segera bangkit bukan karena menerima banyak bantuan dari berbagai pihak, tapi karena jiwa besar mereka.

Salam Kemanusiaan