Mohon tunggu...
Achmad Humaidy
Achmad Humaidy Mohon Tunggu... Blogger -- Challenger -- Entertainer

#BloggerEksis My Instagram: @me_eksis My Twitter: @me_idy My Blog: https://www.blogger-eksis.my.id

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Indonesia Darurat Film Anak yang Ceria

24 Juli 2020   01:50 Diperbarui: 24 Juli 2020   01:43 180 10 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Indonesia Darurat Film Anak yang Ceria
Minimnya film Indonesia bertema anak membuat anak-anak Indonesia butuh hiburan/weibo.com

Euforia virtual peringatan Hari Anak Nasional yang dirayakan setiap 23 Juli tetap ramai meski berada di tengah pandemi Corona. Tema untuk tahun 2020 ini yaitu 'Anak Terlindungi, Indonesia Maju.' Tema ini sejalan dengan kondisi anak-anak Indonesia yang masih mengalami tindak eksploitasi, kekerasan, perlakuan buruk, dan perundungan.

Ingatan penulis kembali pada berita Kompas.com di awal Maret terkait kasus anak yang membunuh tetangganya yang masih balita karena terlalu banyak menonton film horor dan film dengan adegan sadis. Anak dianggap sebagai peniru ulung atas apa yang mereka lihat langsung atau melalui media tayangan televisi dan film.

Industri hiburan nyatanya memiliki peran besar untuk membentuk pola pikir anak. Kecenderungan anak begitu mudah ingin menjadi seperti tokoh yang ada dalam film atau apa yang dilihatnya. Apalagi saat anak sudah terbiasa menonton semua itu melalui akses internet selama di rumah saja.

Begitu juga terkait kasus jaringan cyber pornografi yang dilakukan oleh pedofil atau predator seksual. Masih banyak anak yang menjadi objek kepuasan dan kenikmatan. Semua itu dilakukan demi menyangkut pelepasan hasrat seksual yang menyimpang.

Pun banyak anak Indonesia yang dituntut oleh orang tua untuk menjadi seperti apa yang mereka mau. Anak-anak hidup dengan pola asuh yang kasar dan tidak manusiawi karena kurang perhatian akibat kesibukan orangtua. Anak-anak Indonesia berada pada bingkai terabaikan dan tidak terlindungi.

Masalah-masalah yang dialami anak Indonesia/Kementerian PPPA
Masalah-masalah yang dialami anak Indonesia/Kementerian PPPA

Meski instrumen regulasi sudah mengakomodir semua itu, nyatanya kegagalan implementasi masih saja menimpa anak negeri. Film yang beredar di bioskop sebelum pandemi memang banyak, tapi hanya menekankan pada sisi hiburan yang minim edukasi. Sudah selayaknya anak-anak harus mendapat alternatif tontonan film Indonesia yang sesuai dengan usianya.

Bila menengok masa kecil penulis diawal era milennium, film anak hanya hadir terbatas saja. Film Petualangan Sherina dan Film Joshua oh Joshua menjadi kebangkitan film anak Indonesia. Berdasar pengamatan penulis, hanya 32 judul film anak yang berhasil tayang sampai bulan Juli ini. Berarti, per tahunnya cuma 1 atau 2 film tentang anak yang diputar di bioskop bahkan bisa saja ada tahun yang tak dihiasi film anak sama sekali. Miris sekali melihat perkembangan film anak di industri film lokal padahal anak-anak bisa menjadi segmentasi penonton yang efektif, terutama saat momen-momen liburan.

Dari realita tersebut, instrumen pendidikan harus mampu memasukkan media audio visual seperti film. Banyak ide cerita yang bisa digali untuk membangkitkan kepercayaan diri dalam bentuk film anak yang berkualitas. Ketika jumlah film anak semakin banyak, bukan tak mungkin hal itu bisa mengurangi intensitas anak bermain ponsel. Apalagi anak-anak zaman now sudah terkontaminasi konten hiburan dari games, komik, dan film animasi.

Sudah sewajarnya industri film nasional harus memenuhi tantangan zaman untuk memproduksi film Indonesia yang ramah anak. Film anak disinyalir bisa memiliki urgensi pemeliharaan, pengembangan, dan pemanfaatan budaya bangsa. Melalui film anak, kita dapat memperkenalkan budaya suatu masyarakat kepada bangsa atau negara lain dari perspektif keluarga. Hal ini berfungsi untuk menjalin hubungan antar bangsa untuk saling mengenal budaya masing-masing. Itulah hakikat film Indonesia yang dianggap sebagai pembentuk karakter suatu bangsa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x