Mohon tunggu...
Achmad Ridwan Sholeh
Achmad Ridwan Sholeh Mohon Tunggu... Akuntan - Pegawai

Ayah dari Achmad Ibrahim

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Rupiah, Nasibmu Kini 16.400! IHSG Sama Saja!

24 Maret 2020   19:35 Diperbarui: 24 Maret 2020   19:59 141
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber : kompas.com

COVID-19 tidak hanya menyerang manusia Indonesia secara separatis, tetapi juga menyerang perekonomian Indonesia secara brutal dan masif. Sejak salah satu warga negara Indonesia dinyatakan positif terjangkit Corona yang berasal dari warga korea selatan, imbas perekonomian menunjukkan tren negatif dari segala sisi.

Kurs mata uang Indonesia seiring bertambahnya korban meninggal akibat COVID-19 ambruk diangka Rp. 16.436,40 per 1 USD (24 Maret 2020). Tren penurunan rupiah terlihat sejak 2 bulan terakhir. Terparah pada hari ini pada pukul 12.05 rupiah menyentuh angka Rp. 16.900 per 1 USD. 

Angka ini merupakan yang terburuk sepanjang era reformasi. Terakhir saat krisis moneter 1997/1998 rupiah mencapai Rp. 16.856 per 1 USD. Nilai tukar saat ini merupakan red flags bagi perekonomian Indonesia. Baik pemerintah maupun swasta yang memiliki hutang berupa dollar akan sangat diberatkan dengan keadaan sekarang.

Meskipun peningkatan dollar tidak seambruk saat krisis moneter, pemerintah berjaga-jaga untuk menghadapi resesi global. Pada saat seperti ini fundamental negara diuji sejauh mana dapat bertahan. Suntikan-suntikan dana asing sebaiknya dipertimbangkan, apakah dapat memperbaiki keadaan ekonomi atau hanya menambah beban negara.

Awal tahun 2020 rupiah sempat menguat di angka Rp. 13.700 ke angka Rp. 13.600 per 1 USD (24 januari 2020). Itu kali terakhir rupiah menunjukkan taringnya menghadapi dollar Amerika. Setelah itu rupiah loyo menghadapi sentimen negatif dalam negeri.

Meskipun sempat menguat 0,8% dari penutupan 23 maret 2020, rupiah diperkirakan tidak akan beranjak jauh dari angka tersebut. Kondisi ekonomi dalam negeri ditengah penanganan wabah tidak dapat tumbuh dengan maksimal. Gejolak pendapatan per kapita tidak sesuai harapan pemerintah di tengah opsi social distancing yang saat ini digalakkan. 

Menurut Ekonom Eric Sugandi Ekonom Institut Kajian Strategi Universitas Kebangsaan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia  hanya akan mencapai maksimal di angka 4,3% hingga akhir 2020 ditengah pandemi virus Corona / COVID-19.  

Social distancing dan himbauan work from home menjadikan lambatnya ekonomi nasional. Perusahaan swasta banyak yang meliburkan diri, berkurangnya penghasilan, daya beli masyarakat melemah menjadi satu menghantam negeri ini.

Pemerintah semakin pusing dengan keadaan ekonomi Indonesia,  disamping penanganan wabah yang masih buram dan biaya pengobatan pasien COVID-19 yang membutuhkan anggaran tidak sedikit. Anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk menangani COVID-19 tentu menguras APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) secara signifikan. Peruntukan yang seharusnya untuk pembangunan digunakan untuk menyelesaikan wabah virus Corona.

Tak ubahnya dengan rupiah, IHSG (Indeks Harga Saham gabungan) juga babak belur berada di angka 3.937,63 (16.00, 24 Maret 2020). Sempat menguat di sesi 1 ke angka 4.117,82, IHSG tak mampu menanjak dan kembali ambrol di bawah 4000 saat penutupan perdagangan.

Sentimen wabah COVID-19 menjadi pemicu utama ambruknya IHSG. Investor asing menarik dana hingga 10 triliun rupiah pada Jum'at 20 Maret 2020 yang membuat IHSG sempat menghijau di penutupan bursa. Sesuai prediksi penarikan dana tersebut menyebabkan turunnya IHSG di awal pekan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun