Achmad Humaidy
Achmad Humaidy Freelance Writer

I'm a blogger II challenger II entertainer My Instagram: https://www.instagram.com/me_eksis My Twitter: https://twitter.com/me_idy My Blog: https://www.blogger-eksis.my.id

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Distribusi Energi BBM Satu Harga Terkini

7 November 2018   23:35 Diperbarui: 7 November 2018   23:58 271 1 1
Distribusi Energi BBM Satu Harga Terkini
suasana SPBU terkini (bidikdata.com)

Seberapa gregetnya loe?

Gue antri isi BBM di pom bensin.

Terus??

Tapi, gue masih naik sepeda. 

Hahahaha

 

            Seberapa greget challenge memang sedang viral dikalangan netizen. Pertanyaan receh yang digunakan untuk menganalogikan segala sesuatu yang mustahil terjadi. Semua itu dijadikan bahan lelucon atau hiburan saat media sosial dipenuhi aksi kampanye dari capres dan cawapres yang siap bertanding pada tahun 2019.

            Terlepas dari hal itu, penulis bertanya "Seberapa gregetnya BBM hari ini?"

            Apalagi konsep energi berkeadilan selalu dicanangkan oleh Pemerintah karena terkait dengan pengamalan sila kelima dalam Pancasila, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Apakah program BBM Satu Harga sudah terasa manfaatnya bagi kita? Sudah sejalankah dengan nawacita yang terkait pada ketahanan energi nasional??

            Program BBM Satu Harga merupakan wujud komitmen pemerintah untuk menyediakan energi berkeadilan bagi masyarakat. Pemerintah bersinergi dengan Pertamina sebagai perusahaan milik negara yang bisa mewujudkan pemerataan dan asas keadilan dalam penyediaan energi bagi seluruh rakyat Indonesia. Pertamina hadir sebagai lembaga penyalur BBM Satu Harga pada wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

           Sudah pasti banyak tantangan dan kendala yang dihadapi karena kondisi geografis di lokasi pembangunan lembaga penyalur BBM cukup sulit ditembus. Maka, Pertamina terus berupaya dan membuat target waktu agar program BBM Satu Harga bisa dirasakan secara tuntas sesuai arah yang telah ditetapkan. Hal ini merujuk Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 136 Tahun 2016 tentang Percepatan Pemberlakuan Satu Harga Jenis BBM Tertentu (JBT) dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) secara nasional yang diberlakukan sejak 1 Januari 2017.

          Target yang dijangkau oleh Pertamina yaitu sebanyak 150 titik selama tiga tahun dari 2017 sampai 2019. Adapun rincian target tersebut terdiri dari 54 lokasi (2017), 67 lokasi (2018), dan 29 lokasi (2019). Di tahun 2017, telah beroperasi 54 titik BBM satu harga sesuai target realisasi operasional SPBU-N (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum dan Nelayan).

          Sementara untuk tahun 2018, sampai bulan Oktober telah menjangkau 58 titik yang tersebar di seluruh Indonesia, yakni di wilayah Pertamina Marketing Operation Region I Aceh, Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar), Riau 8 titik, Wilayah Marketing Operation Region II Sumatera Selatan, Lampung 3 titik, wilayah Marketing Operation Region V NTB dan NTT 10 titik. Wilayah Marketing Operation Region VI Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan 15 titik, Marketing Operation Region VII Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Gorontalo dan Sulawesi Tenggara 9 titik dan di wilayah Marketing Operation Region VIII Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat sebanyak 13 titik.

           Dari semua titik wilayah, region VIII memiliki tantangan tersendiri karena ada anggaran biaya transportasi yang harus dikeluarkan. Untung saja Pemerintah sigap dengan terus membangun infrastruktur jalan Trans Papua sehingga jalan tersebut tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat yang ada di sana, tetapi juga bagi Pertamina selaku badan usaha yang bertugas menyalurkan BBM.

            Penghematan biaya penyaluran ini, membuat Pertamina tidak perlu lagi mengangkut BBM dengan menggunakan pesawat karena telah terbuka jalur transportasi darat. Bayangkan saja, Pertamina harus mengeluarkan Rp 40.000-Rp 50.000 untuk biaya penyaluran BBM per liter dengan menggunakan pesawat udara (air traktor). Jika jalur darat justru lebih hemat hanya mengeluarkan Rp 500-Rp 1.000/liter untuk per liter BBM yang disalurkan. Distribusi yang lebih hemat ini terus dikonsolidasikan dengan penyesuaian kondisi medan yang ditempuh.

            Penekanan biaya operasional yang membuat ongkos logistik lebih murah juga turut mempengaruhi penetapan harga jual BBM terkini. Pada BBM Satu Harga di SPBU penyalur yang sudah ditentukan, BBM akan dijual dengan harga Rp 6.450/liter untuk Premium dan Solar Rp 5.150/liter. Hanya saja harga BBM tersebut bisa berubah setelah masuk ke rantai pengecer.

Data dari Kementerian ESDM dalam program BBM Satu Harga
Data dari Kementerian ESDM dalam program BBM Satu Harga
            Dari 67 titik yang ditargetkan pada tahun ini, maka masih tersisa 9 titik yang harus diselesaikan hingga akhir tahun. Sembilan lembaga penyalur BBM Satu Harga yang akan beroperasi sebagian besar berada di Sumatera, yaitu Sitolu Ori, Tanah Kasar, Pulau Batu Timur Riau Selatan, Sangir Balau Jagung Riau, Sangir Batak Haris Riau, Pulay Banyak Aceh Singkil, Bolakmi Jayawijaya, Malingau, dan Yalimo. Semoga saja target tahun ini bisa tercapai sehingga dedikasi Pertamina dalam memanfaatkan program BBM satu harga berjalan optimal.

            Itulah implementasi program BBM Satu Harga atas sinergi kuat yang terus dilakukan oleh Pertamina, Pemerintah, dan Investor untuk memastikan masyarakat di wilayah-wilayah tersebut mendapat pasokan BBM demi memenuhi kebutuhan dan menjalankan aktivitas ekonomi. Dibutuhkan juga pengawasan dari berbagai pihak, baik dari aparat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan agar BBM Satu Harga bisa dinikmati masyarakat dengan harga sesuai ketentuan pemerintah. Program ini diharapkan dapat mendukung pergerakan dan pemerataan perekonomian nasional sehingga kontribusi Pertamina mampu menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Distribusi energi BBM bisa menjangkau semua kalangan
Distribusi energi BBM bisa menjangkau semua kalangan