Mohon tunggu...
Achmad Humaidy
Achmad Humaidy Mohon Tunggu... Blogger -- Challenger -- Entertainer

#BloggerEksis My Instagram: https://www.instagram.com/me_eksis My Twitter: https://twitter.com/me_idy My Blog: https://www.blogger-eksis.my.id

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Pilihan

Kompasianer Mau Produksi Film, Siapa Mau Gabung?

6 Agustus 2017   16:00 Diperbarui: 6 Agustus 2017   16:08 1169 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kompasianer Mau Produksi Film, Siapa Mau Gabung?
Logo Freeaktivitas Production

   Jika Kompasianer diminta untuk menulis review atau kritik film sudah biasa. Namun, apa jadinya jika para Kompasianer terlibat dalam produksi film pendek. Bisa jadi produser, penulis skenario, atau bahkan talent yang berperan dalam film tersebut. Yah, ide itu yang langsung muncul saat penulis hadir dalam acara Ngoplah (Ngobrol di Palmerah) bersama salah satu komunitas film Freeaktivitas Production dari Bogor.

   Selasa, tanggal 1 Agustus 2017, di Lantai 6 Kantor Kompas Gramedia, Jakarta, para pengurus dan anggota KoMik (Kompasianer Movie enthus(I)ast Klub) mengadakan kopi darat pada siang hari. Diawali dengan makan siang bersama yang didukung oleh Rolas Indonesian Lunch Box Cateringdengan menu nasi bakar pedas. Acara berlangsung dengan akrab hingga atmosfer silaturahmi terjalin erat. 

Makanan khas Indonesia dikemas dalam packaging nasionalis. Cocok dipesan untuk segala acara.
Makanan khas Indonesia dikemas dalam packaging nasionalis. Cocok dipesan untuk segala acara.
   Selesai makan, kami mulai menonton film pendek berjudul Tangan-Tangan Kecil 2. Film bercerita tentang anak-anak kampung Dramaga yang mempertahankan permainan tradisional meski permainan masa kini yang serba digital mulai dikenal. Permainan tradisional lebih sering dimainkan dengan gerakan sehingga butuh interaksi dengan orang lain untuk belajar saling mendukung satu sama lain. Tidak seperti permainan digital yang hanya menggunakan tombol sehingga membuat efek malas bagi anak-anak masa kini.

Contoh Permainan Tradisional (DokPri)
Contoh Permainan Tradisional (DokPri)
Kekonyolan anak-anak dalam bermain gambaran dan peletokan (perang-perangan menggunakan bambu) menghiasi film ini. Kenakalan anak-anak dengan anak-anak lainnya serta kenakalan anak-anak dengan orang dewasa juga lengkap tersaji dalam visual film ini. Meski sudah dihukum, anak-anak tidak pernah jera untuk berulah iseng terhadap orang-orang disekitarnya.

Bahkan ada anak yang sering mengganggu abangnya yang masih mengompol. Saat abangnya tidur, Ia memberi gigitan capung ke pusar abangnya. Padahal, anak tersebut juga sebenarnya masih sering mengompol di tempat tidur. Selain itu, ada juga 'cinta monyet' yang terkadang mewarnai masa-masa kekanakan kita. Itulah kisah-kisah sederhana yang terkadang menjadi ejekan teman-teman sebaya di masa anak-anak yang penuh canda, ceria, dan tawa.

Film Tangan-Tangan Kecil 2 semakin kental nilai konvensional dengan penggunaan dialog dalam bahasa Sunda. Namun, penonton tetap disajikan subtitle Indonesia sehingga tidak mengurangi sisi kearifan lokal yang ingin diungkap dalam film ini. Tingkah laku anak-anak yang didramatisir seperti orang dewasa cukup mengundang tawa. Hanya saja keterbatasan durasi film pendek sekitar 20 menit ini tak mampu begitu kuat menyampaikan pesan secara jelas karena ada beberapa adegan yang kurang lugas.

Proses produksi film ini memang cepat hanya dalam waktu 1 minggu dan semua biaya produksi mengeluarkan dana sekitar 1-2 juta rupiah yang berhasil dikumpulkan dari pemberdayaan komunitas itu sendiri. Film independen ini memang tidak diperuntukkan untuk komersil sehingga mereka juga tidak membayar anak-anak atau talent lain yang berperan dalam film. Dibalik segala keterbatasan produksi, film Tangan-Tangan Kecil 2 berhasil mendapat penghargaan sebagai Best People Choice kategori Comedy Indie Movie dalam Taman Film Festival 2017 di Bandung.

Agung Jarkasih VS Agung Han (DokPri)
Agung Jarkasih VS Agung Han (DokPri)
   Tak terasa film pun usai diputar. Agung Jarkasih sebagai sutradara film tersebut mulai menceritakan proses produksi dan juga komunitas yang didirikannya. Agung mengungkap bahwa keterlibatannya dalam dunia film bukan karena latar belakang pendidikannya. Ia menyukai film dan belajar secara otodidak untuk memproduksinya secara mandiri. Ini yang patut diapresiasi.

Freeaktivitas Production berada di kawasan Dramaga, dekat kampus IPB. Terbentuk sekitar 3 tahun, namun mulai aktif mengikuti festival selama 1 tahun belakangan ini. Sebagai komunitas, Freeaktivitas Production memiliki program rutin mingguan yang terbuka bagi siapa saja untuk saling sharing tentang film. Mereka menyebut program ini dengan "Duduk, Belajar, Berkarya Bareng". Program ini dibuat untuk saling berbagi wawasan, membahas segala hal tentang dunia visual terutama film, mereview dan evaluasi hasil project yang sudah dilaksanakan, sekaligus merancang topik project film baru yang akan diproduksi.

Kendala dari komunitas ini yaitu sumber daya manusia (sdm) yang masih sedikit. Di beberapa produksi pun, Agung Jarkasih merangkap menjadi penulis naskah hingga editor sekalipun. Hal ini disebabkan karena beberapa pengurus komunitas juga didominasi generasi milenial yang bekerja dan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA). Dibalik itu semua, komunitas ini memiliki harapan ke depan ingin membuat rumah produksi (production house/PH) yang bisa menjangkau jaringan bioskop perfilman nasional.

Bermodal isu-isu sosial atau hal-hal sederhana di sekitar kita bisa menjadi bekal ide dalam suatu pembuatan film pendek. Rangkaian kata yang biasa kita tulis bisa diangkat menjadi bahasa visual agar menginspirasi publik lebih luas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x