Mohon tunggu...
Achmad Saifullah Syahid
Achmad Saifullah Syahid Mohon Tunggu... Penulis

orang-orang cahaya berhimpun di dalam tabung cahaya, tari-menari, di malam yang terang benderang sampai fajar menjelang di cakrawala.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Aparatur Sipil Negara atau Aparatur Sipil Pemerintah?

17 Oktober 2019   15:12 Diperbarui: 18 Oktober 2019   15:14 0 6 0 Mohon Tunggu...
Aparatur Sipil Negara atau Aparatur Sipil Pemerintah?
(KOMPAS.com/MASRIADI)

Gara-gara mendengar kabar Aparatur Sipil Negara (ASN) dilarang mengkritik pemerintah, saya ketiban rezeki. Seorang kawan yang lama menghilang, pada tengah malam mendadak muncul.

Saya tidak tertarik soal kritik Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang sekarang dirubah jadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Bukan tidak mau peduli dengan urusan negeri tercinta. Saya ASN bukan. Lurah bukan. Camat bukan. Kepala Bagian bukan. Apalagi Menteri, saya pasti bukan.

ASN dilarang mengkritik pemerintah di ruang publik, monggo-monggo saja. Tidak aneh. Seseorang memang dilarang membuka aib tempat ia bekerja. Apalagi, orang makin tidak bisa membedakan antara kritik, saran, ejekan, hingga ujaran kebencian.

"Jadi kamu setuju ASN tidak boleh mengkritik dan menjatuhkan martabat pemerintah?" tanya kawan saya.

"Kalau saya setuju apa pendapat saya akan menjadi dukungan untuk Pak Menteri PAN-RB? Umpama saya tidak setuju, apa pendapat saya akan didengar sehingga Pak Menteri akan meralat pernyataannya?"

"Kok begitu?"

"Kok begitu bagaimana? Memang begitu. Presiden saja tidak pernah bertanya kepada saya siapa calon menteri yang sebaiknya diangkat. Tidak mungkin seorang Presiden bertanya tentang urusan besar pada orang kecil seperti saya."

Diskusi macet. Kawan saya pamitan pulang. Lega hati saya.
Saya akan merebahkan badan ketika kawan saya nongol lagi. Oalah.

"Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu istirahatmu. Kita harus menuntaskan diskusi ini."
"Soal ASN?"
"Ya. Ini gawat.
"Apanya yang gawat? Semua baik-baik saja kamu bilang gawat. Soal kritik mengkritik itu sudah ada aturannya. Baca PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS."

Saya sudah sangat mengantuk. Namun, pikiran kawan saya makin menyala:

Kita sembrono menggunakan kata negeri, negara dan pemerintah. Dahulu, pegawai negara disebut Pegawai Negeri Sipil. Negeri itu, kata orang pintar, bahasa kebudayaan. Kurang tepat bila digunakan untuk keperluan tata kelola pekerjaan yang memerlukan kompetensi dan profesionalisme.
 
Agak lumayan pegawai negara sekarang dinamakan Aparatur Sipil Negara (ASN). Mereka adalah pegawainya negara. Seorang Bupati bisa dipilih dan diganti setiap lima tahun. Namun, pegawai negara akan tetap menjalankan tugasnya sebagai aparat negara.

Pegawai negara, dengan demikian, bukan anak buah atau bawahan bupati. Bupati adalah pekerja yang diamanati rakyat untuk mengelola pemerintahan selama lima tahun. Sedangkan pegawai negara taat kepada Undang-Undang Negara. Mereka setia dan mengabdi kepada negara dan rakyat.
 
Saya mendengarkannya sambil terkantuk-kantuk. Tidak ada kewajiban bagi orang mengantuk untuk memprotes atau menyanggah.

Pre-teks yang saya tangkap adalah siswa dilarang mengkritik guru. Guru tidak boleh mengkritik Kepala Sekolah. Kepala sekolah harus manut pada Kepala Dinas Pendidikan. Kepala Dinas jangan mengkritik Bupati.

Artinya, seorang bawahan, dalam struktur "kekuasaan" jabatan, harus menyenangkan hati atasan. Dahulu pernah ada ungkapan Asal Bapak Senang. Pasalnya, kritik terlanjur berkonotasi negatif: tidak loyal, tidak setia, berani menentang atasan dan sebagainya.

Apalagi di era media sosial saat ini, yang memberikan kritik akan berhadapan dengan post-truth. Istilah politik pascakebenaran ini tidak lain adalah politik benere dhewe. Akan sangat mengerikan apabila yang menerapkan politik ini adalah pihak yang setiap tali kekuasaan berada di genggaman tangannya.

Seseorang bukan hanya tiba-tiba dicopot dari jabatan. Suatu hari ia bisa saja dijemput oleh pasukan siluman lalu diasingkan di suatu tempat.

Tapi, percayalah, itu semua tidak akan terjadi. Negara kita baik-baik saja. Aman sentosa dan sejahtera.

Anggap saja ini tulisan dari orang yang kurang tidur akibat lembur pekerjaam selama tujuh hari.[]

KONTEN MENARIK LAINNYA
x