Mohon tunggu...
Sri Wintala Achmad
Sri Wintala Achmad Mohon Tunggu... Biografi Sri Wintala Achmad

SRI WINTALA ACHMAD menulis puisi, cerpen, novel, filsafat dan budaya Jawa, serta sejarah. Karya-karya sastranya dimuat di media masa lokal, nasional, Malaysia, dan Australia; serta diterbitkan dalam berbagai antologi di tingkat daerah dan nasional. Nama kesastrawannya dicatat dalam "Buku Pintar Sastra Indonesia", susunan Pamusuk Eneste (Penerbit Kompas, 2001) dan "Apa dan Siapa Penyair Indonesia" (Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2017). Profil kesastrawanannya dicatat dalam buku: Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku (Balai Bahasa Yogyakarta, 2016); Jajah Desa Milang Kori (Balai Bahasa Yogyakarta, 2017); Menepis Sunyi Menyibak Batas (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018). Sebagai koordinator divisi sastra, Dewan Kesenian Cilacap periode 2017-2019.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Trunajaja Makar [Sandyakalaning Mataram Islam]

24 Juni 2019   15:40 Diperbarui: 24 Juni 2019   15:53 0 1 1 Mohon Tunggu...
Trunajaja Makar [Sandyakalaning Mataram Islam]
donisetyawan.com 

Trunajaya berasal dari Madura yang merupakan menantu Panembahan Rama dari Tembayat. Trunajaya mulai muncul namanya pada era pemerintahan Raden Mas Rahmat (Sunan Amangkurat I) dan meninggal sebelum berdirinya Kasunanan Kartasura pada tahun 1680.

Berawal dari perebutan gadis Rara Hoyi dari Surabaya, terjadi perselisihan antara Sunan Amangkurat I dengan Pangeran Adipati Anom (Raden Mas Sayidin) putranya. Rara Hoyi yang semula merupakan simpanan Sunan Amangkurat I menjalin cinta dengan Pangeran Adipati Anom. Akibatnya, Rara Hoyi dihukum mati oleh Pangeran Adipati Anom atas perintah Sunan Amangkurat I. Dalam kasus ini, Pangeran Pekik (saudara ipar Sunan Amangkurat I) yang merestui hubungan cinta antara Rara Hoyi dan Pangeran Adipati Anom dihuman mati.

Akibat terburuk dari kasus perebutan Rara Hoyi antara ayah dan anak kandung sendiri itu, Raden Mas Sayidin dicopot statusnya sebagai Pangeran Adipati Anom oleh Sunan Amangkurat I. Oleh Sunan Amangkurat I, Raden Mas Sayidin disingkirkan ke Palbapang.

Lantara tidak terima dengan perlakuan ayahnya, Raden Mas Sayidin ingin menerapkan politik nabok nyilih tangan. Berkehendak melakukan makar terhadap Sunan Amangkurat I namun melalui orang lain yakni Trunajaya. Dengan dukungan dan bantuan dana dari Raden Mas Sayidin, Trunajaya menggalang kekuatan untuk memberontak terhadap Sunan Amangkurat I. Orang-orang penting yang terlibat di dalam pasukan Trunajaya yakni Panembahan Rama dan Kraeng Galengsong dari Makassar.

Sesudah pasukan tergalang, Trunaja mengingkari janji dengan Raden Mas Sayidin. Bila berhasil melakukan pemberontakan terahdap Sunan Amangkurat I, Trunaja berniat menjadi raja Mataram dan bukan Raden Mas Sayidin. Akibatnya, Raden Mas Sayidin kembali berpihak pada Sunan Amangkurat I. Sungguhpun demikian, Trunajaya berhasil menggulingkan  kekuasaan Sunan Amangkurat I pada tahun 1677. Sesudah berhasil menaklukkan Mataram, Trunajaya menjadi raja di Madiun bergelar Panembahan Maduretna.

Bersama Pangeran Adipati Anom, Pangeran Puger, dan putra-putra lainnya; Sunan Amangkurat I meninggalkan istana Mataram dan berlari ke arah Ajibarang. Setiba Ajibarang, Sunan Amangkurat I menyerahkan pusaka yang merupakan lambang wahyu keprabon Mataram kepada Pangeran Puger. Sesudah menerima pusaka itu, Sunan Amangkurat I memerintahkan Pangeran Puger untuk kembali ke Mataram.

Karena memiliki ambisi besar untuk menjadi raja, Raden Mas Sayidin tidak rela kalau tahta Mataram jatuh di tangan Pangeran Puger. Tanpa berpikir jauh, Raden Mas Sayidin meracun Sunan Amangkurat I. Sebelum meninggal, Sunan Amangkurat I meninggalkan beberapa pesan: pertama, keturunan Raden Mas Sayidin tidak akan menjadi raja di Mataram. Kedua, Raden Mas Sayidin dan keturunannya tidak boleh berziarah di makamnya. Ketiga, jenazah Sunan Amangkurat I hendaklah dimakamkan di tanah yang beraroma wangi (Tegal Arum). Keempat, hendaklah Raden Mas Sayidin berkerjasama dengan VOC untuk menangkap dan menghukum mati Trunajaya.

Sesudah menjalin kerjasama dengan VOC dan menobatkan diri sebagai raja di Tegal Arum bergelar Sunan  Amangkurat II, Raden Mas Sayidin memburu Trunaja di Madiun. Sesudah Trunaja berhasil ditangkap (1679) dan dihukum mati berkat bantuan VOC(1680), Sunan Amangkurat II mendirikan kerajaan yang pusat pemerintahannya berada di Kartasura. [Sri Wintala Achmad]