Mohon tunggu...
Sri Wintala Achmad
Sri Wintala Achmad Mohon Tunggu... Biografi Sri Wintala Achmad

SRI WINTALA ACHMAD menulis puisi, cerpen, novel, filsafat dan budaya Jawa, serta sejarah. Karya-karya sastranya dimuat di media masa lokal, nasional, Malaysia, dan Australia; serta diterbitkan dalam berbagai antologi di tingkat daerah dan nasional. Nama kesastrawannya dicatat dalam "Buku Pintar Sastra Indonesia", susunan Pamusuk Eneste (Penerbit Kompas, 2001) dan "Apa dan Siapa Penyair Indonesia" (Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2017). Profil kesastrawanannya dicatat dalam buku: Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku (Balai Bahasa Yogyakarta, 2016); Jajah Desa Milang Kori (Balai Bahasa Yogyakarta, 2017); Menepis Sunyi Menyibak Batas (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018). Sebagai koordinator divisi sastra, Dewan Kesenian Cilacap periode 2017-2019.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Cheng Ho, Perang Paregreg, dan Perkembangan Islam di Jawa

1 Oktober 2019   11:10 Diperbarui: 1 Oktober 2019   11:42 0 0 0 Mohon Tunggu...
Cheng Ho, Perang Paregreg, dan Perkembangan Islam di Jawa
Sumber: infobukusriwintalaachmad.wordpress.com

Berbicara mengenai sejarah Islam di Jawa, tidak dapat dilepaskan dengan Admiral Cheng Ho. Seorang pelaut muslim dari Tiongkok yang memiliki nama asli Ma He atau Ma Sanbao.

Cheng Ho yang lahir pada tahun 1371 berasal dari suku Hui merupakan orang kepercayaan Kaisar Yong Le (Tiongkok), kaisar ke-3 dari Dinasti Ming yang berkuasa pada tahun 1403-1424.

Ketika masih kecil, Cheng Ho bersedia dikebiri. Dengan cara demikian, Cheng Ho dapat membebaskan kedua adik perempuan dan ibunya yang ditawan dan akan dibunuh oleh Kaisar Ming. Kaisar Cina yang pernah diberontak oleh ayah Cheng Ho bernama Ma Hazi (Haji Ma).

Cheng Ho yang sejak kecil dikebiri dan beragama Islam itu dikenal dengan "Kasim". Berbeda dengan Ma Hazi yang memusuhi Kaisar Ming, Cheng Ho membela Pangeran Ming Chui Ti. Berkat prestasinya, Cheng Ho diangkat sebagai pembantu dan kemudian menjadi penasihat sang pangeran.

Karena kedekatannya dengan Pangeran Ming Chui Ti, Cheng Ho membantunya untuk melakukan pemberontakan terhadap Kaisar Ming. Dengan 30 ribu anggota pasukan, Cheng Ho berhasil menaklukkan pasukan Kaisar Ming dalam waktu 3 tahun. 

Sesudah Kaisar Ming terguling dari tahta kekuasaannya, Pangeran Ming Chui Ti menjadi kaisar Cina. Ketika menjadi kaisar, Ming Chui Ti bergelar Kaisar Yong Le. Sejak itu, Cheng Ho menjadi tangan kanan atau orang kepercayaan Kaisar Yong Le. 

Sejak mendukung Kaisar Yong Le hingga Cina di bawah pemerintahan Kaisar Hongxi dan berlanjut Kaisar Xuande, Cheng  Ho melakukan pelayaran dengan kapal armadanya di Benua Afrika dan Asia dari tahun 1405 hingga 1433.

Dalam pelayaran, Cheng Ho pula menyingahi Jawa pada tahun 1405-1419 dan 1430-1433. Dengan demikian, Cheng Ho datang di Jawa ketika Majapahit dilanda Perang Paregreg antara Wikramawardhana (Majapahit Barat) dan Bhre Wirabhumi (Majapahit Timur). Pendapat tersebut dikuatkan oleh Marwati Djonet dan Nugroho Notosusanto yang menyatakan bahwa Cheng Ho mengunjungi Majapahit Timur .

Menurut catatan Ma Huan (sekretaris Cheng Ho) dalam bukunya yang bertajuk Ying-Ya-Sheng-Lan, bahwa Cheng Ho datang di Majapahait karena diutus oleh Kaisar Yong Le untuk mencari tahu mengenai Perang Paregreg antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabhumi.

Selama di Jawa, Cheng Ho tidak hanya membangun Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) dan Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong yang berada di Semarang, mengajarkan bercocok tanam, beternak, berdagang, mengukir, membuat bangunan, dan lainnya; namun juga turut aktif menyebarkan agama Islam bersama Syekh Quro dan Syekh Nurjati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x