Mohon tunggu...
Sri Wintala Achmad
Sri Wintala Achmad Mohon Tunggu... Penulis - Biografi Sri Wintala Achmad

SRI WINTALA ACHMAD menulis puisi, cerpen, novel, filsafat dan budaya Jawa, serta sejarah. Karya-karya sastranya dimuat di media masa lokal, nasional, Malaysia, dan Australia; serta diterbitkan dalam berbagai antologi di tingkat daerah dan nasional. Nama kesastrawannya dicatat dalam "Buku Pintar Sastra Indonesia", susunan Pamusuk Eneste (Penerbit Kompas, 2001) dan "Apa dan Siapa Penyair Indonesia" (Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2017). Profil kesastrawanannya dicatat dalam buku: Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku (Balai Bahasa Yogyakarta, 2016); Jajah Desa Milang Kori (Balai Bahasa Yogyakarta, 2017); Menepis Sunyi Menyibak Batas (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018). Sebagai koordinator divisi sastra, Dewan Kesenian Cilacap periode 2017-2019.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen ǀ Rabiah yang Tertidur Tak Terbangun Lagi

14 Maret 2018   06:47 Diperbarui: 15 Maret 2018   23:46 1526
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: nanie.me

SEJAK lampu-lampu dinyalakan, Rabiah sudah selesai memasak dan membasuh tubuh rentanya di sumur belakang rumah. Sambil mendengarkan campursari yang dipancarkan oleh salah satu stasiun radio swasta, Rabiah menghabiskan makan malamnya di ruang dapur dekat rak piring.

Tak ada yang dilakukan Rabiah selepas senja, selain ingin menikmati malam pergantian tahun dari dalam ruang tidurnya. Rabiah membuka jendela kayu. Matanya menangkap beberapa bintang di antara gumpalan-gumpalan awan. Beberapa bintang yang mengingatkan kenangan terpendam di balik duabelas lapisan bulan.

***

Januari. Bersama rintik gerimis yang menyerupai taburan melati, Rabiah mempersembahkan air mata paling berharga kepada suaminya. Darto yang berpulang ke alam keabadian. Berkereta keranda yang dipanggul empat manusia berbaju putih. Diarak puluhan pelayat menuju makam yang tidak jauh dari rumahnya.

Betapa Rabiah merasa kehilangan atas kepergian Darto. Lelaki yang selama empatpuluh tahun menyerupai duri pelindung kemawarannya. Lelaki yang telah berulang kali menyemprotkan benih kasih di ladang rahimnya. Hingga lahirlah empat buah hati di permukaan bumi: Kandar, Rastam, Lindri, dan Bintari. "Darto, aku sangat mencintaimu!"

***

Pebruari. Rabiah terguncang jiwanya. Kandar yang telah diketahui sebagai teroris menjadi buron negara. Jiwa Rabiah semakin terguncang ketika mendengar berita lewat televisi tetangga. Berita itu menyatakan bahwa korban bom hasil kejahatan anak sulungnya yang menghancurkan salah satu hotel bintang lima di ibukota telah mencapai 513 orang: 199 laki-laki dewasa, 156 perempuan, dan selebihnya anak-anak. "Neraka bagimu, Kandar!"

***

Maret. Rabiah rajin berdoa saat tengah malam. Memohon kepada Tuhan atas keberhasilan anak-anaknya. "Ya Tuhan, wujudkan impian Rastam untuk menduduki jabatan pimpinan perusahaan milik Tuan Gapur. Pertemukan Lindri dengan jodohnya. Berikan kemudahan pada Bintari yang bekerja di negara tetangga untuk mendapatkan gaji banyak. Amin!"

***

April. Seperti flamboyan di musim kemarau, wajah Rabiah semburat merah. Kebahagiaan mengalir bersama darah dan napasnya. Doa Rabiah terkabulkan. Rastam diangkat sebagai pimpinan perusahaan milik Tuah Gapur. Lindri menemukan jodohnya. Bintari mengirimkan uang kepada emaknya itu cukup buat setahun. "Alkhamdulillah!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun