Mohon tunggu...
Achmad Saifullah Syahid
Achmad Saifullah Syahid Mohon Tunggu... Penulis

orang-orang cahaya berhimpun di dalam tabung cahaya, tari-menari, di malam yang terang benderang sampai fajar menjelang di cakrawala.

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara Pilihan

Yang Menang Harus Bangsa Indonesia

21 April 2017   06:32 Diperbarui: 21 April 2017   07:02 0 3 1 Mohon Tunggu...
Yang Menang Harus Bangsa Indonesia
http://www.antaranews.com/

Sebagaimana kalah dan menang, hidup dan mati adalah dua hal berlawanan yang saling mengisi. Persis seperti tebak-tebakan: ada masuk yang keluar dan keluar yang masuk, apakah itu? Adalah kancing baju yang masuk sekaligus keluar dari lubang baju.

Kita bisa menggunakan analog kancing baju untuk memahami sisi, dimensi, struktur kalah dan menang. Kalah tidak seratus persen kalah yang berisi kekalahan total. Menang tidak seratus persen menang yang berisi kemenangan total. Ah, mosok dialektika ciptaan Tuhan sesederhana itu!

Maka, betapa banyak tanda kutip yang perlu kita pasang pada sejumlah kata, misalnya kata “menang” dan “kalah” itu sendiri. Umpama pernyataan, Ahok “kalah” dan Anis “menang” dalam Pilkada DKI. Benarkah Ahok kalah dan Anis menang? Kekalahan seperti apa yang menimpa Ahok dan kemenangan seperti apa yang menjemput Anis? Tidakkah terdapat “hakekat” kemenangan dalam kekalahan Ahok? Sebaliknya, tidakkah terdapat “hakekat” kekalahan dalam kemenangan Anis?

Pernahkah kita menimbang secara seksama, getaran denotatif-konotatif dalam sebaris kalimat Ahok kalah dan Anis menang?  Atau seberapa kuat gambaran imajinasi kita terkait kalah dan menang itu? Kalah 100% menang 100% dan menang 100% kalah 100%? Apakah menang dan kalah diikat dan terikat oleh momentum ruang dan waktu yang selalu mengalir dan bergetar itu?

Antara Hidup-Mati, Pooya, Tau tau dan Ma’nene

Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, saya akan bergerak melingkar dengan terlebih dahulu nyambangi sedulur kita di tanah Toraja. Di sana kehidupan dan kematian bersahabat mesra dalam ruang keluarga. Salah satu anggota keluarga yang sudah meninggal belasan tahun lalu diperlakukan seakan ia masih hidup. Batas antara dunia dan akhirat seakan cukup dipisah oleh selembar kain kelambu.

Mayat yang terbujur itu sedang “tidur”. Para cucu yang masih kecil dilarang berisik agar tidak membangunkan tidur kakek. Makanan, minuman dan rokok disiapkan. Kakek dimandikan dan dipakaikan baju secara teratur. Subjektivisme bahkan mengatasi rasa kematian.

Hidup dan mati hanyalah bagaimana kita memandangnya. Fakta kematian diperlakukan sebagai kehidupan, dan itu sama sekali bukan sikap yang rumit. Beberapa kerabat sering mengunjunginya atau menghubungi lewat telepon untuk menanyakan bagaimana kabar kakek, karena anak dan cucu percaya bahwa ia masih ada di sekitar mereka dan bisa mendengar mereka.

Kematian adalah hidup kembali untuk melakukan perjalanan panjang dan sulit ke Pooya, tahap akhir dari akhirat, di mana jiwa mereka akan bereinkarnasi.

Tau tau atau patung yang merupakan representasi kedudukan sosial almarhum semasa hidupnya, ritual ma'nene atau "penyucian jenazah" merupakan tradisi suku Toraja yang menyatukan antara kehidupan dan kematian.

Ada kehidupan dalam kematian, dan ada kematian dalam kehidupan. Hidup dan mati bukan dikotomi yang terpecah. Prinsip budaya dan tradisi itu berlaku pada sebagian suku lainnya di belahan Nusantara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2