Mohon tunggu...
Achmad Humaidy
Achmad Humaidy Mohon Tunggu... Administrasi - Blogger -- Challenger -- Entertainer

#BloggerEksis My Instagram: @me_eksis My Twitter: @me_idy My Blog: https://www.blogger-eksis.my.id

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Selalu Ada Perempuan Hebat di Balik Sosok Tentara yang Kuat

16 April 2018   16:12 Diperbarui: 16 April 2018   21:53 4334
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Salah satu adegan dalam Film Jelita Sejuba

Tapi, takdir sudah menyatakan bahwa Sharifah dan Jaka memang berjodoh. Tak butuh pacaran lama, Jaka melamar Sharifah dan mereka pun menikah karena ada tragedy yang merestui hubungan suci mereka.

Lika-liku cinta tak hanya ada saat masa pertemuan. Ketika menjalin rumah tangga, ada dinamika yang mewarnai pergulatan hati antara suami, istri, dan anak. 

Sharifah harus belajar memendam rindu setiap kali Jaka bertugas ke luar kota bahkan luar negeri. Andika (Yukio) terus menanyakan kabar ayahnya yang sedang bertugas sebagai tentara.

Bagai pesisir Sejuba yang dihiasi batu-batu besar nan cantik menanti mentari esok hari, Sharifah dan Andika selalu menunggu kepulangan dari belahan jiwa yang tunduk pada negara.

Sharifah selalu setia mendampingi Jaka
Sharifah selalu setia mendampingi Jaka
Di balik perjuangan seorang tentara yang bekerja untuk bangsa, ada seorang istri yang senantiasa menunggu di rumah. Para istri tidak serta merta mengabarkan kepada suami tentang keresahan atau kekhawatiran yang nanti bisa mengganggu konsentrasi para prajurit dalam bekerja mengabdi untuk negara. Plot cerita menarik sehingga mampu disorot lampu utama sebagai kisah resah di Natuna.

Jujur Prananto, penulis skenario Jelita Sejuba. Ia mampu menulis kisah Sharifah yang mencintai kesatria negara dengan sangat manis. Ada kisah cinta saat perkenalan dan setelah pernikahan, saat menjalani kehidupan dalam bahtera rumah tangga ala tentara. Menjadi istri seorang tentara membuat Sharifah harus kehilangan sosok kepala keluarga.

Sang sutradara, Ray Nayoan, mencoba memahat adegan sesuai slogan "lebih baik pulang nama, daripada gagal dalam tugas". Prioritas utama seorang tentara ditampilkan karena lebih mendahulukan kepentingan negara dibanding berkorban untuk istrinya.

Ada kisah sederhana tentang kekuatan cinta yang bersatu dalam bakti terhadap negara hingga menggugah hati siapa saja yang menontonnya.

Hanya Ray masih terlalu patuh dalam adegan yang seharusnya bisa digarap lebih esensial. Kisah patriotik Jaka saat memenuhi tugas dari negara belum terungkap jelas.

Entah ikut misi perdamaian dunia dengan PBB, atau perang di Afrika, atau justru  pemberontakan yang terjadi di Indonesia. Visual ini tidak terdeskripi lengkap sehingga mengaburkan cerita.

Untung saja Director of Photography (DOP) mampu membentuk sinematografi yang asyik dipandang mata. Beberapa adegan saat Sharifah dan Jaka mengurus berkas-berkas pernikahan terasa mengalir tanpa harus menelan durasi lama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun